Pada April 2026, pemerintah Zambia menangguhkan rezim akses terbuka pada jalur pipa yang menghubungkan wilayah pertambangan tembaga di negara itu dengan pelabuhan Dar es Salaam di Tanzania. Dalam pengaturan darurat tersebut, Vitol memperoleh akses eksklusif untuk menyalurkan solar hingga September. Dana Moneter Internasional (IMF) dilaporkan mendesak pemerintah Zambia untuk mengakhiri pengaturan itu.
Kesepakatan tersebut memperlihatkan pertukaran klasik antara keamanan pasokan dan persaingan usaha. Di satu sisi, pengaturan eksklusif dapat membantu mencegah kelangkaan bahan bakar di negara yang sangat bergantung pada solar untuk pertambangan, angkutan jalan, dan kegiatan ekonomi. Di sisi lain, kebijakan itu mengesampingkan prinsip akses terbuka, mempersempit ruang bagi importir lain untuk bersaing, dan menimbulkan risiko terkait harga, transparansi, serta kesinambungan pasokan apabila pemasok tunggal tidak mampu memenuhi kewajibannya.
Namibia menetapkan Vitol sebagai satu-satunya pemasok bahan bakar pada Juli hingga September 2026. Secara terpisah, menteri energi negara tersebut mencabut pembatasan yang sebelumnya melarang Nasan Energies membeli bahan bakar dari Vitol selama lima tahun.
Larangan itu sebelumnya diberlakukan oleh otoritas persaingan sebagai syarat persetujuan atas akuisisi 52 stasiun pengisian bahan bakar bermerek Engen dan Shell oleh Nasan dari Vivo Energy, unit yang dimiliki Vitol.
Pencabutan larangan tersebut dapat memperbaiki ketersediaan bahan bakar dalam jangka pendek, tetapi juga mengurangi perlindungan struktural yang dirancang untuk mencegah konsentrasi vertikal. Jika importir, pemasok grosir, dan jaringan ritel memiliki keterkaitan yang terlalu erat, persaingan harga dan kemampuan perusahaan lain untuk melakukan pengadaan secara independen dapat melemah.
Banyak pasar di Afrika bagian selatan dan timur bergantung pada produk minyak olahan dari luar negeri. Akibatnya, gangguan di Timur Tengah tidak hanya menaikkan harga minyak, tetapi juga dapat mengancam ketersediaan fisik solar dan bensin.
Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan defisit pasar minyak global sebesar 1,8 juta barel per hari pada kuartal ketiga, setelah konflik baru di Timur Tengah dan gangguan maritim menghambat pemulihan pasokan. Dalam kondisi seperti ini, akses Vitol terhadap kargo dan pilihan logistik menjadi semakin bernilai.
Pengaruh itu juga diperkuat oleh posisi Vitol di sektor hilir. Vivo Energy merupakan perusahaan pemasaran dan distribusi bahan bakar berskala pan-Afrika untuk produk bermerek Shell dan Engen, serta mencantumkan Vitol sebagai salah satu pemegang sahamnya. Dengan demikian, Vitol memiliki jalur dari pengadaan internasional, distribusi grosir, hingga pelanggan ritel dan komersial.
Namun, hal tersebut tidak berarti seluruh gerai Engen atau Vivo Energy otomatis menjadi bagian dari setiap kesepakatan eksklusif nasional. Jaringan ritel itu lebih tepat dipahami sebagai faktor yang membuat peran Vitol dalam pasokan semakin penting: keunggulan dalam mengendalikan kargo dapat diperkuat oleh penempatan produk di hilir, hubungan dengan pelanggan, dan jaringan stasiun bermerek.
Ekspansi Vitol tidak berhenti pada rantai pasok minyak. Melalui VC Renewables, unit energi terbarukannya, Vitol mengakuisisi kampus pusat data berkapasitas 600 megawatt di South Carolina dari Meridian Gridworks. Meridian tetap menjadi pengembang proyek, sementara Vitol dan VC Renewables akan membantu mengembangkan pasokan energi serta infrastruktur penyimpanan di lokasi tersebut. Kesepakatan ini disebut sebagai salah satu langkah langka perusahaan perdagangan komoditas besar ke sektor infrastruktur kecerdasan buatan.
Vitol menyebut pendekatan itu sebagai integrasi infrastruktur digital dan energi. Model “powered land” tersebut menggabungkan gas alam, tenaga surya, penyimpanan baterai, serta pembangkit berbasis sel bahan bakar atau pembangkit di lokasi untuk memenuhi kebutuhan listrik kampus pusat data.
Nilai komersialnya bukan sekadar menyediakan lahan atau menjual listrik. Vitol berupaya menawarkan kepada pengembang pusat data akses yang lebih cepat dan lebih andal terhadap listrik dalam jumlah besar, terutama ketika sambungan ke jaringan listrik umum menghadapi keterbatasan kapasitas dan antrean panjang.
Secara strategis, langkah ini memperluas kemampuan inti Vitol—mengelola pasokan energi, infrastruktur, serta risiko harga dan ketersediaan—dari logistik minyak bumi ke pelanggan listrik berbeban tinggi seperti pusat data AI. Namun, model tersebut juga menimbulkan pertanyaan baru tentang ketergantungan pada gas, dampak terhadap jaringan listrik, emisi, perizinan lokal, dan kemungkinan terikatnya pelanggan pada kontrak listrik atau bahan bakar jangka panjang.
Benang merah dari kedua ekspansi tersebut adalah penguasaan atas akses energi yang terbatas: saluran impor bahan bakar darurat di Afrika dan akses listrik berkapasitas tinggi untuk komputasi AI di Amerika Serikat.
Bagi pemerintah, pengadaan darurat mungkin diperlukan untuk mencegah kelangkaan. Namun, kebijakan semacam itu idealnya disertai dengan:
Tanpa pengaman tersebut, solusi jangka pendek untuk mengatasi krisis pasokan dapat berubah menjadi konsentrasi pasar jangka panjang—dengan satu perusahaan berperan sebagai pemasok, pengelola infrastruktur, dan penjaga akses energi.