Per 21 Agustus 2026, Kremlin menggambarkan hubungan Armenia yang semakin dekat dengan Uni Eropa sebagai pilihan yang tidak kompatibel dengan keanggotaan di Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Rusia masih memiliki daya tekan: Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan bahkan meminta Vladimir Putin membantu menyelesaikan pembata...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How has Kremlin spokesman Dmitry Peskov framed Armenia’s growing Western orientation as a choice between closer ties with the European Union. Article summary: Peskov has framed Armenia’s Western turn as an ultimately incompatible institutional choice: deeper integration with the EU—or membership in the Moscow-led Eurasian Economic Union (EAEU)—rather than a durable ability to . Topic tags: general, news, general web, government. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menggambarkan pergeseran Armenia ke arah Barat sebagai persoalan institusional, bukan strategi menyeimbangkan hubungan luar negeri. Pada April, ia mengatakan Uni Eropa dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) berjalan dengan “sistem operasi” yang berbeda. Menurutnya, Armenia pada akhirnya harus memilih jika ingin memperdalam integrasi dengan Eropa.
Pesan itu kembali disampaikan Kremlin pada Agustus. Moskow menuduh kepemimpinan Armenia sengaja menempatkan negaranya di persimpangan antara Eropa dan EAEU.
Tekanan tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan posisi Rusia di Armenia. Namun, perkembangan sepanjang 2026 menunjukkan batas pengaruh Moskow: Rusia masih dapat menimbulkan biaya ekonomi bagi Yerevan, tetapi semakin sulit menentukan arah strategis negara itu.
Pada Mei dan Juni, Rusia memperkenalkan serta memperluas pembatasan terhadap sejumlah produk Armenia, termasuk brendi, anggur, air mineral, dan hasil pertanian. Moskow juga menciptakan hambatan bagi transit sebagian barang Armenia melalui wilayah Rusia.
Langkah-langkah itu muncul ketika Armenia mendorong hubungan yang lebih dekat dengan Uni Eropa. Tekanan ekonomi tersebut berjalan beriringan dengan desakan politik, termasuk seruan agar Armenia menggelar referendum untuk memilih antara mengejar keanggotaan Uni Eropa atau tetap berada di EAEU.
Dampaknya terhadap ekonomi cukup besar, meskipun angka yang tersedia menggambarkan penurunan dengan cakupan berbeda. Wakil Perdana Menteri Rusia Alexei Overchuk mengatakan perdagangan Rusia–Armenia turun sekitar dua pertiga dibandingkan 2025 dan diperkirakan masih akan terus menyusut. Sementara itu, data Armenia untuk Januari–Juni menunjukkan perdagangan bilateral turun 20,9% secara tahunan, dari US$3,326 miliar menjadi US$2,63 miliar.
Kedua angka tersebut tidak mesti bertentangan. Pernyataan Overchuk merupakan perkiraan yang lebih luas untuk 2026, sedangkan data Armenia hanya mencakup enam bulan pertama. Bersama-sama, keduanya menunjukkan kemerosotan tajam, meski belum menjadi satu ukuran final untuk dampak sepanjang tahun.
Bagi Moskow, pembatasan ini membuktikan bahwa Rusia masih mampu menghukum eksportir Armenia. Bagi Yerevan, kebijakan tersebut sekaligus memperlihatkan risiko ketergantungan pada satu pasar dominan—dan memberi pelaku usaha alasan kuat untuk mengalihkan perdagangan.
Ekspor Armenia ke negara-negara Uni Eropa mencapai US$516 juta pada paruh pertama 2026, naik 80% dari US$287 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan itu terjadi ketika Rusia secara bertahap membatasi impor buah, sayuran, herba, bunga, air mineral, minuman beralkohol, produk susu, dan hasil perikanan dari Armenia.
Perubahan ini tidak berarti pasar Eropa dapat langsung menggantikan Rusia. Pengalihan ekspor membutuhkan logistik, standar, pembeli, dan pembiayaan baru. Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa pembatasan Rusia tidak terjadi dalam ruang hampa. Armenia memiliki pasar besar lain yang dapat dituju, sementara Uni Eropa secara aktif membantu Yerevan memanfaatkannya.
Pada Juli, Brussels menjanjikan tambahan dukungan ekonomi senilai €18 juta dan melonggarkan sejumlah aturan ekspor bagi produk Armenia. Rencana Ketahanan dan Pertumbuhan Uni Eropa yang lebih luas bernilai €270 juta, dengan sasaran mendukung reformasi, investasi, serta kerja sama di sektor energi, transportasi, dan swasta. Komisi Eropa juga mengusulkan langkah liberalisasi perdagangan sementara bagi produk Armenia sebagai respons terhadap gangguan tersebut.
Terbentuklah lingkaran yang merugikan Rusia: semakin besar tekanan Moskow, semakin berharga bantuan Eropa bagi Armenia; dan semakin besar bantuan Eropa, semakin mudah Armenia bertahan dari tekanan Rusia.
Percakapan telepon Pashinyan dengan Putin pada Juli menegaskan bahwa Armenia belum memutus hubungan ekonominya dengan Rusia. Pashinyan meminta presiden Rusia itu membantu menyelesaikan pembatasan yang menghambat ekspor Armenia. Pada saat yang sama, ia menyatakan bahwa kebijakan tersebut melanggar perjanjian bilateral dan kerangka hukum EAEU.
Sikap ini lebih rumit daripada sekadar memutus hubungan geopolitik. Armenia berusaha mempertahankan akses ke pasar Rusia, tetapi menolak anggapan bahwa akses tersebut harus bergantung pada keselarasan politik dengan Moskow. Dengan merujuk pada aturan EAEU, Yerevan membingkai perselisihan ini sebagai pelanggaran komitmen kelembagaan—bukan menerima klaim Rusia bahwa integrasi Eropa membenarkan pembatasan dagang.
Permintaan Pashinyan kepada Putin karena itu memperlihatkan dua hal sekaligus:
Percakapan tersebut tidak langsung menyelesaikan sengketa ekspor. Pembatasan juga masih berlaku setelahnya.
Armenia juga mulai mencari jalan keluar dari keterisolasian regional, tidak hanya melalui Uni Eropa. Program pemerintahan Pashinyan untuk periode 2026–2031 mencakup normalisasi hubungan dengan Azerbaijan dan Turki.
Pejabat Armenia dan Turki menyebut dialog kedua negara telah mencapai tahap yang cukup maju untuk membuka peluang pembukaan perbatasan. Keduanya juga telah mengambil langkah menuju perdagangan yang lebih langsung.
Pembukaan hubungan Armenia–Turki yang lebih menyeluruh dapat menyediakan jalur transportasi dan koneksi komersial alternatif. Analis RANE menilai pencairan hubungan ini akan membantu Armenia mengurangi ketergantungan pada Rusia sampai batas tertentu, meski tekanan Rusia dapat membatasi proses tersebut.
Implikasinya penting. Pengaruh Rusia selama ini diperkuat bukan hanya oleh hubungan ekonomi Armenia dengan Moskow, tetapi juga oleh terbatasnya pilihan regional Armenia. Jika hubungan dengan Turki dan Azerbaijan membaik, Yerevan akan memiliki lebih banyak ruang untuk mendiversifikasi perdagangan dan konektivitasnya.
Hal itu tidak akan menghapus pengaruh Rusia, tetapi dapat mengurangi kemampuan Moskow untuk bertindak sebagai perantara yang tak tergantikan di kawasan.
Pesan Moskow agar Armenia “memilih” menciptakan dilema bagi Rusia sendiri. Jika Rusia membiarkan Armenia mengejar hubungan yang lebih dekat dengan Uni Eropa sambil tetap menjadi anggota EAEU, Moskow berisiko terlihat menerima model hubungan ganda yang selama ini dinyatakannya tidak kompatibel. Namun, jika Rusia mengeluarkan Armenia, keputusan itu akan meresmikan keretakan dan melepaskan salah satu saluran kelembagaan penting yang masih memberi Moskow pengaruh.
Karena itu, sejumlah analis menilai pengusiran penuh lebih kecil kemungkinannya dibandingkan kelanjutan hubungan yang tegang. Carnegie menilai pergeseran bertahap Armenia menuju Eropa akan berlanjut setelah kemenangan Pashinyan, tetapi tidak mungkin segera menghasilkan perpisahan dengan Rusia karena kedua pihak masih memperoleh manfaat dari kerja sama.
Di titik inilah pilihan Rusia semakin menyempit. Pembatasan dagang dapat merugikan produsen Armenia, tetapi juga membuat diversifikasi semakin mendesak. Ancaman politik dapat memaksa Yerevan merespons, tetapi sekaligus memperkuat alasan domestik untuk mengurangi ketergantungan pada Moskow. Sementara itu, mengeluarkan Armenia dari EAEU akan menghilangkan kerangka yang sedang coba digunakan Rusia sebagai alat pengaruh.
Framing Peskov dirancang untuk membuat pilihan Armenia tampak hitam-putih: Eropa atau EAEU. Sebaliknya, Armenia berusaha mempertahankan hubungan ekonomi yang sudah ada sambil mendekat ke Uni Eropa dan membuka jalur regional tambahan.
Strategi menyeimbangkan kedua arah ini mungkin tidak dapat bertahan selamanya. Sistem kepabeanan Uni Eropa dan EAEU memang secara struktural tidak kompatibel, sebagaimana juga dikatakan Putin. Namun, tekanan ekonomi Moskow justru dapat mempercepat kondisi yang memungkinkan Armenia mengambil keputusan yang lebih mandiri.
Rusia masih mampu membebankan biaya kepada Armenia, sedangkan masa depan jalur Eropa Yerevan tetap belum pasti. Hingga pemberitaan pada Juli, Armenia juga belum mengajukan permohonan resmi untuk menjadi anggota Uni Eropa.
Karena itu, posisi Rusia lebih tepat disebut bukan tidak relevan, melainkan semakin kurang efektif. Moskow masih memiliki instrumen tekanan, tetapi instrumen itu menjadi lebih mahal, kurang dapat diandalkan, dan semakin berpotensi mendorong sekutu lamanya menuju alternatif yang justru ingin ditolak Rusia.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Per 21 Agustus 2026, Kremlin menggambarkan hubungan Armenia yang semakin dekat dengan Uni Eropa sebagai pilihan yang tidak kompatibel dengan keanggotaan di Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).
Per 21 Agustus 2026, Kremlin menggambarkan hubungan Armenia yang semakin dekat dengan Uni Eropa sebagai pilihan yang tidak kompatibel dengan keanggotaan di Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Rusia masih memiliki daya tekan: Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan bahkan meminta Vladimir Putin membantu menyelesaikan pembatasan ekspor produk Armenia ke pasar Rusia.
Namun, pembatasan tersebut mendorong diversifikasi. Ekspor Armenia ke Uni Eropa naik 80% pada paruh pertama 2026, sementara perdagangan Armenia–Rusia turun tajam.