Kesepakatan Irak dan Turki selama satu tahun mempertahankan penggunaan sistem pipa minyak Irak–Turki menuju terminal Ceyhan di pesisir Mediterania. Kesepakatan itu menetapkan target atau volume minimum sedikitnya 750.000 barel per hari.
Jalur Ceyhan penting karena memungkinkan Irak mengirim minyak tanpa melewati Selat Hormuz dan mengurangi ketergantungan pada fasilitas pemuatan di Teluk.
Baghdad juga mendorong pembangunan koneksi Basra–Fishkhabur, dekat perbatasan Turki, yang berpotensi terhubung dengan sistem Ceyhan. Selain itu, Irak dan Suriah telah menandatangani nota kesepahaman untuk menghidupkan kembali rencana pipa Haditha–Baniyas menuju Mediterania.
Namun, nota kesepahaman tersebut masih merupakan tahap awal. Jalur baru melalui Suriah belum dapat langsung digunakan; pembangunan dan investasi besar masih diperlukan, dengan estimasi waktu pengerjaan sekitar dua hingga dua setengah tahun menurut laporan terkait.
Mekanisme ini terutama mengatur ulang pengiriman barel yang sudah diizinkan—termasuk koridor transportasi, akses pembeli, titik pemuatan, dan pengaturan pemasaran—bukan menaikkan batas produksi.
Karena Baghdad menyatakan tetap mematuhi batasan OPEC+, pemulihan ekspor dimaksudkan untuk mengembalikan atau mengalihkan volume minyak di dalam kuotanya. Kebijakan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengatasi persoalan kepatuhan terhadap kuota dengan cara meningkatkan produksi. Pada Agustus, ekspor Irak dilaporkan rata-rata sekitar 2 juta barel per hari.