Pada saat yang sama, pengumuman Departemen Keuangan Amerika Serikat (Treasury) membantu meredakan tekanan di pasar obligasi pemerintah berjangka panjang. Kombinasi kedua perkembangan itu menghasilkan pergerakan pasar yang tidak biasa: harga minyak naik karena risiko geopolitik dan pasokan, sedangkan imbal hasil obligasi Treasury yang lebih rendah serta permintaan terhadap aset lindung nilai mendukung emas dan Bitcoin.
UEA mengatakan sistem pertahanan udaranya mendeteksi dua rudal balistik yang diluncurkan dari Iran. Dalam penilaian berikutnya, rudal tersebut disebut diarahkan ke lalu lintas maritim. Keduanya jatuh ke laut, menurut keterangan UEA. Kementerian luar negeri Iran menolak tuduhan itu sebagai klaim yang tidak berdasar.
UEA kemudian menangguhkan perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran sampai pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan ini menutup salah satu jalur komersial dan finansial penting bagi Teheran, sekaligus menunjukkan bahwa konflik regional mulai memengaruhi hubungan ekonomi yang tetap signifikan meski kedua negara memiliki ketegangan politik.
Embargo tersebut tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan ditutup. Namun, langkah itu meningkatkan persepsi pasar terhadap kemungkinan eskalasi lanjutan di sekitar jalur air yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia. Laporan bahwa lalu lintas kapal masih rendah—meski Presiden Donald Trump menyatakan selat itu telah terbuka—juga memperlihatkan perbedaan antara pernyataan politik dan keyakinan operasional pelaku pasar.
Bagi Iran, penghentian hubungan ekonomi tanpa batas waktu berpotensi mengganggu lebih dari sekadar perdagangan bilateral biasa. Penyelesaian pembayaran, akses ke sistem keuangan, dan pergerakan barang dapat menjadi lebih sulit. Meski demikian, laporan yang tersedia belum menghitung nilai perdagangan yang hilang atau merinci seluruh jalur transaksi yang terdampak.
Harga minyak mentah menguat ketika investor mempertimbangkan kemungkinan insiden militer tambahan menunda atau membatasi pengiriman energi. Kenaikan ini mencerminkan premi risiko, bukan kepastian bahwa Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya.
Dalam salah satu snapshot pasar, minyak mentah diperdagangkan di sekitar 88,25 dolar AS per barel, naik 2,82%. Laporan lain mencatat harga dan persentase perubahan yang berbeda karena diambil pada waktu yang berbeda.
Jika gangguan pelayaran berlanjut, biaya pengiriman energi dan risiko inflasi dapat meningkat. Sebaliknya, pembukaan kembali Hormuz yang terverifikasi dapat dengan cepat mengurangi premi risiko minyak. Karena itu, pasar tidak hanya memantau harga minyak, tetapi juga jumlah kapal yang benar-benar melintas dan kemampuan perusahaan pelayaran memperoleh perlindungan asuransi.
Pada 19 Agustus, Treasury AS mengumumkan bahwa ukuran operasi pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang akan dinaikkan dari maksimum 2 miliar dolar AS menjadi sedikitnya 4 miliar dolar AS per operasi. Perubahan itu dijadwalkan mulai berlaku pada 9 September dan diperkirakan menambah sedikitnya 14 miliar dolar AS pembelian kembali selama kuartal berjalan. Sasaran utamanya adalah surat utang Treasury dengan durasi lebih panjang.
Pengumuman tersebut muncul setelah imbal hasil obligasi jangka panjang naik ke level yang sangat tinggi. Imbal hasil Treasury 30 tahun turun hampir 10 basis poin menjadi sekitar 5,187%, sementara imbal hasil Treasury 10 tahun juga turun tajam dalam reaksi awal pasar.
Buyback berarti Treasury membeli kembali sebagian obligasi yang sudah beredar. Langkah ini dapat membantu likuiditas dan memberi sinyal bahwa pemerintah bersedia meredam pergerakan pasar yang tidak teratur. Namun, nilainya tetap kecil dibandingkan total pasar Treasury dan tidak menghapus beban utang pemerintah AS.
Imbal hasil jangka panjang yang lebih rendah biasanya mendukung aset yang tidak menghasilkan pendapatan bunga, seperti emas. Kondisi finansial yang lebih longgar juga dapat mendorong investor menambah eksposur ke aset yang sensitif terhadap likuiditas, termasuk Bitcoin. Inilah salah satu alasan emas dan Bitcoin menguat bersamaan, meski karakter keduanya sangat berbeda.
Snapshot pasar yang tersedia menunjukkan:
Laporan intraday terpisah mencatat kenaikan emas sekitar 4% dan harga sempat menguji sekitar 4.527 dolar AS. Perbedaan angka tersebut tidak selalu bertentangan karena bergantung pada waktu pengukuran, jenis instrumen, dan snapshot pasar yang digunakan.
Emas mendapat dukungan dari beberapa faktor sekaligus: kebutuhan lindung nilai terhadap risiko geopolitik, kekhawatiran inflasi akibat energi yang lebih mahal, dan penurunan imbal hasil Treasury. Bitcoin juga diuntungkan oleh persepsi likuiditas yang membaik setelah pembalikan pasar obligasi, selain ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik.
Namun, pergerakan bersama ini bukan bukti bahwa Bitcoin telah menjadi aset safe haven yang andal. Emas memiliki peran defensif yang lebih mapan, sedangkan Bitcoin cenderung jauh lebih volatil dan dapat bergerak mengikuti likuiditas serta posisi spekulatif. Bukti yang tersedia menunjukkan adanya tumpang tindih pendorong dalam jangka pendek, bukan korelasi permanen atau hubungan yang selalu presisi antara Bitcoin dan emas.
Federal Reserve mempertahankan suku bunga kebijakan pada kisaran 3,50%–3,75% dalam rapat 28–29 Juli. Keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara 9–3.
Notulen rapat menunjukkan bahwa para pejabat berbeda pandangan mengenai keseimbangan antara inflasi dan aktivitas ekonomi. Beberapa pejabat sudah siap menaikkan suku bunga, sementara banyak lainnya menilai pengetatan dapat diperlukan jika inflasi tidak kembali menuju target 2% The Fed.
Pesan ini membatasi daya tahan reli pasar. Penurunan imbal hasil Treasury dan meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai memang mendukung emas serta Bitcoin dalam jangka pendek. Namun, inflasi yang terus tinggi dapat memicu respons moneter yang berlawanan: suku bunga kebijakan lebih tinggi, kondisi finansial lebih ketat, dan tekanan baru terhadap aset yang bergantung pada likuiditas berlimpah.
Presiden Trump mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan bersikeras bahwa Selat Hormuz terbuka. Pernyataan itu bertentangan dengan posisi Teheran yang menyebut jalur tersebut masih tertutup bagi pelayaran.
Perbedaan klaim ini penting bagi pasar. Kemajuan diplomatik dapat segera menurunkan premi risiko minyak, memulihkan kepercayaan perusahaan pelayaran, dan mengurangi kekhawatiran bahwa inflasi energi akan memaksa The Fed memperketat kebijakan. Sebaliknya, serangan yang terverifikasi, embargo berkepanjangan, atau bukti gangguan pelayaran yang terus berlangsung dapat memperkuat posisi defensif investor.
Perhatian pasar kini tertuju bukan hanya pada perubahan harga dalam satu hari, melainkan pada apakah guncangan tersebut akan bertahan. Beberapa faktor yang paling penting adalah:
Reli emas dan Bitcoin pada akhirnya dipicu oleh beberapa kekuatan yang saling berinteraksi, bukan oleh satu transaksi safe haven yang sederhana. Eskalasi UEA-Iran meningkatkan risiko geopolitik dan minyak; pengumuman buyback Treasury menekan imbal hasil jangka panjang serta memperbaiki sentimen likuiditas; sementara notulen The Fed mengingatkan bahwa inflasi masih dapat mendorong kebijakan yang lebih ketat. Selama Iran tetap membantah tuduhan rudal dan status Selat Hormuz masih diperdebatkan, arah pasar berikutnya akan lebih bergantung pada verifikasi di lapangan daripada sekadar tajuk berita.
Pada saat yang sama, pengumuman Departemen Keuangan Amerika Serikat (Treasury) membantu meredakan tekanan di pasar obligasi pemerintah berjangka panjang. Kombinasi kedua perkembangan itu menghasilkan pergerakan pasar yang tidak biasa: harga minyak naik karena risiko geopolitik dan pasokan, sedangkan imbal hasil obligasi Treasury yang lebih rendah serta permintaan terhadap aset lindung nilai mendukung emas dan Bitcoin.
UEA mengatakan sistem pertahanan udaranya mendeteksi dua rudal balistik yang diluncurkan dari Iran. Dalam penilaian berikutnya, rudal tersebut disebut diarahkan ke lalu lintas maritim. Keduanya jatuh ke laut, menurut keterangan UEA. Kementerian luar negeri Iran menolak tuduhan itu sebagai klaim yang tidak berdasar.
UEA kemudian menangguhkan perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran sampai pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan ini menutup salah satu jalur komersial dan finansial penting bagi Teheran, sekaligus menunjukkan bahwa konflik regional mulai memengaruhi hubungan ekonomi yang tetap signifikan meski kedua negara memiliki ketegangan politik.
Embargo tersebut tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan ditutup. Namun, langkah itu meningkatkan persepsi pasar terhadap kemungkinan eskalasi lanjutan di sekitar jalur air yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia. Laporan bahwa lalu lintas kapal masih rendah—meski Presiden Donald Trump menyatakan selat itu telah terbuka—juga memperlihatkan perbedaan antara pernyataan politik dan keyakinan operasional pelaku pasar.
Bagi Iran, penghentian hubungan ekonomi tanpa batas waktu berpotensi mengganggu lebih dari sekadar perdagangan bilateral biasa. Penyelesaian pembayaran, akses ke sistem keuangan, dan pergerakan barang dapat menjadi lebih sulit. Meski demikian, laporan yang tersedia belum menghitung nilai perdagangan yang hilang atau merinci seluruh jalur transaksi yang terdampak.
Harga minyak mentah menguat ketika investor mempertimbangkan kemungkinan insiden militer tambahan menunda atau membatasi pengiriman energi. Kenaikan ini mencerminkan premi risiko, bukan kepastian bahwa Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya.
Dalam salah satu snapshot pasar, minyak mentah diperdagangkan di sekitar 88,25 dolar AS per barel, naik 2,82%. Laporan lain mencatat harga dan persentase perubahan yang berbeda karena diambil pada waktu yang berbeda.
Jika gangguan pelayaran berlanjut, biaya pengiriman energi dan risiko inflasi dapat meningkat. Sebaliknya, pembukaan kembali Hormuz yang terverifikasi dapat dengan cepat mengurangi premi risiko minyak. Karena itu, pasar tidak hanya memantau harga minyak, tetapi juga jumlah kapal yang benar-benar melintas dan kemampuan perusahaan pelayaran memperoleh perlindungan asuransi.
Pada 19 Agustus, Treasury AS mengumumkan bahwa ukuran operasi pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang akan dinaikkan dari maksimum 2 miliar dolar AS menjadi sedikitnya 4 miliar dolar AS per operasi. Perubahan itu dijadwalkan mulai berlaku pada 9 September dan diperkirakan menambah sedikitnya 14 miliar dolar AS pembelian kembali selama kuartal berjalan. Sasaran utamanya adalah surat utang Treasury dengan durasi lebih panjang.
Pengumuman tersebut muncul setelah imbal hasil obligasi jangka panjang naik ke level yang sangat tinggi. Imbal hasil Treasury 30 tahun turun hampir 10 basis poin menjadi sekitar 5,187%, sementara imbal hasil Treasury 10 tahun juga turun tajam dalam reaksi awal pasar.
Buyback berarti Treasury membeli kembali sebagian obligasi yang sudah beredar. Langkah ini dapat membantu likuiditas dan memberi sinyal bahwa pemerintah bersedia meredam pergerakan pasar yang tidak teratur. Namun, nilainya tetap kecil dibandingkan total pasar Treasury dan tidak menghapus beban utang pemerintah AS.
Imbal hasil jangka panjang yang lebih rendah biasanya mendukung aset yang tidak menghasilkan pendapatan bunga, seperti emas. Kondisi finansial yang lebih longgar juga dapat mendorong investor menambah eksposur ke aset yang sensitif terhadap likuiditas, termasuk Bitcoin. Inilah salah satu alasan emas dan Bitcoin menguat bersamaan, meski karakter keduanya sangat berbeda.
Snapshot pasar yang tersedia menunjukkan:
Laporan intraday terpisah mencatat kenaikan emas sekitar 4% dan harga sempat menguji sekitar 4.527 dolar AS. Perbedaan angka tersebut tidak selalu bertentangan karena bergantung pada waktu pengukuran, jenis instrumen, dan snapshot pasar yang digunakan.
Emas mendapat dukungan dari beberapa faktor sekaligus: kebutuhan lindung nilai terhadap risiko geopolitik, kekhawatiran inflasi akibat energi yang lebih mahal, dan penurunan imbal hasil Treasury. Bitcoin juga diuntungkan oleh persepsi likuiditas yang membaik setelah pembalikan pasar obligasi, selain ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik.
Namun, pergerakan bersama ini bukan bukti bahwa Bitcoin telah menjadi aset safe haven yang andal. Emas memiliki peran defensif yang lebih mapan, sedangkan Bitcoin cenderung jauh lebih volatil dan dapat bergerak mengikuti likuiditas serta posisi spekulatif. Bukti yang tersedia menunjukkan adanya tumpang tindih pendorong dalam jangka pendek, bukan korelasi permanen atau hubungan yang selalu presisi antara Bitcoin dan emas.
Federal Reserve mempertahankan suku bunga kebijakan pada kisaran 3,50%–3,75% dalam rapat 28–29 Juli. Keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara 9–3.
Notulen rapat menunjukkan bahwa para pejabat berbeda pandangan mengenai keseimbangan antara inflasi dan aktivitas ekonomi. Beberapa pejabat sudah siap menaikkan suku bunga, sementara banyak lainnya menilai pengetatan dapat diperlukan jika inflasi tidak kembali menuju target 2% The Fed.
Pesan ini membatasi daya tahan reli pasar. Penurunan imbal hasil Treasury dan meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai memang mendukung emas serta Bitcoin dalam jangka pendek. Namun, inflasi yang terus tinggi dapat memicu respons moneter yang berlawanan: suku bunga kebijakan lebih tinggi, kondisi finansial lebih ketat, dan tekanan baru terhadap aset yang bergantung pada likuiditas berlimpah.
Presiden Trump mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan bersikeras bahwa Selat Hormuz terbuka. Pernyataan itu bertentangan dengan posisi Teheran yang menyebut jalur tersebut masih tertutup bagi pelayaran.
Perbedaan klaim ini penting bagi pasar. Kemajuan diplomatik dapat segera menurunkan premi risiko minyak, memulihkan kepercayaan perusahaan pelayaran, dan mengurangi kekhawatiran bahwa inflasi energi akan memaksa The Fed memperketat kebijakan. Sebaliknya, serangan yang terverifikasi, embargo berkepanjangan, atau bukti gangguan pelayaran yang terus berlangsung dapat memperkuat posisi defensif investor.
Perhatian pasar kini tertuju bukan hanya pada perubahan harga dalam satu hari, melainkan pada apakah guncangan tersebut akan bertahan. Beberapa faktor yang paling penting adalah:
Reli emas dan Bitcoin pada akhirnya dipicu oleh beberapa kekuatan yang saling berinteraksi, bukan oleh satu transaksi safe haven yang sederhana. Eskalasi UEA-Iran meningkatkan risiko geopolitik dan minyak; pengumuman buyback Treasury menekan imbal hasil jangka panjang serta memperbaiki sentimen likuiditas; sementara notulen The Fed mengingatkan bahwa inflasi masih dapat mendorong kebijakan yang lebih ketat. Selama Iran tetap membantah tuduhan rudal dan status Selat Hormuz masih diperdebatkan, arah pasar berikutnya akan lebih bergantung pada verifikasi di lapangan daripada sekadar tajuk berita.