Pengembangan pusat data dan sistem AI membutuhkan prosesor berperforma tinggi dalam jumlah besar. Permintaan tersebut telah memperketat kapasitas pada proses manufaktur canggih di seluruh dunia.
TSMC, pemimpin industri foundry, disebut telah membukukan sebagian besar kapasitas produksi terdepannya. Pelanggan yang tidak memperoleh alokasi dari TSMC pun mulai mempertimbangkan Samsung dan Intel sebagai alternatif. Kondisi ini memberi Samsung ruang untuk menaikkan harga, meski perusahaan masih menghadapi tantangan historis terkait tingkat hasil produksi (yield) dan pelaksanaan manufaktur.
Kelangkaan tersebut bahkan tidak hanya terjadi pada proses paling canggih. Kenaikan hampir 10% untuk wafer 8 nm menunjukkan bahwa permintaan juga merembet ke teknologi yang lebih lama. Pelanggan tampaknya berlomba mendapatkan slot produksi apa pun yang masih dapat digunakan untuk produk mereka.
Kapasitas SF4 di fasilitas Samsung di Pyeongtaek dilaporkan telah terpakai sepenuhnya untuk memproduksi chip Qualcomm serta base die, komponen dasar yang digunakan dalam produk memori bandwidth tinggi atau HBM Samsung.
Dengan kapasitas yang sudah padat, Samsung harus menyeimbangkan pesanan dari China dan Amerika Serikat dengan kebutuhan internalnya. Google juga dilaporkan tengah bernegosiasi untuk memperoleh kapasitas SF4, yang mengindikasikan bahwa persaingan mendapatkan lini produksi tersebut semakin ketat.
Dalam situasi seperti ini, menaikkan harga pesanan baru memiliki dua fungsi: meningkatkan pendapatan dari setiap wafer sekaligus membantu Samsung menyaring permintaan ketika jumlah pelanggan melebihi kapasitas yang tersedia.
Samsung Foundry masih berada dalam kondisi merugi. Namun, harga jual rata-rata yang lebih tinggi, tingkat utilisasi pabrik yang lebih penuh, dan porsi produksi chip canggih yang meningkat dapat membantu menutup biaya tetap serta memperbaiki margin.
Bisnis foundry Samsung berpotensi kembali mencatat laba pada 2027 jika tingkat utilisasi, hasil produksi, perolehan pelanggan, dan harga tetap kuat. Meski demikian, angka tersebut masih merupakan proyeksi, bukan hasil yang telah diumumkan perusahaan.
Ada alasan untuk berhati-hati. Pada kuartal pertama 2026, Samsung hanya menguasai sekitar 7% pendapatan foundry global, sedangkan TSMC menguasai lebih dari 70%, menurut Counterpoint. Data kuartalan Counterpoint menempatkan pangsa TSMC di 73% dan Samsung di 7%.
Dengan kata lain, Samsung sedang memanfaatkan peluang yang muncul dari kelangkaan kapasitas, tetapi berangkat dari basis yang jauh lebih kecil. Kenaikan harga ini belum berarti Samsung sedang menggantikan TSMC sebagai pemimpin pasar.
Kebijakan Samsung memperlihatkan bahwa ledakan AI telah mengubah posisi tawar dalam industri manufaktur chip. Saat TSMC penuh dan pelanggan menghadapi keterbatasan pasokan, Samsung dapat memonetisasi kapasitasnya yang tersedia—bahkan ketika sebagian lini produksinya sendiri juga sudah padat.
Bagi pelanggan China, tekanan tersebut diperbesar oleh keterbatasan akses terhadap teknologi dan manufaktur chip canggih akibat aturan ekspor Amerika Serikat. Bagi Samsung, kondisi ini membuka kesempatan untuk meningkatkan pendapatan dan mempercepat perbaikan bisnis foundry.
Namun, ujian sebenarnya akan datang ketika kapasitas industri bertambah dan alternatif kompetitif kembali tersedia. Agar target profitabilitas 2027 benar-benar berkelanjutan, Samsung perlu mengubah lonjakan permintaan saat ini menjadi pesanan eksternal berulang dengan margin tinggi, bukan hanya menikmati keuntungan dari kemacetan pasokan sementara hingga menengah.