Penting untuk membedakan antara pembekuan perluasan sponsor dan penghentian total kerja sama. Berdasarkan laporan yang tersedia, kemitraan utama Aramco dengan Aston Martin belum tentu berakhir; yang ditahan adalah suntikan dana tambahan dan rencana ekspansi untuk 2027 .
Bagi Arab Saudi, Aramco bukan sekadar perusahaan minyak biasa. Sebagai perusahaan milik negara, kondisi keuangan dan strategi investasinya berkaitan erat dengan prioritas pemerintah Saudi. Ketika perang meningkatkan kebutuhan belanja negara dan mengganggu jalur ekspor minyak, pengeluaran non-esensial menjadi lebih mudah ditinjau ulang.
Produk domestik bruto Arab Saudi menyusut 4,8 persen secara tahunan pada kuartal II 2026—kontraksi kuartalan terbesar sejak masa pandemi COVID-19. Sektor minyak bahkan turun 24,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya .
BNP Paribas juga memangkas proyeksi pertumbuhan Arab Saudi untuk 2026 dari 4,6 persen menjadi sekitar 0,8 persen. Kenaikan harga minyak memang membantu menopang pendapatan, tetapi manfaatnya tertahan oleh lonjakan pengeluaran pemerintah, termasuk biaya yang berkaitan dengan konflik .
Penutupan hampir total Selat Hormuz—jalur penting bagi sekitar seperlima arus minyak dan gas alam cair dunia—menghambat pengiriman energi dari negara-negara Teluk. Pada bulan pertama perang, negara-negara eksportir minyak di Teluk Persia diperkirakan kehilangan hampir 2 miliar dolar AS per hari dari pendapatan ekspor .
Arab Saudi dapat mengurangi sebagian dampak tersebut melalui jaringan pipa dan fasilitas ekspor di Laut Merah. Meski demikian, gangguan tetap menghantam aktivitas minyak dan menambah ketidakpastian terhadap keuangan negara .
Pendapatan minyak yang lebih tinggi sempat membantu mempersempit defisit anggaran Arab Saudi menjadi sekitar 9 miliar dolar AS pada kuartal II. Namun, perbaikan itu dibatasi oleh meningkatnya belanja pemerintah . IMF juga menyatakan bahwa konflik telah membebani aktivitas nonminyak dan kepercayaan ekonomi
.
Bagi Aston Martin, penundaan ini dapat menciptakan ketidakpastian dalam perencanaan anggaran dan ambisi tim untuk memperkuat posisinya di papan atas F1. Tambahan pendanaan dari sponsor Arab Saudi sebelumnya diharapkan membantu memperbesar kapasitas komersial dan operasional tim.
Namun, laporan yang ada belum menunjukkan bahwa Aramco pasti menarik diri dari kerja sama yang sudah berjalan. Dampak yang paling jelas saat ini adalah tertundanya rencana ekspansi sponsor untuk 2027, ketika Riyadh mengalihkan perhatian dan sumber daya ke kebutuhan ekonomi, energi, serta keamanan yang dianggap lebih mendesak .
Dengan kata lain, keputusan ini bukan semata-mata soal Aston Martin atau Formula 1. Langkah tersebut mencerminkan bagaimana perang dapat memaksa negara dan perusahaan milik negara menunda investasi besar yang bersifat diskresioner—bahkan ketika investasi itu memiliki nilai citra internasional yang tinggi.