ORBIT, singkatan dari origami-rotor-based imaging and tracking, menggunakan rotor DNA origami berfluoresensi untuk memperbesar gerakan rotasi kecil yang terjadi selama interaksi protein–DNA. Alih-alih mencoba mengukur langsung rotasi kecil DNA atau polimerase, peneliti memasang struktur rotor yang jauh lebih besar, lalu melacak gerak fluoresennya pada tingkat molekul tunggal.
Dalam penerapan awal untuk transkripsi, ORBIT mendeteksi langkah-langkah rotasi yang sesuai dengan pelepasan lilitan setiap pasangan basa. Teknik ini mampu melakukan pelacakan dalam skala milidetik dan memecahkan rotasi sekitar 34,6 derajat untuk satu pasangan basa.
Detail mekanis seperti ini tidak bisa diperoleh hanya dari pengukuran keterikatan biasa. Pengukuran waktu tinggal dapat menunjukkan bahwa enzim tetap berasosiasi dengan DNA, sedangkan pengukuran berbasis rotor dapat mengungkap apakah gerakannya berlangsung bertahap, berputar, berhenti sementara, atau mundur selama transkripsi.
Keterbatasan utama penanda fluoresen permanen adalah photobleaching: ketika zat pewarna kehilangan fluoresensinya, zat itu tidak lagi dapat melaporkan gerakan molekul. Dye-cycling ORBIT mengatasi masalah ini dengan menempatkan sekuens docking DNA untai tunggal—ibarat “landasan pendaratan” fluoresen—pada rotor DNA origami.
Oligonukleotida berlabel pewarna yang berukuran pendek dapat berikatan dengan sekuens tersebut dari larutan, memancarkan sinyal, melepaskan diri, lalu digantikan oleh probe baru. Karena penanda fluoresen terus diperbarui, rotor dapat diamati jauh lebih lama. Metode ini dikembangkan untuk melacak interaksi protein–DNA melampaui rentang pengamatan yang biasanya hanya berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit, dan telah mendemonstrasikan pengamatan lebih dari 10 menit sambil mempertahankan pembacaan pada skala pasangan basa.
Dalam eksperimen transkripsi, peneliti dapat mengikuti rotasi RNA polimerase E. coli dalam waktu yang lebih panjang. Hasilnya bukan hanya rekaman yang lebih lama; durasi tambahan meningkatkan peluang menangkap peristiwa langka seperti jeda, gerak mundur (backstepping), dan perpindahan di antara keadaan mekanis.
Kedua metode bekerja pada skala eksperimen yang berbeda:
Bukti yang tersedia menggambarkan penerapan dye-cycling ORBIT pada transkripsi sebagai pengukuran molekul tunggal dalam sistem DNA–polimerase yang terkontrol, bukan pelacakan langsung Pol II eukariotik secara waktu nyata di dalam sel hidup. Pembedaan ini penting: belum tepat menyatakan bahwa ORBIT telah menggabungkan pembacaan mekanisnya dengan pencitraan Pol II eukariotik di dalam sel.
Namun, kedua teknik tersebut membuka kemungkinan untuk digabungkan pada masa depan. Pengukuran di sel hidup dapat menunjukkan kapan Pol II memasuki, berhenti sementara di dalam, atau meninggalkan keadaan transkripsi produktif. Reporter mekanis yang mampu bertahan lebih lama kemudian dapat membantu menjelaskan gerakan molekuler di balik keadaan-keadaan itu—jika strategi pelabelannya kelak dapat disesuaikan dengan kompleksitas dan keterbatasan inti sel eukariotik.
Selama ini, transkripsi dipelajari dengan menggabungkan berbagai “potret” pelengkap: reaksi biokimia dengan komponen murni, metode struktural seperti mikroskopi elektron kriogenik, analisis genom berskala populasi, dan pencitraan fluoresen. Pendekatan baru ini menambahkan informasi molekul tunggal yang dapat ditelusuri dari waktu ke waktu.
Pelacakan Pol II di dalam sel hidup menunjukkan bahwa keterlibatan produktif bukanlah hasil otomatis dari setiap pertemuan dengan kromatin. Di sisi lain, dye-cycling ORBIT menunjukkan bahwa amplifikasi menggunakan DNA origami dan probe fluoresen yang dapat diganti dapat memperpanjang pengamatan mekanika polimerase melampaui masa hidup zat pewarna konvensional.
Tujuan jangka panjangnya adalah memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang regulasi gen—gambaran yang menghubungkan konteks sel, kinetika pengikatan, gerak mekanis, jeda, dan pemanjangan transkripsi dalam satu rangkaian molekuler. Untuk saat ini, kesimpulan paling kuat bukanlah klaim sensasional, melainkan hubungan yang saling melengkapi: satu metode mengungkap kapan Pol II berinteraksi dengan genom di dalam sel hidup, sedangkan metode lainnya menunjukkan bagaimana polimerase bergerak di sepanjang DNA cukup lama untuk memperlihatkan peristiwa mekanis yang langka.