Laporan keuangan terbaru membantu menjelaskan sikap hati-hati investor. Pendapatan Shein naik 8% menjadi US$41,8 miliar pada 2025, tetapi laba bersih anjlok 38,7% menjadi US$2,06 miliar. Pada kuartal I 2026, perusahaan mencatat rugi bersih US$99 juta. Hasil kuartalan itu mencerminkan perlambatan penjualan setelah Amerika Serikat menghapus pengecualian bea masuk untuk paket bernilai rendah, ditambah beban akuntansi satu kali dalam jumlah besar.
Yang menjadi perhatian bukan hanya satu kuartal yang buruk. Valuasi tinggi masih dapat dipertahankan ketika laba tertekan sementara jika investor yakin pertumbuhan akan kembali melesat. Namun, perlambatan yang dilaporkan Shein membuat premi pertumbuhan tersebut lebih sulit dipertahankan, terutama ketika biaya pemenuhan pesanan, kepatuhan, dan impor meningkat. Investor yang menelaah laporan keuangan terbaru mempertanyakan apakah Shein masih mampu kembali ke laju pertumbuhan yang menopang valuasi 2022.
Shein membangun daya tarik globalnya dengan menjual produk murah yang dikirim langsung kepada konsumen. Di Amerika Serikat, perubahan aturan de minimis—pengecualian bea masuk untuk kiriman bernilai rendah—menghapus salah satu keunggulan biaya penting dalam model tersebut. Menurut dokumen pra-IPO perusahaan, perubahan itu diikuti pelemahan pendapatan Shein di AS.
Eropa juga menambah tekanan. Pengenaan biaya baru terhadap impor bernilai rendah meningkatkan biaya melayani salah satu pasar penting dan menyulitkan peritel yang selama ini mengandalkan harga sangat murah untuk bersaing. Reuters melaporkan bahwa investor memperkirakan biaya baru di Eropa akan menekan pertumbuhan penjualan dan laba Shein.
Perubahan ini tidak otomatis membatalkan model rantai pasok Shein. Namun, manfaat mengirimkan banyak pesanan kecil lintas negara menjadi lebih terbatas. Shein mungkin perlu menanggung biaya tambahan, menaikkan harga, mengubah jaringan pemenuhan pesanan, atau berinvestasi lebih besar pada infrastruktur lokal.
Rencana pencatatan Shein di New York dan London sebelumnya tidak berlanjut. Persetujuan Beijing yang dilaporkan pada Juli untuk pencatatan di Hong Kong menghilangkan salah satu hambatan regulasi utama dan membuka jalan bagi penawaran tersebut. Meski demikian, persetujuan itu tidak menghapus risiko komersial maupun geopolitik yang dihadapi perusahaan.
Jalur Hong Kong dapat memberi Shein akses terhadap likuiditas pasar publik sekaligus menempatkan bisnisnya di bawah pengawasan investor secara berkelanjutan. Perhatian pasar tidak hanya akan tertuju pada pertumbuhan penjualan, tetapi juga margin, paparan terhadap aturan perdagangan, konsentrasi rantai pasok, kepatuhan regulasi, dan ketahanan permintaan konsumen.
Prospektus Shein mengungkapkan pengaturan yang dapat mewajibkan perusahaan menerbitkan saham tambahan kepada investor tertentu sebelum IPO apabila valuasi penawaran berada di bawah ambang yang telah ditentukan. Jika ketentuan itu berlaku, pemegang saham publik baru berpotensi mengalami dilusi. Akibatnya, nilai ekonomi yang sebenarnya diterima pembeli IPO bisa kurang menarik dibandingkan kesan yang diberikan oleh angka valuasi utama.
Hal ini semakin relevan dalam pencatatan dengan valuasi yang turun tajam. Valuasi lebih rendah mungkin meningkatkan peluang IPO terlaksana, tetapi perlindungan bagi investor lama dapat membuat sebagian dampak penurunan valuasi ditanggung oleh investor baru.
IPO Shein di Hong Kong lebih tepat dipahami sebagai peristiwa penetapan ulang valuasi daripada perayaan atas kelanjutan pertumbuhan yang sangat cepat. Jika penawaran berhasil di kisaran harga tersebut, Shein akan memperoleh likuiditas dan valuasi publik yang dapat digunakan untuk membangun kembali kepercayaan investor.
Sebaliknya, sambutan pasar yang lemah, pemangkasan harga lebih lanjut, atau debut yang tidak stabil akan memperkuat pandangan bahwa ekonomi pertumbuhan Shein sebelumnya telah melemah secara permanen akibat perubahan aturan perdagangan, kenaikan biaya operasional, dan persaingan yang semakin sengit.
Pertanyaan utamanya kini bukan sekadar apakah Shein masih dapat menjual lebih banyak pakaian murah. Yang lebih penting, apakah perusahaan mampu mempertahankan pertumbuhan dan laba yang cukup setelah aturan yang dulu membuat model lintas batasnya sangat efisien menjadi kurang menguntungkan.