Namun, perbaikan itu rapuh. Pasokan terlihat stabil terutama karena bahan bakar yang tersedia diprioritaskan untuk wilayah tertentu dan permintaan domestik ditekan—bukan karena produksi kilang sudah pulih. Ketika Ukraina kembali melancarkan serangan hampir setiap hari terhadap infrastruktur pengolahan minyak pada akhir Juli dan awal Agustus, cadangan penyangga kembali menipis.
Pada 17 Agustus, Reuters melaporkan kelangkaan baru dan pengetatan penjualan di sedikitnya 10 wilayah. Sejumlah SPBU di wilayah Moskwa bahkan kehabisan bensin, meski solar masih tersedia di sebagian besar SPBU.
Beberapa pembatasan yang paling jelas dilaporkan pada gelombang kedua meliputi:
Laporan tersebut menunjukkan gangguan yang meluas, tetapi istilah “nasional” tidak berarti setiap pengendara Rusia kehilangan akses BBM pada waktu yang sama. Kondisinya sangat berbeda menurut wilayah, jenis bensin, dan SPBU. Laporan sebelumnya memang menemukan gangguan di hampir seluruh wilayah Rusia dan seluruh 11 zona waktunya, tetapi belum ada penghitungan kredibel mengenai berapa banyak orang yang benar-benar tidak dapat membeli bensin.
Gangguan baru yang paling terdokumentasi terjadi di Orsknefteorgsintez di Oblast Orenburg. Setelah serangan drone pada 11 Agustus dan kebakaran yang menyusul, kilang tersebut menghentikan pengolahan. Otoritas regional mengatakan seluruh fasilitas berhenti beroperasi dan perbaikannya dapat memakan waktu hingga enam bulan. Sebagian peralatan yang rusak merupakan barang impor, sementara sanksi dapat mempersulit penggantiannya.
Penutupan Orsk menambah daftar fasilitas besar yang sebelumnya sudah terganggu. Pada Juli, Reuters melaporkan bahwa kerusakan menghentikan operasi di beberapa kilang besar, termasuk NORSI dan Omsk—dua di antara produsen bensin terbesar Rusia.
Perkiraan mengenai total kapasitas pengilangan yang terdampak berbeda-beda menurut sumber dan waktu pengukuran. Namun, sejumlah laporan menyebut gangguan telah memengaruhi lebih dari sepertiga kapasitas pengilangan Rusia. Pada awal Juli, produksi bensin hanya setara sekitar 65% dari konsumsi musiman, sedangkan produksi solar kira-kira berada pada tingkat kebutuhan domestik.
Angka tersebut menggambarkan dampak kumulatif kampanye serangan drone yang lebih luas. Angka itu bukan pengukuran presisi mengenai kapasitas tambahan yang hilang hanya akibat serangan pada akhir Juli dan awal Agustus. Perbedaan ini penting karena kerusakan kilang, pemeliharaan, lonjakan permintaan musiman, dan gangguan distribusi dapat terjadi bersamaan.
Rusia masih menghasilkan minyak mentah dalam jumlah besar. Namun, minyak mentah tidak dapat langsung digunakan untuk mengisi tangki kendaraan. Minyak itu harus diolah menjadi bensin dan solar di kilang, kemudian dikirim melalui jaringan distribusi ke wilayah yang membutuhkan.
Itulah sebabnya Moskwa mulai mencari bensin jadi dari luar negeri. Pasokan datang atau diupayakan dari Belarus, Kazakhstan, India, dan Maroko, melalui jalur kereta api maupun laut. Menurut laporan Reuters dan data pengiriman LSEG, setidaknya satu kargo bensin dari India telah masuk ke pasar domestik Rusia pada pertengahan Agustus.
Rusia juga mengimpor sekitar 30.000 metrik ton bensin AI-92 dari Maroko. Kargo itu dimuat di Tangier dan diturunkan di Murmansk, yang menunjukkan sejauh apa Moskwa harus mencari pasokan pengganti untuk menutup kekurangan produksi dalam negeri.
Perubahan arus dagang dengan India bahkan lebih mencolok. Perusahaan energi Rusia meminta tambahan bensin dari kilang India setelah serangan menghilangkan sebagian besar kapasitas pengilangan Rusia. Sedikitnya 60.000 ton dilaporkan telah dikirim dari India pada awal Juli, dan kargo pertama yang diketahui tiba di Rusia pada Agustus.
Arus perdagangan yang tidak biasa—minyak mentah Rusia mengalir ke pasar global, sementara pembeli Rusia mengimpor bensin jadi dari India—memperlihatkan perbedaan antara krisis minyak dan krisis pengilangan. Rusia memiliki hidrokarbon, tetapi tidak memiliki cukup kapasitas kilang yang berfungsi di lokasi yang tepat untuk mengubahnya menjadi produk yang dibutuhkan di dalam negeri.
Sejumlah laporan menyebut bensin India yang dipasok Nayara Energy, perusahaan yang memiliki hubungan dengan Rosneft Rusia, kemungkinan dibuat dari minyak mentah Rusia. Namun, bukti yang tersedia tidak membuktikan bahwa setiap kargo yang diimpor ke Rusia diolah dari minyak Rusia. Kesimpulan yang lebih aman adalah bahwa perdagangan ini menunjukkan adanya hambatan pada proses pengilangan: Rusia tetap mengekspor atau menyimpan minyak mentah, tetapi membeli bahan bakar jadi karena kapasitas kilang dan distribusi domestik menjadi kendala utama.
Respons Kremlin menggabungkan pengendalian pasokan, pengelolaan permintaan, dan dukungan finansial. Langkah yang dilaporkan selama krisis antara lain:
Pada 30 Juli, Rusia memperpanjang larangan ekspor bensin dan solar hingga 31 Januari 2027. Karena itu, per 18 Agustus belum mungkin memberikan laporan terverifikasi mengenai kebijakan “hingga akhir 2026” secara keseluruhan.
Pembatasan ekspor dapat menyisakan lebih banyak BBM untuk pengendara Rusia, tetapi tidak bisa langsung memperbaiki kilang. Kebijakan itu juga mengalihkan beban krisis: Rusia kehilangan penjualan produk dan pendapatan ekspor di luar negeri, sekaligus harus membayar impor, subsidi, dan logistik darurat.
Data perdagangan memperlihatkan pemisahan struktural yang sama. Ekspor produk minyak Rusia melalui laut turun menjadi 1,18 juta barel per hari pada Juli, dari 1,51 juta barel per hari pada Juni—angka terendah dalam setidaknya satu dekade pada rangkaian data yang dikutip. Sebaliknya, ekspor minyak mentah tetap tinggi, walaupun turun dari puncaknya pada Juni.
Pada saat yang sama, pasokan bensin dan solar dari Belarus mencapai rekor bulanan pada Juli. Kedua tren ini menunjukkan bahwa Rusia memprioritaskan ketersediaan domestik dan mengimpor produk pengganti, sambil tetap memperoleh pendapatan dari ekspor minyak mentah.
Strategi tersebut dapat membeli waktu, tetapi bukan pengganti kapasitas pengilangan. Bensin impor harus menempuh jarak jauh, berhadapan dengan pengendalian harga domestik, dan dikirim ke wilayah yang paling membutuhkan. Sistem itu pun tetap rentan terhadap serangan baru atau gangguan tambahan pada transportasi.
Ada tanda-tanda tekanan politik, tetapi belum cukup bukti untuk mengaitkan perubahan jajak pendapat tertentu secara langsung dengan kelangkaan BBM. Pengukuran Levada pada Juli yang dikutip BBC menempatkan tingkat persetujuan terhadap Vladimir Putin di sekitar 74%, dan angka itu disebut menurun. Laporan yang sama menyebut proporsi responden yang percaya Rusia bergerak ke arah yang benar turun menjadi 52%, dari 61% pada Mei.
Laporan lain menyebut angka yang lebih rendah, tetapi sumber-sumber yang tersedia tidak memberikan rangkaian data yang konsisten dan penjelasan independen untuk mengisolasi dampak krisis BBM. Kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah krisis ini menciptakan gesekan domestik yang terlihat—antrean, penjatahan, tekanan harga, dan intervensi pemerintah—tanpa membuktikan perubahan jangka panjang dalam posisi politik Putin.
Dampaknya terhadap kemampuan Rusia membiayai perang juga sulit dihitung. Turunnya ekspor produk olahan, biaya perbaikan, tagihan impor, dan subsidi BBM dapat mengurangi pendapatan atau meningkatkan belanja negara. Namun, ekspor minyak mentah Rusia masih berlanjut dan periode laporan yang tersedia masih terbatas. Karena itu, belum cukup bukti untuk menyatakan bahwa gelombang kedua krisis BBM secara material melemahkan kemampuan Kremlin mempertahankan perang.
Gelombang kedua memperlihatkan batas dari strategi redistribusi darurat. Moskwa dapat memindahkan pasokan, menekan ekspor, dan membeli bensin jadi dari luar negeri, tetapi langkah-langkah itu hanya mengatasi gejala, bukan memulihkan basis pengolahan yang rusak.
Pelajaran utamanya sederhana: kerentanan Rusia bukan muncul karena negara itu kehabisan minyak, melainkan karena kehilangan cukup banyak kapasitas kilang sehingga lonjakan permintaan musiman mengubah gangguan lokal menjadi persoalan pasokan berskala nasional. Penutupan kilang Orsk, kembalinya penjatahan, dan arus bensin India ke Rusia semuanya menunjuk pada kendala yang sama—eksportir minyak yang semakin terpaksa bersaing untuk mendapatkan produk olahan yang sebelumnya ia pasok ke negara lain.
Namun, perbaikan itu rapuh. Pasokan terlihat stabil terutama karena bahan bakar yang tersedia diprioritaskan untuk wilayah tertentu dan permintaan domestik ditekan—bukan karena produksi kilang sudah pulih. Ketika Ukraina kembali melancarkan serangan hampir setiap hari terhadap infrastruktur pengolahan minyak pada akhir Juli dan awal Agustus, cadangan penyangga kembali menipis.
Pada 17 Agustus, Reuters melaporkan kelangkaan baru dan pengetatan penjualan di sedikitnya 10 wilayah. Sejumlah SPBU di wilayah Moskwa bahkan kehabisan bensin, meski solar masih tersedia di sebagian besar SPBU.
Beberapa pembatasan yang paling jelas dilaporkan pada gelombang kedua meliputi:
Laporan tersebut menunjukkan gangguan yang meluas, tetapi istilah “nasional” tidak berarti setiap pengendara Rusia kehilangan akses BBM pada waktu yang sama. Kondisinya sangat berbeda menurut wilayah, jenis bensin, dan SPBU. Laporan sebelumnya memang menemukan gangguan di hampir seluruh wilayah Rusia dan seluruh 11 zona waktunya, tetapi belum ada penghitungan kredibel mengenai berapa banyak orang yang benar-benar tidak dapat membeli bensin.
Gangguan baru yang paling terdokumentasi terjadi di Orsknefteorgsintez di Oblast Orenburg. Setelah serangan drone pada 11 Agustus dan kebakaran yang menyusul, kilang tersebut menghentikan pengolahan. Otoritas regional mengatakan seluruh fasilitas berhenti beroperasi dan perbaikannya dapat memakan waktu hingga enam bulan. Sebagian peralatan yang rusak merupakan barang impor, sementara sanksi dapat mempersulit penggantiannya.
Penutupan Orsk menambah daftar fasilitas besar yang sebelumnya sudah terganggu. Pada Juli, Reuters melaporkan bahwa kerusakan menghentikan operasi di beberapa kilang besar, termasuk NORSI dan Omsk—dua di antara produsen bensin terbesar Rusia.
Perkiraan mengenai total kapasitas pengilangan yang terdampak berbeda-beda menurut sumber dan waktu pengukuran. Namun, sejumlah laporan menyebut gangguan telah memengaruhi lebih dari sepertiga kapasitas pengilangan Rusia. Pada awal Juli, produksi bensin hanya setara sekitar 65% dari konsumsi musiman, sedangkan produksi solar kira-kira berada pada tingkat kebutuhan domestik.
Angka tersebut menggambarkan dampak kumulatif kampanye serangan drone yang lebih luas. Angka itu bukan pengukuran presisi mengenai kapasitas tambahan yang hilang hanya akibat serangan pada akhir Juli dan awal Agustus. Perbedaan ini penting karena kerusakan kilang, pemeliharaan, lonjakan permintaan musiman, dan gangguan distribusi dapat terjadi bersamaan.
Rusia masih menghasilkan minyak mentah dalam jumlah besar. Namun, minyak mentah tidak dapat langsung digunakan untuk mengisi tangki kendaraan. Minyak itu harus diolah menjadi bensin dan solar di kilang, kemudian dikirim melalui jaringan distribusi ke wilayah yang membutuhkan.
Itulah sebabnya Moskwa mulai mencari bensin jadi dari luar negeri. Pasokan datang atau diupayakan dari Belarus, Kazakhstan, India, dan Maroko, melalui jalur kereta api maupun laut. Menurut laporan Reuters dan data pengiriman LSEG, setidaknya satu kargo bensin dari India telah masuk ke pasar domestik Rusia pada pertengahan Agustus.
Rusia juga mengimpor sekitar 30.000 metrik ton bensin AI-92 dari Maroko. Kargo itu dimuat di Tangier dan diturunkan di Murmansk, yang menunjukkan sejauh apa Moskwa harus mencari pasokan pengganti untuk menutup kekurangan produksi dalam negeri.
Perubahan arus dagang dengan India bahkan lebih mencolok. Perusahaan energi Rusia meminta tambahan bensin dari kilang India setelah serangan menghilangkan sebagian besar kapasitas pengilangan Rusia. Sedikitnya 60.000 ton dilaporkan telah dikirim dari India pada awal Juli, dan kargo pertama yang diketahui tiba di Rusia pada Agustus.
Arus perdagangan yang tidak biasa—minyak mentah Rusia mengalir ke pasar global, sementara pembeli Rusia mengimpor bensin jadi dari India—memperlihatkan perbedaan antara krisis minyak dan krisis pengilangan. Rusia memiliki hidrokarbon, tetapi tidak memiliki cukup kapasitas kilang yang berfungsi di lokasi yang tepat untuk mengubahnya menjadi produk yang dibutuhkan di dalam negeri.
Sejumlah laporan menyebut bensin India yang dipasok Nayara Energy, perusahaan yang memiliki hubungan dengan Rosneft Rusia, kemungkinan dibuat dari minyak mentah Rusia. Namun, bukti yang tersedia tidak membuktikan bahwa setiap kargo yang diimpor ke Rusia diolah dari minyak Rusia. Kesimpulan yang lebih aman adalah bahwa perdagangan ini menunjukkan adanya hambatan pada proses pengilangan: Rusia tetap mengekspor atau menyimpan minyak mentah, tetapi membeli bahan bakar jadi karena kapasitas kilang dan distribusi domestik menjadi kendala utama.
Respons Kremlin menggabungkan pengendalian pasokan, pengelolaan permintaan, dan dukungan finansial. Langkah yang dilaporkan selama krisis antara lain:
Pada 30 Juli, Rusia memperpanjang larangan ekspor bensin dan solar hingga 31 Januari 2027. Karena itu, per 18 Agustus belum mungkin memberikan laporan terverifikasi mengenai kebijakan “hingga akhir 2026” secara keseluruhan.
Pembatasan ekspor dapat menyisakan lebih banyak BBM untuk pengendara Rusia, tetapi tidak bisa langsung memperbaiki kilang. Kebijakan itu juga mengalihkan beban krisis: Rusia kehilangan penjualan produk dan pendapatan ekspor di luar negeri, sekaligus harus membayar impor, subsidi, dan logistik darurat.
Data perdagangan memperlihatkan pemisahan struktural yang sama. Ekspor produk minyak Rusia melalui laut turun menjadi 1,18 juta barel per hari pada Juli, dari 1,51 juta barel per hari pada Juni—angka terendah dalam setidaknya satu dekade pada rangkaian data yang dikutip. Sebaliknya, ekspor minyak mentah tetap tinggi, walaupun turun dari puncaknya pada Juni.
Pada saat yang sama, pasokan bensin dan solar dari Belarus mencapai rekor bulanan pada Juli. Kedua tren ini menunjukkan bahwa Rusia memprioritaskan ketersediaan domestik dan mengimpor produk pengganti, sambil tetap memperoleh pendapatan dari ekspor minyak mentah.
Strategi tersebut dapat membeli waktu, tetapi bukan pengganti kapasitas pengilangan. Bensin impor harus menempuh jarak jauh, berhadapan dengan pengendalian harga domestik, dan dikirim ke wilayah yang paling membutuhkan. Sistem itu pun tetap rentan terhadap serangan baru atau gangguan tambahan pada transportasi.
Ada tanda-tanda tekanan politik, tetapi belum cukup bukti untuk mengaitkan perubahan jajak pendapat tertentu secara langsung dengan kelangkaan BBM. Pengukuran Levada pada Juli yang dikutip BBC menempatkan tingkat persetujuan terhadap Vladimir Putin di sekitar 74%, dan angka itu disebut menurun. Laporan yang sama menyebut proporsi responden yang percaya Rusia bergerak ke arah yang benar turun menjadi 52%, dari 61% pada Mei.
Laporan lain menyebut angka yang lebih rendah, tetapi sumber-sumber yang tersedia tidak memberikan rangkaian data yang konsisten dan penjelasan independen untuk mengisolasi dampak krisis BBM. Kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah krisis ini menciptakan gesekan domestik yang terlihat—antrean, penjatahan, tekanan harga, dan intervensi pemerintah—tanpa membuktikan perubahan jangka panjang dalam posisi politik Putin.
Dampaknya terhadap kemampuan Rusia membiayai perang juga sulit dihitung. Turunnya ekspor produk olahan, biaya perbaikan, tagihan impor, dan subsidi BBM dapat mengurangi pendapatan atau meningkatkan belanja negara. Namun, ekspor minyak mentah Rusia masih berlanjut dan periode laporan yang tersedia masih terbatas. Karena itu, belum cukup bukti untuk menyatakan bahwa gelombang kedua krisis BBM secara material melemahkan kemampuan Kremlin mempertahankan perang.
Gelombang kedua memperlihatkan batas dari strategi redistribusi darurat. Moskwa dapat memindahkan pasokan, menekan ekspor, dan membeli bensin jadi dari luar negeri, tetapi langkah-langkah itu hanya mengatasi gejala, bukan memulihkan basis pengolahan yang rusak.
Pelajaran utamanya sederhana: kerentanan Rusia bukan muncul karena negara itu kehabisan minyak, melainkan karena kehilangan cukup banyak kapasitas kilang sehingga lonjakan permintaan musiman mengubah gangguan lokal menjadi persoalan pasokan berskala nasional. Penutupan kilang Orsk, kembalinya penjatahan, dan arus bensin India ke Rusia semuanya menunjuk pada kendala yang sama—eksportir minyak yang semakin terpaksa bersaing untuk mendapatkan produk olahan yang sebelumnya ia pasok ke negara lain.