Di sisi utang, McEwen Copper telah menandatangani kesepakatan dengan sebuah lembaga keuangan internasional untuk mengatur atau mengelola paket pinjaman sekitar US$2,4 miliar. Perusahaan juga berdiskusi dengan sejumlah lembaga kredit ekspor, termasuk Export-Import Bank Amerika Serikat. Dukungan semacam ini dapat membantu mengurangi risiko pendanaan dan risiko politik, tetapi belum sama dengan komitmen utang final.
Rio Tinto saat ini memiliki 17,2% McEwen Copper melalui Nuton LLC, usaha patungan atau unit teknologi tembaganya. Nuton juga sedang mengevaluasi keekonomian Los Azules dan menguji penerapan teknologi pelindian atau leaching di proyek tersebut.
Pemegang saham lain mencakup McEwen Mining sekitar 46,3%–46,4% dan Stellantis sekitar 14,2%, sementara sisanya dimiliki investor lain. Penerbitan saham baru dalam jumlah besar akan mengurangi persentase kepemilikan seluruh pemegang saham lama jika mereka tidak ikut berinvestasi.
Besarnya kepemilikan baru Rio Tinto akan sangat bergantung pada valuasi yang disepakati. Sebagai ilustrasi, dengan menggunakan valuasi implisit McEwen Copper sekitar US$987,5 juta yang baru-baru ini dikutip, investasi baru US$600 juta akan setara dengan sekitar 38% perusahaan setelah pendanaan. Dalam skenario tersebut, kepemilikan lama Rio sebesar 17,2% akan terdilusi menjadi sekitar 10,7%, sehingga total kepemilikan Rio—termasuk investasi barunya—bisa mendekati 48,5%. Ini hanyalah perhitungan ilustratif, bukan ketentuan transaksi yang telah dilaporkan.
Los Azules terletak di Provinsi San Juan, Argentina, dan disebut sebagai salah satu dari 10 proyek tembaga belum dikembangkan terbesar di dunia. Proyek ini telah memperoleh persetujuan lingkungan untuk pembangunan dan operasi serta masuk ke dalam RIGI, yaitu rezim insentif investasi besar Argentina yang menawarkan stabilitas fiskal, hukum, dan kepabeanan jangka panjang.
Studi kelayakan 2025 memperkirakan umur tambang dasar sekitar 22 tahun. Produksi katoda tembaga rata-rata diproyeksikan mencapai sekitar 205.000 ton per tahun dalam lima tahun pertama dan sekitar 148.000 ton per tahun sepanjang umur tambang. Skenario yang menggunakan teknologi Nuton berpotensi memperpanjang umur tambang selama beberapa dekade, meski skenario tambahan tersebut masih bersifat awal dan tidak didukung oleh cadangan mineral dalam arti yang sama dengan kasus dasar.
Berdasarkan asumsi harga tembaga US$4,35 per pon, studi tersebut memperkirakan nilai kini bersih atau NPV setelah pajak sebesar US$2,9 miliar dengan tingkat diskonto 8%. Biaya tunai C1 dilaporkan sekitar US$1,71 per pon. Proyek ini juga memiliki cadangan terbukti dan terkira sekitar 10,2 miliar pon tembaga, menurut data perusahaan.
Rekayasa rinci dan pembangunan ditargetkan dimulai pada awal 2027, dengan syarat pendanaan tersedia. Karena itu, produksi pertama merupakan target akhir dekade—sekitar 2029–2030 menurut berbagai laporan—bukan sumber pasokan tembaga dalam waktu dekat.
Bagi Rio Tinto, investasi besar di McEwen Copper dapat menjadi cara untuk memperoleh opsi pertumbuhan tembaga berskala besar tanpa harus langsung mengambil alih seluruh perusahaan pengembangnya. Masuknya Rio juga berpotensi menjadi sinyal validasi terhadap keekonomian dan kelayakan pendanaan Los Azules, sekaligus menjadi jangkar bagi pemberi pinjaman dan investor lain.
Kesepakatan tersebut juga akan memperluas penggunaan teknologi Nuton. Teknologi pelindian ini ditujukan untuk meningkatkan pemulihan tembaga dengan intensitas energi, air, dan emisi yang lebih rendah dibandingkan sejumlah pendekatan konvensional, meski manfaat aktualnya tetap bergantung pada hasil pengujian dan desain proyek.
Kabar pembicaraan dengan Rio Tinto memperkuat perhatian investor terhadap nilai kepemilikan minoritas McEwen Mining di McEwen Copper. Narasi tersebut mendapat sambutan positif karena Los Azules dapat menjadi aset tembaga utama dan berpotensi meningkatkan nilai perusahaan induknya. Namun, reaksi pasar bukan bukti bahwa transaksi telah selesai. Negosiasi masih dapat gagal, ditunda, atau disepakati dengan valuasi yang berbeda dari perkiraan.
Risiko utama tetap berada pada pendanaan, biaya pembangunan, pelaksanaan proyek, kondisi politik dan regulasi Argentina, serta harga tembaga. Paket pinjaman, dukungan lembaga kredit ekspor, investasi strategis, dan kemungkinan IPO semuanya masih perlu mencapai tahap final sebelum pembangunan dapat berjalan penuh.
Tembaga merupakan bahan penting untuk jaringan listrik, elektrifikasi, peralatan energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pusat data. Pada saat yang sama, tambang baru membutuhkan modal besar dan waktu panjang untuk memperoleh izin serta dibangun. Penemuan deposit berkualitas tinggi juga tidak mudah.
Kombinasi antara pertumbuhan permintaan—termasuk dari pusat data dan transisi energi—serta pasokan baru yang relatif lambat membuat proyek matang seperti Los Azules memiliki nilai strategis lebih tinggi. Dalam konteks tersebut, potensi investasi Rio Tinto bukan hanya taruhan terhadap satu tambang di Argentina, melainkan bagian dari upaya mengamankan pertumbuhan pasokan tembaga global.