IMDA menilai transaksi itu berdasarkan kerangka persaingan telekomunikasi Singapura. Dalam proses tersebut, regulator menyatakan telah menerima informasi yang menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan penggunaan spektrum yang tidak ditugaskan kepada Simba. Karena hasil penyelidikan itu dapat memengaruhi penilaian merger, IMDA menghentikan proses pemeriksaan hingga waktu yang belum ditentukan.
M1 tetap berada di bawah kepemilikan Keppel dan tidak menjadi bagian dari Simba. Keppel kini menjalankan rencana alternatif untuk meningkatkan profitabilitas dan daya saing M1, antara lain melalui penyesuaian skala bisnis dan pengurangan biaya. Targetnya adalah penghematan biaya tahunan berkelanjutan sebesar S$70 juta pada 2028. M1 telah mencapai penghematan dengan laju tahunan sekitar S$4 juta sepanjang tahun berjalan dan menargetkan S$10 juta pada akhir 2026.
Jika dilakukan dengan baik, penghematan tersebut dapat meningkatkan produktivitas dan memberi M1 ruang lebih besar untuk bersaing dalam kualitas jaringan, produk, serta pengalaman pelanggan. Namun, program pengurangan biaya juga memiliki risiko pelaksanaan. Sumber yang tersedia tidak menunjukkan bahwa M1 pasti akan memangkas investasi jaringan, pemeliharaan, atau dukungan pelanggan. Sumber-sumber tersebut juga belum membuktikan bahwa kualitas layanan telah memburuk.
Artinya, bagi pelanggan, dampak langsungnya adalah kesinambungan: jaringan dan operasional ritel M1 tetap dikelola M1. Keppel juga menyatakan akan terus menjajaki peluang konsolidasi di sektor telekomunikasi Singapura.
Kegagalan transaksi membuat Simba kehilangan akses langsung ke aset jaringan, kepemilikan spektrum, basis pelanggan, dan skala operasi M1. Padahal, kombinasi tersebut dirancang untuk membantu operator menyebarkan biaya pembangunan jaringan dan peningkatan teknologi kepada lebih banyak pelanggan.
Sebagai operator mandiri, Simba kini harus mencari solusi sendiri untuk kebutuhan jaringan dan spektrumnya. Pilihannya antara lain memperoleh spektrum tambahan ketika tersedia, membangun lebih banyak situs dan jaringan pendukung, menegosiasikan skema berbagi jaringan atau akses grosir, serta mencari mitra komersial atau transaksi baru.
Semua pilihan itu membutuhkan waktu dan menghadapi batasan finansial, teknis, serta regulasi. Tidak ada satu pun yang langsung memberikan skala seperti yang dijanjikan oleh akuisisi M1.
Penyelidikan spektrum juga menambah ketidakpastian. IMDA menyatakan akan mengambil tindakan penegakan yang sesuai jika pelanggaran terbukti, tetapi sumber yang tersedia belum menunjukkan hasil akhir penyelidikan tersebut.
Bagi pelanggan Simba, hal ini berarti kapasitas dan kualitas layanan tetap perlu dipantau ketika perusahaan beroperasi tanpa dukungan skala M1. Namun, sumber yang tersedia tidak menetapkan bahwa pelanggan Simba pasti akan mengalami penurunan layanan atau kemacetan jaringan.
Pasar seluler Singapura masih terdiri atas empat operator jaringan—Singtel, StarHub, M1, dan Simba—dalam pasar yang matang, padat, dan sangat sensitif terhadap harga. Persaingan dan promosi harga memang membantu konsumen memperoleh tarif yang lebih rendah. Di sisi lain, kondisi itu menekan imbal hasil operator dan menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan empat perusahaan untuk membiayai investasi infrastruktur berikutnya.
Operator telekomunikasi harus terus membiayai spektrum, perangkat radio, serat optik dan jaringan penghubung, peningkatan 5G, ketahanan jaringan, keamanan siber, serta operasional layanan. Perusahaan yang lebih besar berpotensi membagi biaya tersebut kepada lebih banyak pelanggan dan mengurangi duplikasi infrastruktur.
Karena itu, proposal Simba–M1 bukan hanya perubahan kepemilikan. Transaksi tersebut juga dipandang sebagai cara untuk membangun skala yang lebih efisien di pasar yang sudah matang.
Kegagalan merger tidak menghilangkan persoalan ekonomi tersebut. Struktur empat operator tetap menjaga pilihan dan tekanan harga bagi konsumen, tetapi setiap operator masih harus menanggung beban investasi secara terpisah. Inilah sebabnya Keppel tetap menyebut konsolidasi sebagai kemungkinan di masa depan, sembari berupaya memperkuat M1 secara mandiri.
Konsolidasi tidak otomatis menghasilkan manfaat bagi publik. Berkurangnya jumlah operator dari empat menjadi tiga dapat melemahkan persaingan harga, mempersempit pilihan paket, dan meningkatkan risiko kenaikan tarif.
Risiko lain muncul jika target efisiensi dicapai dengan mengorbankan pemeliharaan, kapasitas jaringan, atau dukungan pelanggan. Dalam skenario tersebut, konsumen bisa memperoleh layanan yang lebih lemah, bukan nilai yang lebih baik.
Karena itu, transaksi serupa di masa depan perlu dinilai bukan hanya dari ukuran perusahaan baru, tetapi juga dari perlindungan yang menyertainya. Beberapa hal yang penting antara lain:
Perlindungan tersebut tidak akan menghapus seluruh risiko, tetapi dapat membantu memastikan bahwa manfaat skala diterjemahkan menjadi jaringan yang lebih kuat—bukan sekadar margin keuntungan yang lebih tinggi.
Kesepakatan Simba–M1 berakhir karena peninjauan IMDA ditangguhkan dan persyaratan regulasi tidak dapat diselesaikan sebelum batas waktu 21 Mei. Kegagalan transaksi itu belum menjawab apakah Simba benar-benar melanggar aturan spektrum, dan juga tidak menghapus alasan ekonomi di balik konsolidasi sektor telekomunikasi.
Singapura kini kembali menghadapi keseimbangan yang sulit. Empat operator dapat menjaga persaingan dan harga tetap rendah, tetapi industri harus tetap menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membiayai jaringan yang andal, keamanan siber, ketahanan operasional, dan teknologi masa depan.
M1 akan menjalankan rencana penghematan dan peningkatan daya saing di bawah Keppel, sementara Simba harus mengatasi persoalan spektrum dan kapasitas tanpa skala M1. Jika ada upaya konsolidasi berikutnya, keberhasilannya kemungkinan tidak hanya diukur dari efisiensi atau nilai transaksi, tetapi juga dari kemampuannya melindungi investasi dan kepentingan konsumen secara bersamaan.