Boom kecerdasan buatan global mendorong investasi besar-besaran pada pusat data. Dampaknya terasa pada permintaan chip, komputer, dan komponen teknologi tinggi lain yang diproduksi China.
Ekspor semikonduktor China selama tujuh bulan pertama 2026 hampir dua kali lipat secara nilai dibandingkan setahun sebelumnya. Data yang dilaporkan menunjukkan ekspor sirkuit terpadu mencapai 216,02 miliar dolar AS, naik 99,5% secara tahunan. Pada periode yang sama, ekspor produk teknologi tinggi secara keseluruhan meningkat sekitar 40,7%.
Dengan demikian, AI bukan hanya cerita tentang perusahaan perangkat lunak atau pusat data. Di sisi manufaktur, tren tersebut menciptakan permintaan terhadap server, chip, sistem kelistrikan, mesin presisi, serta komponen pendukung yang menjadi bagian dari rantai pasok teknologi global.
Pendorong yang lebih mendasar adalah peningkatan kapasitas manufaktur China. Negara itu tidak hanya mengekspor barang konsumsi jadi, tetapi juga mesin, peralatan, dan komponen yang dibutuhkan untuk elektrifikasi serta modernisasi industri.
Ekspor produk mekanikal dan elektrikal mencapai 11,12 triliun yuan pada Januari–Juli, naik 21,2% dan menyumbang 63,8% dari total ekspor China. Porsinya meningkat 3,8 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Di dalam kelompok tersebut, kendaraan listrik, baterai litium, dan turbin angin menjadi contoh produk hijau dan rendah karbon yang tumbuh pesat. Sejumlah data yang dilaporkan menunjukkan ekspor kendaraan listrik naik 71,2%, baterai litium 35,8%, dan turbin angin 34,8%.
Ekspor kendaraan secara keseluruhan juga meningkat 55% dalam tujuh bulan pertama tahun ini, sementara ekspor elektronik dan mesin naik 26%.
Skala produksi, jaringan pemasok yang padat, serta investasi manufaktur yang berkelanjutan membantu menjaga daya saing sektor-sektor ini—bahkan ketika nilai renminbi menguat dan hambatan perdagangan meningkat.
Komposisi baru tersebut memang memberikan ketahanan lebih besar. Produk yang berkaitan dengan AI, mesin industri, kendaraan listrik, dan elektrifikasi memiliki permintaan dari berbagai kawasan serta nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan banyak barang manufaktur tradisional.
Akan tetapi, kesuksesan yang sama juga memicu respons proteksionis. China mencatat surplus perdagangan sebesar 112,5 miliar dolar AS pada Juli, dan sejumlah mitra dagang utama semakin berupaya membatasi arus barang China melalui tarif, penyelidikan perdagangan, atau kebijakan industri domestik.
Artinya, ekspor teknologi tinggi dapat menjadi sumber pertumbuhan sekaligus sumber friksi. Perdebatan mengenai kelebihan kapasitas, akses pasar, subsidi, dan teknologi yang dianggap sensitif kemungkinan akan terus membayangi ekspansi perdagangan China.
Kuatnya permintaan luar negeri terhadap barang berteknologi tinggi membantu mengimbangi lemahnya permintaan domestik China, menurut Bank Dunia. Ekspor menjadi penopang pertumbuhan ketika konsumsi di dalam negeri belum pulih secara seimbang.
Namun, ketergantungan tersebut juga menyimpan risiko. Jika tarif diperluas, kontrol teknologi diperketat, atau ekonomi global melambat, produsen China dapat menghadapi tekanan yang lebih besar karena belum sepenuhnya ditopang oleh konsumsi domestik.
Data yang tersedia lebih menunjukkan strategi diversifikasi dan integrasi daripada penarikan diri dari globalisasi. Perusahaan China menjual produknya ke semakin banyak pasar, sembari memperluas kemampuan produksi, distribusi, dan layanan di luar negeri.
Meski demikian, data dalam sumber yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan perubahan spesifik dari negara ke negara atau menyebut contoh investasi luar negeri perusahaan tertentu. Kesimpulan semacam itu memerlukan data bea cukai bilateral dan informasi primer dari masing-masing perusahaan.
Prioritas yang terlihat adalah mempertahankan daya saing melalui inovasi, kemampuan manufaktur kelas atas, dan rantai pasok yang lebih tangguh. Pada saat yang sama, China perlu memperkuat permintaan domestik agar pertumbuhan tidak terlalu bergantung pada pembeli luar negeri.
Inilah paradoks utama ekspor China pada 2026: peningkatan kualitas produk membantu menjaga pertumbuhan, tetapi keberhasilan itu juga memperbesar tekanan geopolitik dan perdagangan. Semakin besar peran China dalam teknologi, mesin, kendaraan listrik, dan produk hijau dunia, semakin besar pula perhatian terhadap cara produk-produk tersebut memasuki pasar global.