Salah satu perselisihan utama dalam pertemuan itu adalah desakan Netanyahu agar Israel tetap memiliki kebebasan untuk melakukan serangan terhadap anggota Hamas yang dituduh terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023. Kushner mendorong kemajuan berdasarkan kerangka gencatan senjata, sementara Netanyahu bersikeras bahwa operasi semacam itu harus tetap dapat dilakukan.
Proposal yang diajukan Amerika Serikat dan Board of Peace—badan yang dibentuk untuk membantu menjalankan rencana tersebut—membayangkan proses bertahap. Hamas akan menyerahkan senjatanya secara berangsur, sementara pasukan Israel secara bertahap menarik diri dari Gaza dan rekonstruksi dimulai.
Namun, posisi Netanyahu lebih ketat. Ia mengatakan tidak akan ada penarikan pasukan maupun pembangunan kembali Gaza sampai Hamas dan kelompok bersenjata lain benar-benar dilucuti di seluruh wilayah tersebut.
Kushner juga menyatakan bahwa rekonstruksi tidak akan berjalan selama Hamas masih bersenjata. Ia memperingatkan bahwa jika Hamas menolak melucuti senjata, Washington akan memberikan dukungan yang lebih luas kepada Israel untuk melanjutkan operasi militernya.
Meski tidak menghasilkan kesepakatan politik, para pejabat Israel dan AS mengatakan kedua pihak sepakat membentuk kelompok kerja untuk membahas dua hal:
Mereka juga membahas kemungkinan menempatkan seorang jenderal militer AS untuk memverifikasi penyerahan atau penonaktifan senjata Hamas. Menurut pejabat Israel, penyerahan senjata di bawah pengawasan AS akan menjadi langkah awal demiliterisasi.
Pernyataan publik Israel setelah pertemuan itu menunjukkan perbedaan penekanan. Pesan berbahasa Inggris menggambarkan pembicaraan sebagai konstruktif dan menyebut adanya kemajuan. Namun, laporan berbahasa Ibrani serta pernyataan sejumlah pejabat menekankan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Gaza dan kebebasan operasionalnya tidak akan berkurang.
Karena itu, pertemuan tersebut tampak produktif dari sisi prosedur dan suasana diplomatik, tetapi belum menghasilkan komitmen substantif mengenai penarikan pasukan atau penghentian operasi militer.
Hamas tidak menerima urutan langkah yang diinginkan Israel. Kelompok tersebut mengatakan pelaksanaan peta jalan bergantung pada Israel yang terlebih dahulu memenuhi kewajibannya dalam gencatan senjata Oktober 2025, termasuk menghentikan pelanggaran dan mulai bergerak menuju penarikan pasukan sesuai kesepakatan.
Dengan demikian, kedua pihak tetap berada dalam posisi yang saling berlawanan: Israel menuntut Hamas melucuti senjata sebelum penarikan dan rekonstruksi, sedangkan Hamas menuntut Israel menghentikan serangan dan memenuhi komitmen penarikan sebelum proses pelucutan dimulai.
Kebuntuan diplomatik itu segera disusul kekerasan baru. Pada Selasa, serangan udara Israel menghantam area kafe tepi pantai dan pelabuhan nelayan di Gaza City yang telah menjadi tempat berlindung bagi warga yang mengungsi. Pejabat medis Palestina melaporkan sedikitnya enam warga Palestina tewas, termasuk seorang anak, sementara 14 lainnya terluka.
Militer Israel mengatakan serangan tersebut menargetkan beberapa komandan Hamas yang sedang merencanakan serangan terhadap pasukan Israel, bukan lokasi sipil itu sendiri. Salah satu target, menurut militer Israel, disebut terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023.
Bagi warga Palestina yang masih menghadapi serangan dan perpindahan paksa, perkembangan diplomatik itu tampak jauh dari kenyataan keamanan dan kemanusiaan sehari-hari. Serangan di kafe yang digunakan sebagai tempat pengungsian semakin memperkuat kesan bahwa pembicaraan politik belum mampu menghentikan kekerasan di lapangan.
Para analis menilai peluang kemajuan berarti dalam waktu dekat masih kecil. Netanyahu dijadwalkan menghadapi pemilu Israel pada 27 Oktober dan memiliki sedikit insentif untuk membuat konsesi politik yang dapat merugikan posisinya di dalam negeri.
Selama Israel tetap menolak penarikan sebelum pelucutan senjata Hamas, dan Hamas menolak memulai pelucutan sebelum Israel memenuhi kewajibannya, proses tersebut akan terus terjebak pada pertanyaan yang sama: pihak mana yang harus bergerak lebih dulu.
Salah satu perselisihan utama dalam pertemuan itu adalah desakan Netanyahu agar Israel tetap memiliki kebebasan untuk melakukan serangan terhadap anggota Hamas yang dituduh terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023. Kushner mendorong kemajuan berdasarkan kerangka gencatan senjata, sementara Netanyahu bersikeras bahwa operasi semacam itu harus tetap dapat dilakukan.
Proposal yang diajukan Amerika Serikat dan Board of Peace—badan yang dibentuk untuk membantu menjalankan rencana tersebut—membayangkan proses bertahap. Hamas akan menyerahkan senjatanya secara berangsur, sementara pasukan Israel secara bertahap menarik diri dari Gaza dan rekonstruksi dimulai.
Namun, posisi Netanyahu lebih ketat. Ia mengatakan tidak akan ada penarikan pasukan maupun pembangunan kembali Gaza sampai Hamas dan kelompok bersenjata lain benar-benar dilucuti di seluruh wilayah tersebut.
Kushner juga menyatakan bahwa rekonstruksi tidak akan berjalan selama Hamas masih bersenjata. Ia memperingatkan bahwa jika Hamas menolak melucuti senjata, Washington akan memberikan dukungan yang lebih luas kepada Israel untuk melanjutkan operasi militernya.
Meski tidak menghasilkan kesepakatan politik, para pejabat Israel dan AS mengatakan kedua pihak sepakat membentuk kelompok kerja untuk membahas dua hal:
Mereka juga membahas kemungkinan menempatkan seorang jenderal militer AS untuk memverifikasi penyerahan atau penonaktifan senjata Hamas. Menurut pejabat Israel, penyerahan senjata di bawah pengawasan AS akan menjadi langkah awal demiliterisasi.
Pernyataan publik Israel setelah pertemuan itu menunjukkan perbedaan penekanan. Pesan berbahasa Inggris menggambarkan pembicaraan sebagai konstruktif dan menyebut adanya kemajuan. Namun, laporan berbahasa Ibrani serta pernyataan sejumlah pejabat menekankan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Gaza dan kebebasan operasionalnya tidak akan berkurang.
Karena itu, pertemuan tersebut tampak produktif dari sisi prosedur dan suasana diplomatik, tetapi belum menghasilkan komitmen substantif mengenai penarikan pasukan atau penghentian operasi militer.
Hamas tidak menerima urutan langkah yang diinginkan Israel. Kelompok tersebut mengatakan pelaksanaan peta jalan bergantung pada Israel yang terlebih dahulu memenuhi kewajibannya dalam gencatan senjata Oktober 2025, termasuk menghentikan pelanggaran dan mulai bergerak menuju penarikan pasukan sesuai kesepakatan.
Dengan demikian, kedua pihak tetap berada dalam posisi yang saling berlawanan: Israel menuntut Hamas melucuti senjata sebelum penarikan dan rekonstruksi, sedangkan Hamas menuntut Israel menghentikan serangan dan memenuhi komitmen penarikan sebelum proses pelucutan dimulai.
Kebuntuan diplomatik itu segera disusul kekerasan baru. Pada Selasa, serangan udara Israel menghantam area kafe tepi pantai dan pelabuhan nelayan di Gaza City yang telah menjadi tempat berlindung bagi warga yang mengungsi. Pejabat medis Palestina melaporkan sedikitnya enam warga Palestina tewas, termasuk seorang anak, sementara 14 lainnya terluka.
Militer Israel mengatakan serangan tersebut menargetkan beberapa komandan Hamas yang sedang merencanakan serangan terhadap pasukan Israel, bukan lokasi sipil itu sendiri. Salah satu target, menurut militer Israel, disebut terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023.
Bagi warga Palestina yang masih menghadapi serangan dan perpindahan paksa, perkembangan diplomatik itu tampak jauh dari kenyataan keamanan dan kemanusiaan sehari-hari. Serangan di kafe yang digunakan sebagai tempat pengungsian semakin memperkuat kesan bahwa pembicaraan politik belum mampu menghentikan kekerasan di lapangan.
Para analis menilai peluang kemajuan berarti dalam waktu dekat masih kecil. Netanyahu dijadwalkan menghadapi pemilu Israel pada 27 Oktober dan memiliki sedikit insentif untuk membuat konsesi politik yang dapat merugikan posisinya di dalam negeri.
Selama Israel tetap menolak penarikan sebelum pelucutan senjata Hamas, dan Hamas menolak memulai pelucutan sebelum Israel memenuhi kewajibannya, proses tersebut akan terus terjebak pada pertanyaan yang sama: pihak mana yang harus bergerak lebih dulu.