Euro menguat 0,19% ke sekitar US$1,1585 dan tetap dekat dengan level tertinggi dua bulan yang dicapai pada awal pekan. Pound sterling juga menguat ke sekitar US$1,3554, sementara dolar melemah terhadap franc Swiss.
Yen bergerak di dekat level ¥160 per dolar ketika perhatian pasar mulai beralih ke pertemuan Bank of Japan berikutnya. Level tersebut juga menjadi titik yang sensitif bagi pasar karena pelemahan yen dapat memicu perhatian lebih besar dari otoritas Jepang.
Perekonomian AS secara tak terduga kehilangan 23.000 lapangan kerja pada Juli. Data penjualan ritel kemudian menunjukkan penurunan 0,6% pada Juli, setelah meningkat 0,2% pada Juni. Data inflasi yang relatif jinak dan angka harga produsen yang tidak berubah pada Juli turut mendorong pasar untuk menurunkan proyeksi kenaikan suku bunga.
Akibatnya, kontrak berjangka suku bunga The Fed hanya mencerminkan peluang sekitar 31% untuk kenaikan 25 basis poin pada rapat September. Sebaliknya, peluang kenaikan hingga Desember diperkirakan mencapai 69%.
Sebelumnya, sebagian investor memegang posisi long-dollar—yakni taruhan bahwa dolar akan menguat—dengan asumsi The Fed akan mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Ketika data ekonomi melemah dan prospek pengetatan moneter memudar, posisi tersebut mulai ditutup dengan menjual dolar.
Proses pelepasan posisi ini dapat mempercepat penurunan karena investor tidak hanya berhenti membeli dolar, tetapi juga menjual kepemilikan yang sudah ada. Kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi AS menambah tekanan tersebut.
Dalam jangka pendek, prospek dolar cenderung bearish hingga hati-hati karena pasar mengantisipasi respons The Fed yang lebih akomodatif terhadap data ekonomi yang melemah. Namun, tekanan terhadap dolar tidak bersifat satu arah.
Ketidakpastian mengenai inflasi, arah kebijakan The Fed, pertumbuhan ekonomi global, serta kebutuhan penerbitan obligasi Treasury jangka panjang dapat menjaga volatilitas pasar. Bahkan kenaikan imbal hasil Treasury tidak selalu mampu mengangkat dolar apabila investor sekaligus mengurangi eksposur terhadap aset AS atau mendiversifikasi kepemilikan mata uangnya.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menambah unsur ketidakpastian. Ketika serangan mengancam jalur pengiriman energi di Timur Tengah, harga minyak naik dan permintaan terhadap aset aman—termasuk dolar—dapat meningkat. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memperbesar tekanan inflasi, sehingga untuk sementara dapat menghidupkan kembali spekulasi kenaikan suku bunga The Fed.
Sebaliknya, harapan meredanya ketegangan dan adanya nota kesepahaman AS-Iran sebelumnya mendorong harga kontrak minyak serta kompensasi inflasi jangka pendek turun. Kondisi ini mengurangi salah satu alasan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan.
Dengan demikian, geopolitik memberikan dampak berlawanan: eskalasi konflik dapat mendukung minyak dan permintaan aset aman, sedangkan deeskalasi dapat menurunkan ekspektasi inflasi dan melemahkan alasan untuk menaikkan suku bunga.
Risalah FOMC—komite The Fed yang menetapkan kebijakan moneter—dapat menunjukkan seberapa serius para pejabat memandang risiko inflasi dan bagaimana mereka menimbang pelemahan aktivitas ekonomi terhadap tekanan harga.
Pasar juga akan mencermati pandangan tiga pejabat yang pada rapat Juli memilih kenaikan suku bunga segera, sementara keputusan mayoritas adalah mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%. Risalah tersebut dapat membantu menjawab apakah ketiganya merupakan bagian dari kubu hawkish yang lebih besar atau hanya minoritas yang terisolasi.
Jika risalah memperlihatkan kekhawatiran inflasi yang masih kuat, imbal hasil Treasury dan dolar berpotensi mendapat dukungan. Namun, apabila mayoritas pejabat lebih mengkhawatirkan perlambatan pertumbuhan atau menilai risiko inflasi mulai mereda, hal itu akan memperkuat ekspektasi pasar bahwa kenaikan suku bunga September semakin kecil kemungkinannya.