Survei Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan adanya pengetatan lebih lanjut pada kondisi pembiayaan secara keseluruhan, terutama bagi usaha kecil dan menengah (UKM). Perusahaan menghadapi biaya pinjaman yang lebih tinggi serta akses pendanaan yang lebih terbatas.
Bank-bank di kawasan euro juga melaporkan pengetatan moderat terhadap standar kredit untuk pinjaman atau fasilitas kredit bagi perusahaan. Secara bersih, 7% bank menyatakan memperketat standar tersebut pada kuartal II 2026.
Situasi ini konsisten dengan kemungkinan memburuknya profitabilitas dan ketahanan arus kas sebagai faktor yang membuat lebih banyak perusahaan rentan mengalami kebangkrutan. Namun, angka pendaftaran dan kebangkrutan Eurostat sendiri tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat antara pengetatan pembiayaan dan meningkatnya kebangkrutan.
Bukti yang tersedia dalam materi sumber tidak mencantumkan negara-negara dengan kenaikan atau penurunan terbesar dalam kebangkrutan maupun pendaftaran usaha secara kuartalan. Karena itu, negara dan besar perubahannya tidak dapat disebutkan secara andal berdasarkan data yang tersedia.
Materi Eurostat mencakup Uni Eropa dan kawasan euro, tetapi persentase perubahan kuartal II 2026 khusus untuk kawasan euro tidak tersedia dalam bukti yang diberikan. Dengan demikian, angka tersebut tidak dapat dinyatakan secara presisi.
Lonjakan kebangkrutan sebesar 21,1% pada sektor pendidikan dan kegiatan sosial menunjukkan tekanan finansial yang sangat kuat pada aktivitas yang mencakup pendidikan, layanan sosial, dukungan keluarga, dan perawatan lansia.
Meski demikian, angka tersebut bukan berarti setiap penyedia layanan di sektor-sektor itu mengalami kegagalan. Statistik tersebut menggambarkan perubahan jumlah kebangkrutan pada tingkat sektor dalam satu kuartal, bukan profitabilitas atau kualitas layanan seluruh perusahaan.