Rusia memanggil Duta Besar Jepang Akira Muto pada 18 Agustus 2026 setelah Jepang mengecam kunjungan Vladimir Putin ke Iturup pada 13 Agustus, yang dikenal sebagai Etorofu di Jepang. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Galuzin menegaskan bahwa kedaulatan Rusia atas Kepulauan Kuril selatan tidak dapat diganggu gug...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What prompted Russia to summon Japanese Ambassador Akira Muto after President Vladimir Putin’s August 13, 2026, visit to Iturup (Etorofu) in. Article summary: Russia summoned Ambassador Akira Muto to protest Tokyo’s condemnation of Putin’s August 13 visit to Russian-administered Iturup—Etorofu in Japanese—rather than because of the visit alone. Moscow treated Japanese statemen. Topic tags: general, general web, news. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers
Rusia memanggil Duta Besar Jepang Akira Muto pada 18 Agustus setelah Tokyo mengecam kunjungan Presiden Vladimir Putin pada 13 Agustus ke Iturup—pulau yang dikelola Rusia dan disebut Etorofu oleh Jepang. Pemicu langsungnya bukan sekadar kunjungan Putin, melainkan pernyataan Jepang bahwa presiden Rusia tidak seharusnya mengunjungi wilayah yang diklaim Tokyo.
Jepang memprotes kunjungan tersebut karena menganggap Iturup sebagai salah satu dari empat Wilayah Utara yang merupakan bagian dari Jepang. Rusia memiliki posisi berbeda: Moskow menganggap Kepulauan Kuril selatan sebagai wilayah Rusia dan menolak klaim Tokyo bahwa kehadiran Putin di sana tidak dapat diterima.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut kecaman Jepang telah melewati batas, sementara Kementerian Luar Negeri Rusia menggambarkan pernyataan Tokyo sebagai sikap anti-Rusia.
Pemanggilan Muto merupakan respons diplomatik timbal balik. Jepang sebelumnya telah memanggil duta besar Rusia setelah kunjungan Putin. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyebut perjalanan itu “sama sekali tidak dapat diterima” dan mengatakan kunjungan tersebut melukai perasaan rakyat Jepang. Tokyo juga mempertimbangkan sanksi tambahan terhadap Moskow.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Galuzin menyampaikan protes keras yang disebut Moskow sebagai protes tegas. Berdasarkan keterangan Kementerian Luar Negeri Rusia, Galuzin kembali menegaskan bahwa kedaulatan dan yurisdiksi Rusia atas Kepulauan Kuril selatan tidak dapat diganggu gugat.
Moskow menyatakan kepulauan tersebut menjadi milik Rusia setelah Perang Dunia II. Karena itu, setiap tantangan terhadap posisi tersebut dianggap tidak dapat diterima oleh Rusia.
Galuzin juga mengaitkan sengketa pulau dengan memburuknya hubungan Rusia-Jepang secara lebih luas. Rusia menyinggung sanksi Jepang terhadap Moskow serta dukungan politik dan material Tokyo untuk Ukraina. Pihak Rusia memperingatkan bahwa mereka berhak mengambil tindakan balasan yang dianggap perlu jika Jepang terus menjalankan kebijakan yang dipandang tidak bersahabat. Namun, laporan yang tersedia tidak menyebutkan tindakan balasan baru yang langsung diberlakukan.
Muto tidak langsung menghadiri pemanggilan tersebut. Pejabat Rusia mengatakan mereka pada awalnya diberi tahu bahwa sang duta besar sedang berada di luar Moskow atau dalam kondisi tidak sehat. Laporan berikutnya menyebut adanya penundaan sebelum ia akhirnya datang ke Kementerian Luar Negeri Rusia.
Rincian waktu dan alasannya berbeda-beda. Salah satu laporan menyebut penundaan selama dua hari, sedangkan laporan lain mengatakan Muto awalnya tidak berada di Moskow dan kemudian disebut sedang sakit.
Muto akhirnya menghadiri pertemuan itu dan mengatakan telah menjelaskan posisi Tokyo kepada pihak Rusia dengan cara yang tepat. Namun, pejabat Rusia menggambarkan keterlambatan tersebut sebagai tanda lain bahwa Jepang tidak bersedia menerima posisi Moskow.
Respons Tokyo sangat tegas. Takaichi menyebut kunjungan Putin tidak dapat diterima, sementara Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menyampaikan protes keras dan memanggil duta besar Rusia. Jepang kembali menegaskan bahwa empat pulau—Iturup atau Etorofu, Kunashir atau Kunashiri, Shikotan, serta kepulauan kecil Habomai—merupakan Wilayah Utara Jepang.
Jepang juga mempertimbangkan sanksi tambahan setelah kunjungan tersebut. Hal ini penting karena sanksi dan dukungan Jepang kepada Ukraina sudah menjadi bagian dari keluhan resmi Moskow terhadap Tokyo. Akibatnya, sengketa wilayah semakin sulit dipisahkan dari pertentangan yang lebih luas terkait perang Rusia di Ukraina.
Amerika Serikat menyatakan dukungan kepada posisi Jepang. Washington kembali mengakui kedaulatan Jepang atas Wilayah Utara dan mengatakan dukungannya kepada Jepang tetap tidak berubah setelah kunjungan Putin.
Keempat pulau di bagian selatan rantai Kepulauan Kuril itu berada di bawah administrasi Rusia, tetapi diklaim Jepang. Pulau-pulau tersebut direbut pasukan Uni Soviet pada hari-hari terakhir Perang Dunia II. Perbedaan tafsir mengenai status wilayah setelah perang masih menjadi inti perselisihan kedua negara.
Kementerian Luar Negeri Jepang menyebut Habomai, Shikotan, Kunashiri, dan Etorofu sebagai Wilayah Utara. Tokyo juga menyatakan keempatnya bukan bagian dari Kepulauan Kuril.
Perselisihan ini turut menghambat penandatanganan perjanjian damai resmi antara Rusia dan Jepang setelah Perang Dunia II. Jepang menjadikan penyelesaian status keempat pulau sebagai syarat untuk menuntaskan perjanjian tersebut. Karena itu, kunjungan presiden Rusia ke salah satu pulau memiliki arti politik besar meskipun tidak langsung mengubah siapa yang mengendalikannya.
Konfrontasi pada Agustus menunjukkan bahwa isu wilayah kini bertumpang tindih dengan keretakan hubungan yang jauh lebih luas. Sanksi Jepang dan dukungannya terhadap Ukraina telah mempersempit ruang negosiasi bilateral, sedangkan pesan publik Moskow adalah bahwa Rusia menganggap administrasinya atas Iturup sebagai sesuatu yang sudah final.
Sebaliknya, respons Tokyo menunjukkan bahwa Jepang tetap memandang pulau tersebut sebagai persoalan utama kedaulatan nasional.
Intinya, Rusia memanggil Muto karena Jepang menantang legitimasi kunjungan Putin dan, secara tidak langsung, kewenangan Rusia atas Iturup. Galuzin menjawab dengan penegasan bahwa kedaulatan Rusia atas pulau-pulau tersebut “tidak dapat diganggu gugat” serta peringatan mengenai kemungkinan tindakan balasan.
Keterlambatan pertemuan, sikap berlawanan Jepang dan Amerika Serikat, ancaman sanksi, serta belum terselesaikannya perjanjian damai pascaperang membuat sengketa lama ini kembali memanaskan hubungan Moskow-Tokyo.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Rusia memanggil Duta Besar Jepang Akira Muto pada 18 Agustus 2026 setelah Jepang mengecam kunjungan Vladimir Putin ke Iturup pada 13 Agustus, yang dikenal sebagai Etorofu di Jepang.
Rusia memanggil Duta Besar Jepang Akira Muto pada 18 Agustus 2026 setelah Jepang mengecam kunjungan Vladimir Putin ke Iturup pada 13 Agustus, yang dikenal sebagai Etorofu di Jepang. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Galuzin menegaskan bahwa kedaulatan Rusia atas Kepulauan Kuril selatan tidak dapat diganggu gugat dan memperingatkan kemungkinan tindakan balasan, tanpa mengumumkan langkah baru...
Konfrontasi ini berakar pada sengketa sejak akhir Perang Dunia II dan memburuk setelah Jepang menjatuhkan sanksi terhadap Rusia serta mendukung Ukraina.