Parasit pembawa PIN menunjukkan penurunan kepekaan ex vivo, yakni berdasarkan pengujian di laboratorium, terhadap:
Artemether-lumefantrine menggabungkan turunan artemisinin dengan lumefantrine. Sementara itu, mefloquine merupakan obat antimalaria yang berbeda dan bukan komponen dalam kombinasi tersebut. Meski demikian, keterkaitan PIN dengan ketiga obat itu patut diperhatikan karena menunjukkan bahwa latar belakang genetik yang sama mungkin memengaruhi lebih dari satu bagian dari persenjataan obat antimalaria.
Namun, hasil uji kepekaan di laboratorium tidak sama dengan bukti bahwa satu regimen pengobatan pasti gagal pada pasien. Hubungan antara haplotype PIN dan kegagalan terapi di dunia nyata masih perlu diuji melalui penelitian klinis.
Pemantauan molekuler selama ini banyak berfokus pada kelch13, yang juga ditulis sebagai K13. Varian tertentu pada K13 telah diakui sebagai penanda resistansi parsial terhadap artemisinin. Beberapa varian K13 juga dikaitkan dengan perubahan kepekaan terhadap lumefantrine.
Namun, respons terhadap artemisinin dan obat pasangan tidak dikendalikan oleh satu gen saja. Penelitian sebelumnya mengaitkan perubahan pada pfmdr1, termasuk amplifikasi gen tersebut, dengan perubahan kepekaan terhadap lumefantrine dan mefloquine. Pemantauan yang lebih baru juga menemukan varian parasit lain yang berkaitan dengan perubahan kepekaan terhadap lumefantrine dan dihidroartemisinin di Uganda.
Temuan PX1/PIN mengisi celah berbeda dalam pengawasan. Haplotype ini dapat menjadi kandidat penanda untuk melacak pola parasit yang menyebar cepat dan terkait dengan beberapa obat, termasuk parasit yang penurunan kepekaannya tidak dapat dijelaskan hanya oleh mutasi K13. Hubungan tersebut ditemukan baik pada parasit yang memiliki mutasi K13 secara bersamaan maupun yang tidak.
Bukti yang tersedia mendukung tiga kesimpulan utama:
Sejumlah pertanyaan penting masih terbuka:
Program pemantauan dapat memasukkan PX1/PIN ke dalam panel pengujian terarah atau pemantauan genom utuh, bersama K13 dan penanda obat pasangan yang sudah dikenal. Hasil genetik akan paling bermanfaat jika dibandingkan dengan uji kepekaan obat di laboratorium dan data hasil pengobatan pasien.
Haplotype yang menyebar dan secara bersamaan dikaitkan dengan penurunan kepekaan perlu dimasukkan ke dalam model prediktif. Model tersebut dapat membantu memperkirakan kapan kombinasi obat yang digunakan saat ini mungkin menghadapi tekanan yang lebih besar, tanpa menyimpulkan bahwa kegagalan klinis yang meluas sudah terjadi.
Kemunculan PIN memperkuat perlunya meneliti dosis, lama terapi, dan kombinasi obat alternatif melalui bukti klinis. Temuan laboratorium saja tidak cukup untuk menetapkan regimen baru. Perubahan pengobatan malaria harus mengikuti pedoman klinis dan data setempat.
Karena latar belakang PIN dikaitkan dengan penurunan kepekaan terhadap beberapa obat, temuan ini memperkuat alasan untuk mengembangkan antimalaria dengan mekanisme biologis yang berbeda. Pilihan obat yang lebih beragam dapat mengurangi ketergantungan pada kombinasi yang menghadapi tekanan evolusi dari populasi parasit yang sama.
PIN sebaiknya dipahami sebagai sinyal peringatan dini: haplotype yang terkait dengan PX1, terdiri atas lima perubahan genetik, telah menyebar secara substansial di Uganda dan berkaitan dengan kepekaan laboratorium yang lebih rendah terhadap sejumlah antimalaria penting.
Temuan ini belum menjawab seberapa sering pasien yang terinfeksi parasit PIN mengalami kegagalan pengobatan, dan juga belum menunjukkan bahwa garis keturunan tersebut telah menyebar secara internasional. Karena itu, pemantauan genomik berkelanjutan, penelitian untuk menguji fungsi tiap perubahan genetik, serta tindak lanjut klinis tetap diperlukan.