Para mitra tersebut dapat membantu dari sisi distribusi, penerimaan pembayaran oleh pedagang, infrastruktur cloud dan AI, serta akses ke jalur perbankan dan aset kripto. Bukti yang tersedia mendukung keterlibatan Stripe, Coinbase, dan Cloudflare. Namun, bukti yang sama belum cukup untuk menjelaskan secara spesifik peran AP4M yang dijalankan Ripple, Solana Foundation, atau Polygon.
Dengan melibatkan banyak pemain, Mastercard tampaknya tidak ingin bertaruh pada satu platform AI, satu penerbit stablecoin, atau satu jaringan blockchain. Perusahaan justru berupaya menyediakan infrastruktur yang dapat menghubungkan berbagai jenis pengguna dan metode pembayaran.
Miebach menyampaikan pendekatan yang pragmatis terhadap stablecoin. Aset digital yang nilainya dipatok pada mata uang—umumnya dolar AS—dapat berguna untuk penyelesaian pembayaran segera dan transfer lintas negara, terutama ketika proses perbankan koresponden tradisional lebih lambat atau lebih mahal.
Posisi ini menempatkan stablecoin sebagai jalur pembayaran tambahan, bukan pengganti dolar AS dan bukan pula dukungan terhadap aset kripto spekulatif. Mastercard juga terus memperluas hubungan di bidang stablecoin dan aset digital.
Arah tersebut sejalan dengan keterlibatan Mastercard dalam inisiatif Open Standard. Konsorsium ini, yang menurut Reuters mencakup lebih dari 140 perusahaan termasuk Visa dan Coinbase, bertujuan memperluas penggunaan stablecoin untuk pembayaran. Jika dapat beroperasi secara interoperabel, kerangka seperti ini akan memberi agen terverifikasi pilihan penyelesaian lain tanpa memaksa Mastercard bergantung pada satu penerbit, blockchain, atau token.
Meski agentic commerce menjadi area pertumbuhan baru, pendapatan Mastercard saat ini masih ditopang bisnis pembayaran yang sudah berjalan. Pada kuartal II 2026, Mastercard membukukan pendapatan bersih sebesar US$9,3 miliar, naik 14% dibandingkan setahun sebelumnya, dengan laba bersih yang disesuaikan US$4,5 miliar dan laba per saham terdilusi yang disesuaikan sebesar US$5,04.
Reuters melaporkan bahwa kinerja tersebut terutama didorong oleh belanja konsumen yang stabil dan volume transaksi yang kuat, bukan oleh pendapatan besar dari perdagangan berbasis agen yang masih berada pada tahap awal. Namun, skala jaringan dan kapasitas investasi yang dimiliki Mastercard memberinya ruang untuk membangun infrastruktur sebelum permintaan pasar terbentuk sepenuhnya.
Inti strategi Mastercard adalah tetap hadir ketika bentuk pembayaran berubah. Konsumen mungkin menggunakan kartu, transfer antarrekening, kredensial yang ditokenisasi, stablecoin, atau agen AI otonom. Apa pun instrumennya, para pelaku transaksi tetap membutuhkan penerimaan global, verifikasi identitas, pengendalian penipuan, pengaturan izin, mekanisme sengketa, dan penyelesaian dana yang dapat diandalkan.
Karena itu, Agent Pay dan Agent Pay for Machines bukan sekadar upaya menambahkan fitur AI ke jaringan kartu. Keduanya merupakan taruhan bahwa masa depan pembayaran akan semakin otomatis dan beragam—tetapi kebutuhan akan kepercayaan, kontrol, dan infrastruktur yang menghubungkan banyak sistem akan tetap ada.