Perkara ini berawal dari keputusan pajak pada 1991 dan 2007 yang memungkinkan sebagian besar laba Apple di Eropa dialokasikan ke entitas Irlandia. Dalam beberapa tahun, tingkat pajak efektif yang dihasilkan dari pengaturan tersebut dilaporkan berada di bawah 1%. Putusan pengadilan tidak membenarkan hasil pajak historis itu hanya karena tarif pajak badan resmi Irlandia pada saat itu adalah 12,5%.
Laporan tersebut memperlihatkan pola lama dalam perencanaan pajak perusahaan multinasional. Pendapatan dari penjualan Apple di berbagai negara Eropa dapat menghasilkan laba yang secara hukum dibukukan melalui entitas Irlandia yang memegang atau mengelola hak kekayaan intelektual bernilai tinggi.
Perbandingan antara laba dan jumlah karyawan menunjukkan perbedaan yang mencolok. Apple melaporkan sekitar US$6 juta laba sebelum pajak untuk setiap 5.575 karyawan di Irlandia. Jumlah karyawan tersebut hanya sekitar 3% dari total tenaga kerja Apple. Di Jerman, sebagai pembanding, Apple memiliki 4.089 karyawan dan mencatat sekitar US$51.000 laba sebelum pajak per karyawan; pembayaran pajaknya di negara itu mencapai US$153 juta.
Angka ini tidak otomatis membuktikan adanya pelanggaran hukum. Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa lokasi pembukuan laba tidak selalu mengikuti jumlah karyawan atau tempat konsumen membeli produk. Kepemilikan aset tak berwujud—seperti teknologi, merek, dan hak kekayaan intelektual—serta cara laba dialokasikan di dalam grup perusahaan dapat memiliki pengaruh yang jauh lebih besar.
Apple Operations International, salah satu entitas utama Apple di Irlandia, melaporkan pembayaran pajak sebesar US$12,1 miliar pada tahun fiskal 2025. Jumlah itu termasuk sekitar US$1,4 miliar yang berkaitan dengan penerapan rezim pajak minimum 15% OECD dan Uni Eropa.
Dalam ukuran akuntansi yang digunakan laporan tersebut, tarif pajak efektif Apple di Irlandia tercatat 13,8%. Angka ini lebih tinggi daripada tarif nominal Irlandia sebesar 12,5%. Namun, tarif efektif tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan angka pembayaran tunai US$17,1 miliar karena pembayaran tunai itu mencakup pemulihan pajak historis dalam jumlah besar.
Pengungkapan Microsoft menunjukkan pola struktural yang sebanding. Operasi Microsoft di Irlandia membukukan laba sebelum pajak sekitar US$47,1 miliar, atau kira-kira 38% dari laba sebelum pajak globalnya, meskipun Irlandia hanya menampung sekitar 3% tenaga kerja perusahaan tersebut. Laporan Uni Eropa Microsoft untuk tahun fiskal 2025 menjadi sumber utama yang mengonfirmasi periode dan kerangka pelaporan ini.
Bagi Irlandia, struktur tersebut membawa keuntungan sekaligus risiko. Tarif pajak 12,5%, tenaga kerja berbahasa Inggris, akses ke pasar Uni Eropa, jaringan perjanjian pajak, dan sistem perpajakan perusahaan telah membantu negara itu menarik kantor pusat serta aktivitas yang berkaitan dengan kekayaan intelektual.
Akan tetapi, penerapan tarif minimum global 15% mengurangi keunggulan tarif bagi perusahaan multinasional terbesar. Kewajiban pelaporan publik berdasarkan negara juga membuat konsentrasi laba yang tidak lazim menjadi lebih mudah dilihat.
Risiko terbesar bagi Irlandia adalah konsentrasi penerimaan. Apple, Microsoft, dan Eli Lilly diperkirakan menyumbang sekitar 46% penerimaan pajak badan Irlandia pada 2024. Dengan demikian, Irlandia memperoleh pendapatan yang sangat besar, tetapi juga rentan terhadap restrukturisasi perusahaan, perubahan aturan pajak internasional, dan naik-turunnya laba dari segelintir perusahaan.
Apple pada dasarnya menggunakan argumen prinsip pajak yang umum: laba perusahaan seharusnya dikenai pajak di tempat aset, fungsi, risiko, dan kekayaan intelektual yang menghasilkan laba tersebut berada. Sementara itu, pajak pertambahan nilai dan pajak konsumsi lainnya dikenakan di tempat pelanggan membeli produk.
Perdebatan utamanya bukan soal ada atau tidaknya prinsip tersebut. Persoalannya adalah apakah kepemilikan kekayaan intelektual dan pengaturan antarentitas Apple membuat terlalu banyak laba tersisa dibukukan di Irlandia dibandingkan dengan lokasi karyawan, konsumen, serta aktivitas komersial yang menghasilkan pendapatan.
Laporan baru ini tidak berarti Apple tidak membayar pajak di Irlandia. Sebaliknya, Apple memang mencatat kontribusi pajak yang sangat besar di negara tersebut. Namun, angka US$17,1 miliar terutama terdorong oleh pembayaran satu kali terkait perkara pajak Uni Eropa.
Hal yang lebih penting adalah laporan tersebut memperlihatkan perbedaan tajam antara lokasi pembukuan laba dan lokasi karyawan serta konsumen Apple. Dengan kata lain, pengungkapan ini membuat geografi ekonomi bisnis Apple—yang sangat dipengaruhi oleh kepemilikan dan pengalokasian kekayaan intelektual—menjadi jauh lebih transparan.