Treasury AS menaikkan batas buyback obligasi jangka panjang dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi untuk mendukung likuiditas pasar. Langkah ini diumumkan setelah yield obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun menembus 5,30%, mendekati level tertinggi dalam sekitar 19 tahun.
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How did the U.S. Treasury’s decision to at least double the per operation cap on long dated bond buybacks from $2 billion to $4 billion affe. Article summary: Treasury’s enlarged long bond buybacks immediately eased longer dated Treasury yields and weakened the dollar; the dollar index fell 0.75% to 98.90.. Topic tags: general web, workflow, regulation, benchmarks, growth. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumb
Keputusan Departemen Keuangan Amerika Serikat atau Treasury untuk memperbesar operasi pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang langsung meredakan tekanan di pasar obligasi. Yield Treasury tenor panjang turun, sedangkan dolar melemah.
Indeks dolar turun 0,75% menjadi 98,90. Yen juga menguat terhadap dolar karena penurunan yield AS mengurangi keunggulan imbal hasil yang biasanya membuat aset berdenominasi dolar lebih menarik.
Treasury menaikkan batas operasi buyback untuk surat utang bertenor panjang dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi. Kebijakan ini berlaku mulai 9 September hingga 4 November.
Langkah tersebut diumumkan sehari setelah yield obligasi Treasury bertenor 30 tahun menembus 5,30%—level yang berada di sekitar titik tertinggi dalam 19 tahun. Kenaikan tajam di ujung panjang kurva yield itu membuat investor global khawatir terhadap tekanan jual dan menurunnya likuiditas pasar.
Menurut Treasury, buyback ditujukan untuk mendukung likuiditas surat utang jangka panjang yang memiliki basis investor kuat. Nilainya memang kecil dibandingkan total pasar Treasury, tetapi keputusan itu menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak nyaman dengan kecepatan dan besarnya kenaikan yield.
Dalam buyback, Treasury membeli kembali surat utang yang telah beredar. Dengan demikian, sebagian durasi—atau risiko perubahan harga akibat pergerakan suku bunga—dikeluarkan dari pasar. Permintaan tambahan tersebut dapat membantu menopang harga obligasi, yang pada gilirannya menekan yield.
Namun, Treasury perlu membiayai pembelian kembali itu. Deutsche Bank memperkirakan pemerintah kemungkinan menerbitkan lebih banyak Treasury bills, yakni surat utang AS bertenor pendek, untuk mendanai pengurangan durasi di pasar.
Deutsche Bank menggambarkan kebijakan ini sebagai sesuatu yang menyerupai “Operation Twist” dan “represi finansial lunak”. Istilah tersebut merujuk pada upaya pemerintah memengaruhi struktur suku bunga dan menekan biaya pinjaman jangka panjang, alih-alih sepenuhnya membiarkan pasar menentukan tingkat yield.
Menurut analisis itu, kebijakan tersebut berpotensi mengurangi daya tarik Treasury bertenor panjang bagi investor asing. Jika penerbitan surat utang jangka pendek juga semakin diandalkan, rata-rata jatuh tempo pembiayaan pemerintah AS akan menjadi lebih pendek. Kombinasi ini secara struktural dapat menjadi faktor negatif bagi dolar, meski untuk sementara membantu menstabilkan pasar obligasi.
Kebijakan tersebut juga dapat memperumit tugas Federal Reserve. Jika Treasury menekan yield jangka panjang melalui buyback, The Fed mungkin perlu mempertahankan sikap kebijakan yang lebih ketat untuk menjaga kondisi keuangan dan kredibilitas dalam mengendalikan inflasi. Ini merupakan tafsiran analitis Deutsche Bank, bukan hasil kebijakan yang sudah terbukti.
Pasar masih menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Di satu sisi, inflasi dan harga minyak yang tinggi dapat menjaga yield jangka panjang tetap naik. Ketegangan di Timur Tengah membuat harga minyak bertahan di level tertinggi dalam tiga minggu, sehingga menambah risiko inflasi.
Di sisi lain, tanda-tanda perlambatan ekonomi atau kegagalan The Fed menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi pasar dapat mendorong yield turun dan memperpanjang pelemahan dolar.
Risiko jangka pendek lainnya adalah risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Juli. Beberapa pejabat The Fed disebut siap menaikkan suku bunga jika inflasi tidak menurun. Risalah yang lebih hawkish dapat untuk sementara mendorong yield dan menguatkan dolar.
Namun, Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya berjanji menjaga stabilitas harga tanpa memberikan banyak panduan mengenai langkah berikutnya. Ketidakjelasan itu membuat investor sulit memperkirakan respons bank sentral terhadap data ekonomi dan membatasi keyakinan terhadap arah suku bunga.
Jika pertumbuhan melemah dan The Fed tidak memberikan kenaikan suku bunga yang telah diperkirakan pasar, program buyback Treasury akan memperkuat tekanan terhadap dolar. Pembatasan kenaikan yield jangka panjang mengurangi dukungan imbal hasil bagi mata uang AS.
Yen menjadi salah satu mata uang yang berpotensi diuntungkan. Selain terbantu oleh turunnya yield AS, yen juga mendapat dukungan dari intervensi Amerika Serikat dan Jepang sebelumnya untuk menopang mata uang Jepang tersebut.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Treasury AS menaikkan batas buyback obligasi jangka panjang dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi untuk mendukung likuiditas pasar.
Treasury AS menaikkan batas buyback obligasi jangka panjang dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi untuk mendukung likuiditas pasar. Langkah ini diumumkan setelah yield obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun menembus 5,30%, mendekati level tertinggi dalam sekitar 19 tahun.
Yield obligasi jangka panjang turun, sementara indeks dolar melemah 0,75% menjadi 98,90 karena imbal hasil aset AS berkurang.