Jared Kushner bertemu Benjamin Netanyahu selama hampir empat jam setelah bertemu pemimpin Hamas di Mesir, tetapi kedua pihak tetap bertahan pada tuntutan utama masing masing. Peta jalan 15 poin mengatur pelucutan senjata Hamas secara bertahap, diikuti penarikan militer Israel dan rekonstruksi Gaza secara bertahap.
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What happened during and after Jared Kushner’s Monday mission to revive the U.S. backed Gaza peace plan—including his nearly four hour meeti. Article summary: Kushner’s mission produced procedural agreements but no political breakthrough: Netanyahu maintained that Israel would not withdraw or allow reconstruction until Hamas disarmed, while Hamas said Israel must first meet it. Topic tags: general web, workflow, security, regulation, marketing. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermar
Upaya Jared Kushner untuk menghidupkan kembali rencana perdamaian Gaza yang didukung Amerika Serikat berakhir tanpa terobosan politik. Dalam pertemuan hampir empat jam di Yerusalem, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya atau mengizinkan rekonstruksi Gaza sebelum Hamas benar-benar melucuti senjata. Hamas, di sisi lain, mengatakan Israel harus lebih dulu memenuhi kewajibannya dalam kesepakatan gencatan senjata.
Kushner bertemu Netanyahu pada Senin, sehari setelah mengadakan pembicaraan langka dengan pemimpin politik Hamas, Khalil al-Hayya, di Mesir. Misi tersebut bertujuan menerjemahkan peta jalan Gaza yang didukung AS ke dalam langkah-langkah konkret dan dapat diverifikasi.
Salah satu perselisihan utama dalam pertemuan itu adalah desakan Netanyahu agar Israel tetap memiliki kebebasan untuk melakukan serangan terhadap anggota Hamas yang dituduh terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023. Kushner mendorong kemajuan berdasarkan kerangka gencatan senjata, sementara Netanyahu bersikeras bahwa operasi semacam itu harus tetap dapat dilakukan.
Proposal yang diajukan Amerika Serikat dan Board of Peace—badan yang dibentuk untuk membantu menjalankan rencana tersebut—membayangkan proses bertahap. Hamas akan menyerahkan senjatanya secara berangsur, sementara pasukan Israel secara bertahap menarik diri dari Gaza dan rekonstruksi dimulai.
Namun, posisi Netanyahu lebih ketat. Ia mengatakan tidak akan ada penarikan pasukan maupun pembangunan kembali Gaza sampai Hamas dan kelompok bersenjata lain benar-benar dilucuti di seluruh wilayah tersebut.
Kushner juga menyatakan bahwa rekonstruksi tidak akan berjalan selama Hamas masih bersenjata. Ia memperingatkan bahwa jika Hamas menolak melucuti senjata, Washington akan memberikan dukungan yang lebih luas kepada Israel untuk melanjutkan operasi militernya.
Meski tidak menghasilkan kesepakatan politik, para pejabat Israel dan AS mengatakan kedua pihak sepakat membentuk kelompok kerja untuk membahas dua hal:
Mereka juga membahas kemungkinan menempatkan seorang jenderal militer AS untuk memverifikasi penyerahan atau penonaktifan senjata Hamas. Menurut pejabat Israel, penyerahan senjata di bawah pengawasan AS akan menjadi langkah awal demiliterisasi.
Pernyataan publik Israel setelah pertemuan itu menunjukkan perbedaan penekanan. Pesan berbahasa Inggris menggambarkan pembicaraan sebagai konstruktif dan menyebut adanya kemajuan. Namun, laporan berbahasa Ibrani serta pernyataan sejumlah pejabat menekankan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Gaza dan kebebasan operasionalnya tidak akan berkurang.
Karena itu, pertemuan tersebut tampak produktif dari sisi prosedur dan suasana diplomatik, tetapi belum menghasilkan komitmen substantif mengenai penarikan pasukan atau penghentian operasi militer.
Hamas tidak menerima urutan langkah yang diinginkan Israel. Kelompok tersebut mengatakan pelaksanaan peta jalan bergantung pada Israel yang terlebih dahulu memenuhi kewajibannya dalam gencatan senjata Oktober 2025, termasuk menghentikan pelanggaran dan mulai bergerak menuju penarikan pasukan sesuai kesepakatan.
Dengan demikian, kedua pihak tetap berada dalam posisi yang saling berlawanan: Israel menuntut Hamas melucuti senjata sebelum penarikan dan rekonstruksi, sedangkan Hamas menuntut Israel menghentikan serangan dan memenuhi komitmen penarikan sebelum proses pelucutan dimulai.
Kebuntuan diplomatik itu segera disusul kekerasan baru. Pada Selasa, serangan udara Israel menghantam area kafe tepi pantai dan pelabuhan nelayan di Gaza City yang telah menjadi tempat berlindung bagi warga yang mengungsi. Pejabat medis Palestina melaporkan sedikitnya enam warga Palestina tewas, termasuk seorang anak, sementara 14 lainnya terluka.
Militer Israel mengatakan serangan tersebut menargetkan beberapa komandan Hamas yang sedang merencanakan serangan terhadap pasukan Israel, bukan lokasi sipil itu sendiri. Salah satu target, menurut militer Israel, disebut terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023.
Bagi warga Palestina yang masih menghadapi serangan dan perpindahan paksa, perkembangan diplomatik itu tampak jauh dari kenyataan keamanan dan kemanusiaan sehari-hari. Serangan di kafe yang digunakan sebagai tempat pengungsian semakin memperkuat kesan bahwa pembicaraan politik belum mampu menghentikan kekerasan di lapangan.
Para analis menilai peluang kemajuan berarti dalam waktu dekat masih kecil. Netanyahu dijadwalkan menghadapi pemilu Israel pada 27 Oktober dan memiliki sedikit insentif untuk membuat konsesi politik yang dapat merugikan posisinya di dalam negeri.
Selama Israel tetap menolak penarikan sebelum pelucutan senjata Hamas, dan Hamas menolak memulai pelucutan sebelum Israel memenuhi kewajibannya, proses tersebut akan terus terjebak pada pertanyaan yang sama: pihak mana yang harus bergerak lebih dulu.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Jared Kushner bertemu Benjamin Netanyahu selama hampir empat jam setelah bertemu pemimpin Hamas di Mesir, tetapi kedua pihak tetap bertahan pada tuntutan utama masing masing.
Jared Kushner bertemu Benjamin Netanyahu selama hampir empat jam setelah bertemu pemimpin Hamas di Mesir, tetapi kedua pihak tetap bertahan pada tuntutan utama masing masing. Peta jalan 15 poin mengatur pelucutan senjata Hamas secara bertahap, diikuti penarikan militer Israel dan rekonstruksi Gaza secara bertahap.
Israel dan AS sepakat membentuk kelompok kerja serta membahas pengawasan penyerahan senjata Hamas oleh seorang jenderal militer AS.