Emas spot turun sekitar 0,4–0,5% ke kisaran US$4.395 per troy ounce pada perdagangan Eropa, sebelum pelemahan berlanjut hingga turun 1,1% ke US$4.364,90 pada awal sesi AS. Kenaikan imbal hasil Treasury AS, terutama tenor 10 tahun, meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga.
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Why did gold retreat on Tuesday after three straight sessions of gains, falling about 0.4–0.5% to near $4,395 per ounce in European trading. Article summary: Gold’s early European decline reflected the market’s inflation and yield channel overwhelming its usual geopolitical safe haven appeal: higher oil prices and a sharp rise in Treasury yields increased the opportunity cost. Topic tags: general web, regulation, benchmarks, finance, ecommerce. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermar
Harga emas mundur pada Selasa, 18 Agustus 2026, setelah mencatat kenaikan dalam sesi-sesi sebelumnya. Di perdagangan Eropa, emas spot turun sekitar 0,4–0,5% ke area US$4.395 per troy ounce, menjauh dari penutupan Senin di atas US$4.417. Data pasar juga menunjukkan kontrak emas berjangka berada di US$4.393,80, turun 0,54%.
Pelemahan ini bukan semata-mata karena investor meninggalkan aset aman. Pergerakan emas kali ini lebih banyak ditentukan oleh hubungan antara harga minyak, inflasi, dan imbal hasil obligasi: ketika imbal hasil naik, memegang emas—yang tidak membayar bunga atau kupon—menjadi relatif kurang menarik.
Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun melanjutkan kenaikan, sementara imbal hasil tenor panjang lainnya mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun. Imbal hasil Treasury 30 tahun bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007.
Kenaikan imbal hasil meningkatkan opportunity cost, atau biaya peluang, memegang emas. Investor dapat memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dari surat utang AS sehingga daya tarik logam mulia berkurang, khususnya ketika pasar mulai memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.
Tekanan tersebut kemudian makin terasa. Pada awal perdagangan sore di Amerika Serikat, harga emas spot tercatat turun 1,1% menjadi US$4.364,90 per ounce. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember akhirnya ditutup turun 1,2% menjadi US$4.420,60.
Harga minyak naik karena prospek kesepakatan damai atau gencatan senjata antara Washington dan Teheran meredup. Iran juga disebut akan beralih ke sikap “sepenuhnya ofensif” setelah upaya merundingkan penghentian konflik permanen mengalami kebuntuan.
Kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi. Jika tekanan harga kembali menguat, Federal Reserve—bank sentral AS—bisa memiliki lebih sedikit ruang untuk memangkas suku bunga, atau bahkan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Prospek tersebut mendorong imbal hasil obligasi naik dan memberi tekanan tambahan pada emas.
Minyak Brent kemudian menetap di US$91,02 per barel, level penutupan tertinggi sejak 24 Juli. Dengan demikian, meski risiko konflik di Timur Tengah tetap memicu permintaan aset safe haven, guncangan dari sisi inflasi dan imbal hasil lebih dominan pada sesi tersebut.
Pada sesi sebelumnya, emas mendapat dukungan dari dolar AS yang lebih lemah dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Dolar yang melemah membuat emas—yang dihargai dalam dolar—lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Data ekonomi AS yang lebih lunak juga mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Namun, sumber yang tersedia tidak memverifikasi secara pasti bahwa emas naik lebih dari 1% pada penutupan Senin. Salah satu data menunjukkan emas spot naik 0,9% ke US$4.417,24, sedangkan laporan lain mencatat kenaikan tipis pada awal perdagangan Selasa.
Investor menantikan risalah rapat The Fed bulan Juli untuk melihat bagaimana para pejabat menimbang pelemahan ekonomi terhadap risiko inflasi baru yang dipicu harga minyak. Data kehilangan pekerjaan yang tidak terduga, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, dan penjualan ritel yang melemah sebelumnya telah menekan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Risalah tersebut penting karena dapat menentukan arah dua pendorong utama emas. Jika isinya menunjukkan bahwa The Fed lebih khawatir terhadap perlambatan ekonomi, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dapat kembali mendukung emas. Sebaliknya, jika inflasi energi dianggap lebih mengancam, pasar dapat memperkirakan imbal hasil tetap tinggi—yang berpotensi menekan harga emas lebih lanjut.
Angka probabilitas sekitar 65% untuk suku bunga tidak berubah hingga akhir tahun tidak dapat dipastikan berdasarkan sumber yang tersedia.
Logam mulia lain juga bergerak turun dalam perdagangan Selasa. Perak spot melemah 1% menjadi US$65,11 per ounce, platinum turun 1,2% menjadi US$1.748,56, dan paladium merosot 1,2% menjadi US$1.317,01.
Jadi, kemunduran emas pada Selasa terutama mencerminkan perubahan prioritas pasar: kenaikan minyak dan imbal hasil obligasi memperbesar kekhawatiran inflasi, sementara keuntungan memegang aset berbunga menjadi lebih menarik. Permintaan safe haven tetap ada, tetapi belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari pasar obligasi dan energi.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Emas spot turun sekitar 0,4–0,5% ke kisaran US$4.395 per troy ounce pada perdagangan Eropa, sebelum pelemahan berlanjut hingga turun 1,1% ke US$4.364,90 pada awal sesi AS.
Emas spot turun sekitar 0,4–0,5% ke kisaran US$4.395 per troy ounce pada perdagangan Eropa, sebelum pelemahan berlanjut hingga turun 1,1% ke US$4.364,90 pada awal sesi AS. Kenaikan imbal hasil Treasury AS, terutama tenor 10 tahun, meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga.
Harga minyak naik karena harapan gencatan senjata AS–Iran memudar dan Iran mengisyaratkan sikap yang lebih ofensif, sehingga kekhawatiran inflasi kembali menguat.