Studi yang dipimpin Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) memproyeksikan luas area Eropa yang terbakar setiap tahun meningkat dalam semua skenario iklim. Pada skenario emisi rendah dengan pemanasan sekitar 1,8°C, luas area terbakar diperkirakan naik sekitar 39% pada 2070–2100 dibandingkan rata rata saa...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What does the Global Change Biology study led by the Potsdam Institute for Climate Impact Research project about how Europe’s annual wildfir. Article summary: The PIK led study projects a substantial increase in Europe’s wildfire burden even with strong climate action—and a near tripling under high emissions.. Topic tags: general web, code, finance, health, education. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail
Studi baru yang dipublikasikan di jurnal Global Change Biology dan dipimpin Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) memberi gambaran serius tentang masa depan kebakaran hutan di Eropa. Bahkan jika dunia berhasil menekan emisi dengan kuat, area yang terbakar setiap tahun tetap diproyeksikan meningkat. Dalam skenario emisi tinggi, luasnya bisa hampir tiga kali lipat.
Pesan utama penelitian ini jelas: pengelolaan kebakaran yang lebih baik dapat mengurangi kerusakan, tetapi tidak akan mampu sepenuhnya mengimbangi pemanasan global yang tidak terkendali.
Para peneliti membandingkan rata-rata area terbakar pada periode acuan 2000–2030 dengan proyeksi untuk 2070–2100. Hasilnya sangat bergantung pada tingkat emisi dan pemanasan global:
Angka tersebut bukan berarti seluruh wilayah Eropa akan terbakar, melainkan menunjukkan kenaikan luas total lahan yang terdampak kebakaran setiap tahun berdasarkan simulasi iklim dan kondisi kebakaran.
Kawasan Mediterania—termasuk negara-negara di Eropa selatan—diperkirakan tetap menjadi titik api utama. Suhu yang lebih tinggi dan kondisi yang lebih kering akan memperparah iklim yang memang sudah rentan terhadap kebakaran.
Namun, risikonya tidak berhenti di selatan. Eropa Barat dan Eropa Tengah, yang secara historis lebih jarang menghadapi kebakaran besar, juga diperkirakan mengalami peningkatan paparan. Kombinasi suhu tinggi, defisit kelembapan tanah, dan angin dapat mengeringkan vegetasi sehingga api lebih mudah menyala dan menyebar dengan cepat.
Dengan kata lain, perubahan iklim berpotensi memperluas wilayah yang harus bersiap menghadapi kebakaran ekstrem—termasuk daerah yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman atau infrastruktur pemadaman sebesar kawasan Mediterania.
Proyeksi jangka panjang tersebut muncul ketika Eropa tengah menghadapi musim kebakaran yang berat. Hingga 19 Agustus 2026, kebakaran telah menghanguskan 616.202 hektare di Eropa. Luas ini lebih dari dua kali rata-rata periode 2006–2025 pada waktu yang sama, meski masih berada di bawah angka luar biasa pada 2025.
Musim kebakaran Uni Eropa pada 2025 tercatat sebagai yang terburuk dalam sejarah pencatatan, dengan 1.079.538 hektare terbakar.
Dampaknya juga terasa secara ekonomi. Pada awal Agustus 2026, sejumlah perkiraan menempatkan total biaya kebakaran musim panas di kisaran €15,6 miliar hingga €19,1 miliar. Angka ini masih bersifat awal dan dapat berbeda karena cakupan serta metode perhitungannya tidak sama.
Sebagai pembanding, Komisi Eropa memperkirakan kerusakan properti dan infrastruktur akibat kebakaran hutan mencapai sekitar €2,5 miliar per tahun di Uni Eropa. Perkiraan tersebut belum sepenuhnya mencakup kerugian yang lebih luas terhadap kesehatan, ekosistem, pertanian, hutan, dan pariwisata.
Penanganan kebakaran tidak hanya berarti mengirim lebih banyak armada setelah api membesar. Investasi sebelum kebakaran terjadi dapat membantu mencegah titik api berubah menjadi bencana besar, antara lain melalui:
Jika api dapat ditemukan dan dikendalikan lebih cepat, luas lahan yang terbakar bisa dibatasi. Langkah tersebut berpotensi menghindarkan pemerintah dan masyarakat dari biaya pembangunan kembali, pembersihan puing, pemulihan lahan, serta kerugian ekonomi yang jauh lebih besar. Uni Eropa sendiri mendorong pengelolaan risiko kebakaran terpadu dan pengelolaan bahan bakar vegetasi yang berkelanjutan.
Dalam kombinasi ekstrem antara panas, kekeringan, dan angin, kebakaran dapat bergerak terlalu cepat, terlalu intens, dan terlalu luas untuk ditangani oleh sistem yang dirancang berdasarkan kondisi masa lalu.
Karena itu, para peneliti menekankan dua jalur tindakan sekaligus. Negara-negara perlu memperkuat kesiapsiagaan dan pencegahan yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Pada saat yang sama, emisi gas rumah kaca harus dipangkas secara tajam agar peningkatan cuaca ekstrem pemicu kebakaran tidak terus berlanjut.
Adaptasi dapat mengurangi dampak, tetapi tidak bisa diandalkan untuk mengatasi seluruh konsekuensi dari pemanasan yang semakin tinggi.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Studi yang dipimpin Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) memproyeksikan luas area Eropa yang terbakar setiap tahun meningkat dalam semua skenario iklim.
Studi yang dipimpin Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) memproyeksikan luas area Eropa yang terbakar setiap tahun meningkat dalam semua skenario iklim. Pada skenario emisi rendah dengan pemanasan sekitar 1,8°C, luas area terbakar diperkirakan naik sekitar 39% pada 2070–2100 dibandingkan rata rata saat ini.
Mediterania tetap menjadi titik rawan utama, tetapi Eropa Barat dan Tengah juga menghadapi risiko yang lebih besar ketika panas, kekeringan tanah, dan angin mengeringkan bahan bakar kebakaran serta mempercepat penjala...