Angka-angka ini bersifat dinamis, tetapi perubahannya menunjukkan bahwa investor semakin yakin BOJ akan bertindak pada September. Pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa bank sentral tersebut tidak lagi menaikkan suku bunga hanya sekitar dua kali setahun, melainkan dapat bergerak lebih sering—termasuk dengan jarak antarkenaikan sekitar satu kuartal.
Reuters melaporkan bahwa BOJ dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada September dan sedang mempertimbangkan laju pengetatan yang lebih agresif setelahnya. Tiga sumber yang mengetahui pemikiran bank sentral tersebut mengatakan bahwa kenaikan lebih awal mulai terlihat sebagai kemungkinan nyata.
Laporan berbasis sumber anonim ini penting, tetapi tidak sama dengan panduan resmi BOJ. Keputusan tetap bergantung pada penilaian para anggota dewan kebijakan menjelang rapat.
Jadwal pidato sejumlah pejabat BOJ sebelum rapat September juga akan menjadi perhatian pasar. Kazuyuki Masu dijadwalkan berbicara pada 10 September, setelah pidato Deputi Gubernur Ryozo Himino dan anggota dewan Hajime Takata. Pernyataan mereka dapat memberi petunjuk mengenai arah kebijakan, meski belum tentu mencerminkan keputusan akhir.
Pada akhir Juli, BOJ mempertahankan suku bunga kebijakan di 1%. Namun, bank sentral memperingatkan bahwa inflasi yang mendasari dapat melampaui target dan mengatakan bahwa risiko kenaikan harga akan menjadi fokus pembahasan berikutnya.
Data inflasi grosir Jepang pada Juli juga menunjukkan bahwa tekanan harga semakin meluas. Pelemahan yen memperburuk masalah tersebut karena meningkatkan biaya impor bagi rumah tangga dan peritel.
Dengan inflasi sekitar atau di atas target 2%, suku bunga nominal 1% masih dapat dianggap longgar secara riil. Artinya, setelah memperhitungkan inflasi, biaya pinjaman riil tetap rendah. Kondisi ini memberi ruang bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga tanpa langsung mengubah kebijakan menjadi sangat ketat.
Kenya Koshimizu, pejabat Mizuho yang memimpin bisnis pasar global, menilai kemungkinan kenaikan suku bunga pada September “cukup tinggi”. Ia memperkirakan BOJ dapat memperpendek jarak antaraksi kebijakan karena yen yang lemah dan inflasi.
Dalam skenario tersebut, dua kenaikan tambahan sebesar 25 basis poin dapat membawa suku bunga kebijakan ke sekitar 1,5% pada akhir tahun. Namun, angka 1,5% merupakan proyeksi pelaku pasar, bukan target atau janji resmi BOJ.
Pandangan analis lain bahkan lebih berbeda. Sebagian memperkirakan suku bunga terminal—tingkat suku bunga akhir setelah siklus kenaikan selesai—berada di kisaran 1,5%–1,75%. Mantan pejabat valuta asing Jepang lainnya berpendapat bahwa suku bunga dapat menembus 2% atau lebih. Semua angka tersebut merupakan pandangan eksternal, bukan konsensus resmi BOJ.
Pada akhir Juli, Jepang dan Amerika Serikat melakukan intervensi pembelian yen yang jarang terjadi. Operasi tersebut membantu mendorong yen menguat dari level yang mendekati 164 per dolar, tetapi penguatannya kemudian berkurang. Pada pertengahan Agustus, yen kembali berada di sekitar 159 per dolar dan tetap dekat dengan ambang psikologis ¥160.
Intervensi dapat menahan pelemahan mata uang untuk sementara. Namun, analis memperingatkan bahwa langkah tersebut mungkin tidak mampu menopang yen secara berkelanjutan jika tidak disertai dukungan kebijakan moneter dan fundamental ekonomi. Selisih imbal hasil yang besar antara Jepang dan Amerika Serikat masih menjadi pendorong utama tekanan terhadap yen.
Karena itu, BOJ memiliki alasan untuk membantu mempersempit kesenjangan suku bunga, bukan hanya mengandalkan operasi valuta asing. Pada saat yang sama, ancaman intervensi tambahan dapat mengurangi kebutuhan BOJ untuk segera menaikkan suku bunga—setidaknya untuk sementara.
Data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah dan inflasi yang relatif jinak mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Pada pertengahan Agustus, pasar memperkirakan peluang kenaikan The Fed sekitar 31% pada September dan 69% hingga Desember.
Jika BOJ menaikkan suku bunga sementara The Fed menunda, perbedaan arah kebijakan kedua bank sentral akan menjadi lebih kecil dan secara teori dapat membantu yen. Meski demikian, selisih suku bunga Jepang–AS masih akan tetap lebar, sehingga dampaknya terhadap mata uang belum tentu besar atau bertahan lama.
Ekonomi Jepang hanya tumbuh 0,3% secara kuartalan pada kuartal II, atau 1,1% secara tahunan. Hasil ini berada di bawah perkiraan pertumbuhan tahunan 2,0% dan mencerminkan lemahnya belanja rumah tangga serta dunia usaha.
Secara normal, data seperti ini dapat membuat bank sentral menunda kenaikan suku bunga. Namun, Reuters melaporkan bahwa perlambatan tersebut kemungkinan tidak cukup untuk menggagalkan skenario kenaikan dalam waktu dekat. Tekanan inflasi dan pelemahan yen dinilai lebih mendesak bagi BOJ.
Kemungkinan kenaikan suku bunga ke depan bergantung pada tingkat suku bunga netral Jepang, yaitu tingkat yang secara teori tidak mendorong maupun menekan pertumbuhan ekonomi. Perkiraan tingkat netral tersebut masih sangat lebar, sekitar 1%–2,5%.
Jika investasi modal menghasilkan peningkatan produktivitas yang bertahan lama, tingkat netral dapat meningkat. Dalam skenario itu, suku bunga kebijakan pada akhirnya juga dapat berada lebih tinggi. Namun, bukti yang tersedia belum menunjukkan bahwa BOJ telah menetapkan target terminal tertentu, apakah 1,5%, 1,75%, atau di atas 2%.
Pengetatan secara kuartalan juga menghadapi sejumlah risiko. Kenaikan imbal hasil obligasi dapat memperberat sensitivitas fiskal Jepang, sementara perlambatan ekonomi dapat menekan konsumsi dan investasi. Di sisi lain, jika yen kembali melemah menuju atau melewati ¥160 per dolar, pemerintah mungkin kembali melakukan intervensi.
Bukti yang tersedia mendukung peluang kenaikan suku bunga BOJ pada rapat 17–18 September. Sinyal paling kuat berasal dari kenaikan probabilitas pasar hingga sekitar 76%–80%, laporan Reuters mengenai pertimbangan internal BOJ, tekanan inflasi, serta kebutuhan untuk merespons pelemahan yen.
Setelah September, pengetatan secara kuartalan juga masuk akal jika inflasi dan tekanan terhadap yen terus berlanjut. Namun, baik kenaikan September maupun target suku bunga 1,5% pada akhir tahun belum dapat dianggap pasti. Pertumbuhan yang lemah, kondisi fiskal, kebijakan The Fed, dan kemungkinan intervensi valuta asing masih dapat mengubah perhitungan BOJ.
Angka-angka ini bersifat dinamis, tetapi perubahannya menunjukkan bahwa investor semakin yakin BOJ akan bertindak pada September. Pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa bank sentral tersebut tidak lagi menaikkan suku bunga hanya sekitar dua kali setahun, melainkan dapat bergerak lebih sering—termasuk dengan jarak antarkenaikan sekitar satu kuartal.
Reuters melaporkan bahwa BOJ dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada September dan sedang mempertimbangkan laju pengetatan yang lebih agresif setelahnya. Tiga sumber yang mengetahui pemikiran bank sentral tersebut mengatakan bahwa kenaikan lebih awal mulai terlihat sebagai kemungkinan nyata.
Laporan berbasis sumber anonim ini penting, tetapi tidak sama dengan panduan resmi BOJ. Keputusan tetap bergantung pada penilaian para anggota dewan kebijakan menjelang rapat.
Jadwal pidato sejumlah pejabat BOJ sebelum rapat September juga akan menjadi perhatian pasar. Kazuyuki Masu dijadwalkan berbicara pada 10 September, setelah pidato Deputi Gubernur Ryozo Himino dan anggota dewan Hajime Takata. Pernyataan mereka dapat memberi petunjuk mengenai arah kebijakan, meski belum tentu mencerminkan keputusan akhir.
Pada akhir Juli, BOJ mempertahankan suku bunga kebijakan di 1%. Namun, bank sentral memperingatkan bahwa inflasi yang mendasari dapat melampaui target dan mengatakan bahwa risiko kenaikan harga akan menjadi fokus pembahasan berikutnya.
Data inflasi grosir Jepang pada Juli juga menunjukkan bahwa tekanan harga semakin meluas. Pelemahan yen memperburuk masalah tersebut karena meningkatkan biaya impor bagi rumah tangga dan peritel.
Dengan inflasi sekitar atau di atas target 2%, suku bunga nominal 1% masih dapat dianggap longgar secara riil. Artinya, setelah memperhitungkan inflasi, biaya pinjaman riil tetap rendah. Kondisi ini memberi ruang bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga tanpa langsung mengubah kebijakan menjadi sangat ketat.
Kenya Koshimizu, pejabat Mizuho yang memimpin bisnis pasar global, menilai kemungkinan kenaikan suku bunga pada September “cukup tinggi”. Ia memperkirakan BOJ dapat memperpendek jarak antaraksi kebijakan karena yen yang lemah dan inflasi.
Dalam skenario tersebut, dua kenaikan tambahan sebesar 25 basis poin dapat membawa suku bunga kebijakan ke sekitar 1,5% pada akhir tahun. Namun, angka 1,5% merupakan proyeksi pelaku pasar, bukan target atau janji resmi BOJ.
Pandangan analis lain bahkan lebih berbeda. Sebagian memperkirakan suku bunga terminal—tingkat suku bunga akhir setelah siklus kenaikan selesai—berada di kisaran 1,5%–1,75%. Mantan pejabat valuta asing Jepang lainnya berpendapat bahwa suku bunga dapat menembus 2% atau lebih. Semua angka tersebut merupakan pandangan eksternal, bukan konsensus resmi BOJ.
Pada akhir Juli, Jepang dan Amerika Serikat melakukan intervensi pembelian yen yang jarang terjadi. Operasi tersebut membantu mendorong yen menguat dari level yang mendekati 164 per dolar, tetapi penguatannya kemudian berkurang. Pada pertengahan Agustus, yen kembali berada di sekitar 159 per dolar dan tetap dekat dengan ambang psikologis ¥160.
Intervensi dapat menahan pelemahan mata uang untuk sementara. Namun, analis memperingatkan bahwa langkah tersebut mungkin tidak mampu menopang yen secara berkelanjutan jika tidak disertai dukungan kebijakan moneter dan fundamental ekonomi. Selisih imbal hasil yang besar antara Jepang dan Amerika Serikat masih menjadi pendorong utama tekanan terhadap yen.
Karena itu, BOJ memiliki alasan untuk membantu mempersempit kesenjangan suku bunga, bukan hanya mengandalkan operasi valuta asing. Pada saat yang sama, ancaman intervensi tambahan dapat mengurangi kebutuhan BOJ untuk segera menaikkan suku bunga—setidaknya untuk sementara.
Data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah dan inflasi yang relatif jinak mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Pada pertengahan Agustus, pasar memperkirakan peluang kenaikan The Fed sekitar 31% pada September dan 69% hingga Desember.
Jika BOJ menaikkan suku bunga sementara The Fed menunda, perbedaan arah kebijakan kedua bank sentral akan menjadi lebih kecil dan secara teori dapat membantu yen. Meski demikian, selisih suku bunga Jepang–AS masih akan tetap lebar, sehingga dampaknya terhadap mata uang belum tentu besar atau bertahan lama.
Ekonomi Jepang hanya tumbuh 0,3% secara kuartalan pada kuartal II, atau 1,1% secara tahunan. Hasil ini berada di bawah perkiraan pertumbuhan tahunan 2,0% dan mencerminkan lemahnya belanja rumah tangga serta dunia usaha.
Secara normal, data seperti ini dapat membuat bank sentral menunda kenaikan suku bunga. Namun, Reuters melaporkan bahwa perlambatan tersebut kemungkinan tidak cukup untuk menggagalkan skenario kenaikan dalam waktu dekat. Tekanan inflasi dan pelemahan yen dinilai lebih mendesak bagi BOJ.
Kemungkinan kenaikan suku bunga ke depan bergantung pada tingkat suku bunga netral Jepang, yaitu tingkat yang secara teori tidak mendorong maupun menekan pertumbuhan ekonomi. Perkiraan tingkat netral tersebut masih sangat lebar, sekitar 1%–2,5%.
Jika investasi modal menghasilkan peningkatan produktivitas yang bertahan lama, tingkat netral dapat meningkat. Dalam skenario itu, suku bunga kebijakan pada akhirnya juga dapat berada lebih tinggi. Namun, bukti yang tersedia belum menunjukkan bahwa BOJ telah menetapkan target terminal tertentu, apakah 1,5%, 1,75%, atau di atas 2%.
Pengetatan secara kuartalan juga menghadapi sejumlah risiko. Kenaikan imbal hasil obligasi dapat memperberat sensitivitas fiskal Jepang, sementara perlambatan ekonomi dapat menekan konsumsi dan investasi. Di sisi lain, jika yen kembali melemah menuju atau melewati ¥160 per dolar, pemerintah mungkin kembali melakukan intervensi.
Bukti yang tersedia mendukung peluang kenaikan suku bunga BOJ pada rapat 17–18 September. Sinyal paling kuat berasal dari kenaikan probabilitas pasar hingga sekitar 76%–80%, laporan Reuters mengenai pertimbangan internal BOJ, tekanan inflasi, serta kebutuhan untuk merespons pelemahan yen.
Setelah September, pengetatan secara kuartalan juga masuk akal jika inflasi dan tekanan terhadap yen terus berlanjut. Namun, baik kenaikan September maupun target suku bunga 1,5% pada akhir tahun belum dapat dianggap pasti. Pertumbuhan yang lemah, kondisi fiskal, kebijakan The Fed, dan kemungkinan intervensi valuta asing masih dapat mengubah perhitungan BOJ.