Pembatasan yang diberlakukan Beijing terhadap pendanaan terkait AS untuk perusahaan teknologi dan AI China pada April 2026, bersama dengan kontrol timbal balik AS–China, semakin memperumit proses tersebut.
Masalahnya bukan hanya kesulitan melakukan investasi baru. Perusahaan-perusahaan tersebut juga kesulitan menjual aset yang sudah dimiliki. Dalam satu dekade sebelumnya, kelompok 10 perusahaan itu dilaporkan menginvestasikan sekitar US$137 miliar di China, tetapi hanya merealisasikan sekitar US$38 miliar melalui exit.
Hingga akhir 2024, tidak ada satu pun dari mereka yang tercatat menjual atau mencatatkan perusahaan portofolio China melalui transaksi yang diumumkan secara publik pada tahun tersebut. Dari awal 2022 hingga akhir 2024, investasi baru mereka hanya sekitar US$5 miliar.
Pada 2025, kelompok tersebut kembali tidak mencatat satu pun divestasi penuh yang diumumkan secara publik dari perusahaan portofolio China daratan—untuk tahun kedua berturut-turut.
Bagi investor institusional, ini menjadi persoalan besar. Perusahaan private equity harus mengembalikan dana kepada limited partners—seperti dana pensiun, dana kekayaan negara, kantor pengelola aset keluarga, dan institusi lainnya—sebelum dapat meyakinkan mereka untuk berkomitmen pada dana baru. Ketika aset tertahan, arus kas melemah dan minat terhadap eksposur China ikut menyusut.
Pelaporan sebelumnya juga menyebutkan bahwa penggalangan dana dalam dolar AS untuk perusahaan private equity yang terutama berinvestasi di China nyaris terhenti. Terbentuk lingkaran yang sulit diputus: exit yang lemah menghambat penggalangan dana, pendanaan yang terbatas mengurangi kemampuan berinvestasi, dan minimnya transaksi baru mempersempit jaringan peluang di pasar lokal.
Angka nol harus dibaca secara hati-hati. Ini adalah ukuran pengungkapan transaksi, bukan sensus atas seluruh investasi di China. Angka tersebut tidak membuktikan bahwa 10 perusahaan itu sama sekali tidak memiliki eksposur China, mengubah struktur portofolio, melakukan investasi minoritas, atau bertransaksi secara privat.
Data itu juga tidak menggambarkan seluruh industri private equity China. Menurut laporan Bain, volume dan nilai transaksi di Greater China meningkat untuk tahun kedua berturut-turut pada 2025, sementara nilai exit mencapai level tertinggi sejak 2022. Artinya, kemunduran ini terutama mencerminkan kendala yang dihadapi perusahaan global yang bergantung pada modal internasional dan dolar AS, bukan keruntuhan seragam di semua segmen modal China.
Cerita China menjadi penting bagi kawasan yang lebih luas karena terjadi bersamaan dengan tekanan pendanaan Asia-Pasifik. Dana private equity yang berfokus pada Asia-Pasifik menghimpun US$58 miliar pada 2025, tidak termasuk kendaraan berdenominasi renminbi. Angka itu turun 37% dari tahun sebelumnya dan merupakan level terendah dalam 12 tahun.
Investor kini menuntut bukti yang lebih jelas mengenai likuiditas, realisasi keuntungan, dan kemampuan menghasilkan imbal hasil secara berulang. Negara atau pasar dengan aturan yang lebih mudah diprediksi, perpindahan modal yang lebih lancar, dan jalur exit yang lebih kuat dapat menarik perhatian manajer investasi yang mengalihkan fokus dari China.
Karena itu, persoalan utama China bukan hanya valuasi. Istilah yang semakin penting adalah keterinvestasian—apakah investor dapat menemukan peluang yang diizinkan, memperoleh persetujuan, memindahkan modal, dan pada akhirnya mengembalikan hasil investasi.
Proposal Beijing pada Juni 2026 untuk menstabilkan investasi asing mungkin membantu memperbaiki persepsi secara terbatas. Namun, pernyataan kebijakan saja kemungkinan tidak cukup untuk menghidupkan kembali aktivitas buyout asing berskala besar selama ketidakpastian penegakan aturan, pembatasan sektor strategis, kontrol geopolitik, kekhawatiran repatriasi modal, dan lemahnya likuiditas exit belum terselesaikan.
Dengan demikian, temuan terbaru ini belum membuktikan bahwa private equity global telah meninggalkan China untuk selamanya. Tetapi bagi salah satu kelompok investor paling berpengaruh di dunia, jalur investasi normal—masuk, mengembangkan perusahaan, menjualnya, lalu mengembalikan dana kepada investor—kini praktis terputus.