Lebih dari 4 juta barel minyak per hari dilaporkan masih bergerak melalui jaringan tanker dan pemindahan muatan rahasia—jauh di bawah sekitar 20 juta barel per hari yang melewati Hormuz sebelum perang. Tanker dari eksportir Teluk dilaporkan mematikan transponder AIS, menyeberangi Hormuz dalam kondisi minim visibilit...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How are Middle Eastern oil producers—particularly the UAE, Iraq, Qatar, and Kuwait—using a covert “dark fleet” of tankers with disabled tran. Article summary: A clandestine shuttle system appears to be preventing a complete loss of Gulf oil: tankers switch off AIS transponders, make low-visibility Hormuz crossings, and transfer cargoes to larger vessels off Oman. The reported . Topic tags: general, news, general web, education, government. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, c
Jaringan pelayaran rahasia membuat sebagian ekspor minyak Teluk tetap mengalir di tengah krisis Selat Hormuz. Tanker yang membawa minyak dari eksportir seperti UEA, Irak, Qatar, dan Kuwait dilaporkan mematikan sistem pelacakan AIS, menyeberangi selat dalam kondisi minim visibilitas, kemudian memindahkan muatan ke kapal lain di lepas pantai Oman.
Volume yang dilaporkan melebihi 4 juta barel per hari. Angka ini cukup besar untuk meredam kekhawatiran akan terhentinya pasokan secara total, tetapi masih jauh di bawah sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak yang sebelumnya melewati Hormuz setiap hari.
Operasi ini lebih mirip layanan antar-jemput daripada jalur ekspor konvensional:
Citra satelit mengidentifikasi 12 pemindahan minyak antarkapal di sepanjang pesisir Oman dan UEA pada 10 Agustus. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian kapal masih menyeberangi Hormuz dalam kondisi “gelap”, saat lalu lintas yang dapat dilacak secara terbuka telah anjlok tajam.
Namun, metode ini tidak berarti selat tersebut kembali terbuka secara normal. Data Kpler yang dikutip BBC menunjukkan hanya delapan hingga 11 kapal yang melintas dalam dua hari pada awal Agustus, dibandingkan lebih dari 100 kapal per hari sebelum perang. CNN secara terpisah melaporkan 84 kapal melintasi selat dalam satu pekan—sekitar 20% dari lalu lintas sebelum konflik.
Pengiriman rahasia mempertahankan semacam katup pasokan ketika lalu lintas yang terlihat hampir berhenti total. Aliran fisik ini dapat mengurangi kekurangan jangka pendek. Fakta bahwa minyak masih berhasil keluar dari Teluk juga berpotensi meredam aksi borong dan premi risiko di pasar minyak.
Sejumlah laporan menyebut pengiriman tersebut membantu mencegah lonjakan harga. Namun, materi yang tersedia tidak secara independen menetapkan kisaran harga Brent tertentu atau membuktikan bahwa perdagangan rahasia itu sendirian menentukan harga minyak.
Perbedaan pentingnya adalah antara menstabilkan pasokan dan menjamin pasokan. Lebih dari 4 juta barel per hari merupakan volume yang berarti, tetapi tetap jauh di bawah tingkat sebelum perang. Gangguan di area pemindahan, berkurangnya awak kapal atau pemilik kapal yang bersedia berlayar, maupun serangan yang berhasil terhadap tanker yang bergerak “gelap” dapat dengan cepat menghapus sebagian besar aliran yang tersisa.
Angka utama ini sulit dipastikan karena pelayaran dengan AIS yang dimatikan tidak mudah diamati. Analis dapat melewatkan kapal yang tidak menyiarkan lokasinya. Sebaliknya, muatan bisa terhitung lebih dari sekali ketika minyak dicatat sebelum dan sesudah pemindahan antarkapal.
Beberapa perkiraan yang dilaporkan antara lain:
Angka-angka itu tidak sepenuhnya sebanding. Sebagian merujuk hanya pada minyak mentah, sebagian lain mencakup produk minyak, dan masing-masing mungkin memakai rentang waktu atau rute berbeda. Kesimpulan paling aman adalah bahwa volume yang material masih keluar dari kawasan tersebut, tetapi tidak ada satu perkiraan pun yang layak dianggap sebagai hitungan waktu nyata yang presisi.
Laporan mengenai serangan terhadap kapal milik atau yang terafiliasi dengan UEA dan ADNOC terlihat tidak konsisten jika tanggal dan metode penghitungannya tidak dipisahkan.
Reuters melaporkan satu kapal yang terhubung dengan ADNOC menjadi sasaran pada 8 Agustus. Laporan Reuters lain menyebut dua kapal ADNOC diserang pada 13 Agustus. Laporan bertanggal 14 Agustus kembali menggambarkan serangan terhadap satu kapal ADNOC.
Laporan insiden tersebut tidak otomatis bertentangan dengan pernyataan ADNOC pada 7 Agustus bahwa 15 kapalnya telah diserang sejak konflik dimulai, termasuk tiga kapal pada pekan itu. Sebelumnya, dua tanker UEA, Mombasa B dan Al Bahyah, dilaporkan terkena serangan. Insiden itu menewaskan satu awak asal India dan melukai delapan lainnya.
Jadi, perbedaannya terutama terletak pada rentang waktu dan cakupan. Satu laporan dapat menggambarkan satu insiden baru, sedangkan angka kumulatif ADNOC mencakup serangan sepanjang konflik. Laporan yang tersedia juga menggunakan istilah berbeda—kapal milik ADNOC, kapal yang terhubung dengan ADNOC, atau kapal yang menjadi sasaran—sehingga angka tersebut tidak boleh langsung dijumlahkan tanpa memeriksa definisinya.
Berlayar tanpa AIS menambah bahaya di jalur laut yang sudah berisiko tinggi. Kapal yang tidak menyiarkan posisinya lebih sulit dikenali oleh kapal lain, pasukan angkatan laut, dan layanan penyelamatan. Penyeberangan malam serta pemindahan muatan antarkapal juga meningkatkan risiko navigasi, tabrakan, kebakaran, dan keterlambatan respons darurat.
Kapal-kapal tersebut juga menghadapi serangan rudal dan drone. Pada Juli, serangan terhadap dua tanker UEA menewaskan satu awak dan melukai delapan orang. Setelah itu, sebuah tanker LNG Qatar rusak di dekat Hormuz. Kebakaran di ruang mesin kapal tersebut menimbulkan risiko ledakan sebelum awak dievakuasi.
Bagi pemilik kapal, risikonya tidak berhenti pada kerusakan fisik. Krisis ini memicu pengalihan rute, keterlambatan, kerentanan muatan, dan persoalan asuransi yang serius. Brookings melaporkan bahwa asuransi untuk kapal yang melewati selat menjadi tidak tersedia atau sangat mahal, sementara pelaut tidak bersedia menempuh rute tersebut.
UEA dapat menghindari sebagian perjalanan melalui Hormuz dengan Abu Dhabi Crude Oil Pipeline, yang menghubungkan produksi darat dengan terminal Fujairah di luar selat. Kapasitas terkini jalur tersebut dilaporkan mendekati 1,8 juta barel per hari. UEA masih mengekspor sekitar volume itu—kurang lebih separuh produksi sebelum perang—bahkan setelah Fujairah terganggu oleh serangan dari Iran.
Pipa West–East yang baru dirancang untuk menggandakan kapasitas ekspor ADNOC melalui Fujairah. Namun, proyek itu diperkirakan baru beroperasi pada 2027, bukan dalam waktu dekat. Karena itu, proyek yang nilainya dilaporkan sekitar 3 miliar dolar AS tersebut tidak dapat menutup kesenjangan pasokan saat ini.
Pipa East–West Saudi Arabia, yang juga dikenal sebagai Petroline, dapat mengangkut minyak mentah dari ladang minyak di bagian timur kerajaan menuju Yanbu di Laut Merah. Reuters melaporkan kapasitas nominalnya mencapai 7 juta barel per hari, tetapi ekspor efektif diperkirakan sekitar 4,5 juta barel per hari, bergantung pada ketersediaan kapal tanker dan dermaga.
Kapasitas itu bukan pengganti instan untuk seluruh lalu lintas Hormuz. Pemanfaatannya bergantung pada infrastruktur, penyimpanan, terminal, kapal tanker, keamanan, serta jenis minyak yang dapat diangkut. Pipa tersebut juga tidak dapat secara langsung membawa ekspor yang berasal dari Kuwait, Qatar, Irak, atau UEA.
Pipa minyak tidak dapat menyelesaikan persoalan LNG Qatar. Gas Qatar harus dikirim ke pembeli luar negeri melalui laut, sehingga tetap terpapar risiko maritim yang sama. Reuters melaporkan kapal LNG Qatar Al Rekayyat terdampar di lepas pantai Oman setelah serangan memicu kebakaran di ruang mesin dan menciptakan risiko ledakan.
Secara terpisah, QatarEnergy mengatakan serangan Iran merusak dua dari 14 kereta LNG Qatar dan salah satu fasilitas gas-to-liquids miliknya. Kerusakan tersebut memangkas sekitar 17% kapasitas ekspor LNG. Kehilangan ini tidak dapat segera digantikan dengan mengalihkan minyak mentah melalui pipa.
Cadangan minyak strategis dan komersial China dapat memengaruhi seberapa cepat gangguan pasokan terasa di pasar global. Jika perusahaan atau pemerintah China menggunakan minyak dari penyimpanan, tekanan untuk berebut pasokan yang dikirim melalui laut dalam waktu dekat dapat berkurang.
Sebaliknya, jika China memilih menambah cadangan atau bersaing agresif untuk mendapatkan kargo yang tersisa, tekanan terhadap pasar dapat meningkat. Laporan yang tersedia tidak menetapkan ukuran, aksesibilitas, maupun kebijakan pelepasan cadangan China yang dapat digunakan. Karena itu, China lebih tepat dipandang sebagai faktor ketidakpastian penting, bukan sumber bantuan yang bisa diandalkan.
Jaringan tanker “gelap” menunjukkan bahwa status Hormuz tidak sesederhana “terbuka” atau “tertutup”. Sebagian minyak masih bergerak melalui saluran yang sangat terbatas dan sulit diukur, dengan mengandalkan penyeberangan berisiko serta pemindahan muatan di lepas pantai Oman.
Namun, pengaturan ini bergantung pada kapal yang bersedia memasuki zona ancaman tinggi, awak yang bersedia bekerja di dalamnya, perusahaan asuransi yang mau menanggung risikonya, serta titik pemindahan yang tetap dapat digunakan. Dengan perkiraan aliran yang berkisar dari sekitar 3 juta hingga 9 juta barel per hari, arah pasokan terlihat lebih jelas daripada skala sebenarnya.
Untuk sementara, pengiriman rahasia itu melunakkan guncangan pasar. Tetapi jaringan tersebut tidak membuat pasokan energi Teluk menjadi aman. Serangan baru, pembatasan asuransi yang lebih ketat, berkurangnya awak kapal, atau perubahan perilaku pembelian China dapat dengan cepat mengubah kekurangan yang masih terkendali menjadi gangguan minyak dan LNG yang jauh lebih besar.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Lebih dari 4 juta barel minyak per hari dilaporkan masih bergerak melalui jaringan tanker dan pemindahan muatan rahasia—jauh di bawah sekitar 20 juta barel per hari yang melewati Hormuz sebelum perang.
Lebih dari 4 juta barel minyak per hari dilaporkan masih bergerak melalui jaringan tanker dan pemindahan muatan rahasia—jauh di bawah sekitar 20 juta barel per hari yang melewati Hormuz sebelum perang. Tanker dari eksportir Teluk dilaporkan mematikan transponder AIS, menyeberangi Hormuz dalam kondisi minim visibilitas, lalu memindahkan muatan ke kapal yang lebih besar di Teluk Oman; citra satelit merekam 12 pemindah...
Jalur pipa hanya memberi bantuan terbatas: rute Fujairah milik UEA kapasitasnya terbatas, Petroline Saudi tidak dapat mengangkut ekspor semua negara Teluk, sementara ekspor LNG Qatar tetap bergantung pada pelayaran.