Robinhood tidak hanya membangun jaringan untuk aktivitas kripto. Perusahaan tersebut memosisikan Robinhood Chain sebagai infrastruktur finansial yang dapat digunakan pengembang untuk membangun produk, aplikasi DeFi, dan layanan berbasis aset dunia nyata. Kehadiran protokol seperti Uniswap dan berbagai penyedia infrastruktur menjadi bagian dari strategi untuk membentuk ekosistem terbuka, bukan sekadar fitur tambahan di aplikasi broker.
Contoh utama visi Robinhood adalah Stock Token. Pengguna yang memenuhi syarat dapat mengakses lebih dari 190 token yang terkait dengan perusahaan dan ETF, termasuk Nvidia, Google, Apple, dan Invesco QQQ.
Namun, ada perbedaan penting yang sering luput: Stock Token tersebut bukan kepemilikan langsung atas saham yang mendasarinya. Robinhood menjelaskannya sebagai sekuritas utang yang ditokenisasi, yang memberikan eksposur ekonomi terhadap saham atau ETF terkait. Token itu tidak memberikan hak hukum, hak manfaat, atau hak suara sebagai pemegang saham pada aset dasarnya.
Produk ini juga tidak tersedia bagi warga atau subjek hukum Amerika Serikat, meskipun Robinhood Chain sendiri bersifat permissionless. Ketersediaan Stock Token, fitur Robinhood Wallet, dan produk terkait dapat berbeda secara signifikan menurut negara dan yurisdiksi.
Dalam sistem tradisional, perdagangan saham memiliki jam operasional dan proses penyelesaian yang melibatkan sejumlah lembaga. Tokenisasi berpotensi membuat aset dapat diprogram, dipindahkan, dan digunakan sebagai bagian dari aplikasi kapan saja.
Secara teori, satu aset yang sama dapat diperdagangkan, dijadikan agunan, ditukar, atau dipinjamkan dalam ekosistem yang saling terhubung. Itulah sebabnya visi Robinhood lebih besar daripada sekadar menyediakan daftar saham tokenisasi. Perusahaan ini ingin membangun tempat di mana produk keuangan dan protokol pihak ketiga dapat berinteraksi dalam satu sistem yang composable—layanan baru dapat dirangkai dari komponen yang sudah ada.
Model seperti Robinhood Earn juga menggambarkan arah tersebut. Jika layanan pinjaman USDG yang didukung Morpho tersedia bagi pelanggan Amerika Serikat yang memenuhi syarat, pengguna melihat pengalaman yang lebih familiar di sisi depan, sementara likuiditas pinjaman dan sebagian fungsi penyelesaian berjalan secara on-chain di belakangnya. Namun, kelayakan pengguna dan ketersediaan produk tetap bergantung pada aturan wilayah masing-masing.
Robinhood Chain mencatat pertumbuhan awal yang mencolok. Berbagai laporan menempatkan total value locked (TVL)—nilai aset yang dikunci dalam protokol jaringan—di sekitar atau di atas US$450 juta, dengan volume DEX kumulatif sekitar US$9 miliar tidak lama setelah peluncuran. Perkiraan berikutnya menempatkan TVL di atas US$540 juta.
Akan tetapi, angka tersebut tidak sama dengan US$9 miliar volume perdagangan saham tokenisasi. Laporan mengenai aktivitas jaringan menunjukkan bahwa aset dunia nyata yang ditokenisasi hanya menjadi bagian kecil dari keseluruhan aktivitas. Stablecoin dan memecoin menyumbang porsi besar, terutama pada fase awal pertumbuhan jaringan.
Data lain bahkan menunjukkan nilai RWA aktif sekitar US$70 juta pada akhir Juli—meningkat tajam, tetapi masih hanya sebagian kecil dari total aktivitas jaringan. Pada saat yang sama, memecoin dan stablecoin tetap mendominasi komposisi kegiatan.
Perkembangan berikutnya juga memperlihatkan dilema yang sama: TVL meningkat hingga lebih dari US$540 juta, sedangkan RWA yang ditokenisasi mencapai sekitar US$32 juta atau sekitar 6% dari total TVL. Jadi, pertumbuhan jaringan memang nyata, tetapi belum otomatis membuktikan bahwa saham tokenisasi telah menjadi mesin utama Robinhood Chain.
Robinhood berupaya mengubah Chain menjadi platform bagi pengembang. Integrasi dengan dompet, jembatan, bursa, penyedia likuiditas, serta protokol pinjaman dimaksudkan untuk memperluas fungsi jaringan di luar produk broker Robinhood sendiri. Uniswap diumumkan sebagai salah satu mitra awal yang menyiapkan AMM khusus sebagai sumber likuiditas publik.
Pendekatan ini menempatkan Robinhood Chain di tengah persaingan jaringan Layer 2 lain. Kecepatan transaksi, biaya rendah, distribusi melalui Robinhood Wallet, dan fokus pada aset dunia nyata menjadi pembeda yang ingin ditonjolkan perusahaan. Namun, jaringan harus membuktikan bahwa pengguna dan likuiditasnya dapat bertahan setelah euforia peluncuran mereda.
Risiko lainnya adalah konsentrasi aktivitas pada aset spekulatif, termasuk memecoin seperti CASHCAT. Volume besar dapat menunjukkan minat dan likuiditas, tetapi belum tentu menunjukkan adopsi layanan keuangan yang berkelanjutan. Jaringan juga perlu menjawab pertanyaan mengenai perlindungan investor, struktur penerbitan token, kepatuhan regulasi, dan ketergantungan pada infrastruktur tertentu.
Robinhood Chain memperlihatkan bentuk praktis dari taruhan Tenev: keuangan dapat menjadi selalu aktif, terprogram, global, dan tersusun dari berbagai layanan yang bisa saling berinteraksi.
Sejauh ini, metrik awal menunjukkan distribusi pengguna dan permintaan spekulatif yang kuat. Namun, bukti tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa saham tokenisasi sudah menjadi pendorong dominan jaringan. Masa depan tesis ini akan bergantung pada penerbitan aset teregulasi, perlindungan investor yang nyata, likuiditas yang bertahan, serta kemampuan produk tokenisasi menawarkan manfaat yang lebih besar daripada jalur broker konvensional.
Jadi, “supercycle” yang dimaksud Tenev bukan hanya tentang memindahkan saham ke blockchain. Ini adalah taruhan bahwa seluruh pipa—cara aset diterbitkan, dimiliki, diperdagangkan, dipinjamkan, dan diselesaikan—pada akhirnya dapat dibangun ulang di atas jaringan on-chain.