Pada 3 Agustus 2026, DOJ memfinalisasi penyelesaian senilai $3,2 juta dengan OpenAI dan anak usahanya, Statsig, atas pelanggaran Immigration and Nationality Act (INA) karena mendiskriminasi pekerja warga AS [2][3]. Denda terdiri dari $1,2 juta penalti sipil dan hingga $2 juta dana kompensasi untuk pekerja AS yang di...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What did the DOJ settlement with OpenAI and Statsig entail, including the alleged violations of the Immigration and Nationality Act, the spe. Article summary: On August 3, 2026, the DOJ's Civil Rights Division (Immigrant and Employee Rights Section) finalized a $3.2 million settlement with OpenAI OpCo, LLC and its subsidiary Statsig, Inc. for violations of the Immigration and . Topic tags: general, government, general web, news. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with
Pada 3 Agustus 2026, Divisi Hak Sipil Departemen Kehakiman AS (DOJ) melalui Seksi Imigran dan Hak Pekerja (IER) memfinalisasi penyelesaian senilai $3,2 juta (sekitar Rp51 miliar) dengan OpenAI OpCo, LLC dan anak usahanya, Statsig, Inc. atas pelanggaran Immigration and Nationality Act (INA). DOJ menemukan bahwa kedua perusahaan melakukan diskriminasi berdasarkan status kewarganegaraan dalam proses perekrutan terkait sertifikasi tenaga kerja permanen (PERM), dengan lebih memilih pekerja pemegang visa sementara dibanding warga negara AS dan penduduk tetap sah . Ini adalah tindakan penegakan hukum INA besar pertama yang menargetkan perusahaan AI terkemuka
.
DOJ menemukan bukti yang cukup bahwa OpenAI dan Statsig melanggar 8 U.S.C. § 1324b, yaitu undang-undang yang melarang pemberi kerja mendiskriminasi pekerja AS berdasarkan status kewarganegaraan . Investigasi mencakup praktik yang dimulai paling lambat Juni 2023 dan berlanjut setidaknya hingga April 2025
. Secara spesifik, perusahaan diduga:
DOJ secara spesifik menyatakan bahwa OpenAI dan Statsig "merekrut dan mempekerjakan pekerja asing untuk posisi tertentu tanpa mengiklankan kesempatan tersebut kepada pekerja AS dengan cara yang konsisten dengan praktik rekrutmen standar" . Penyelesaian ini mencakup kurang dari 10 posisi PERM
.
Penyidik menemukan bahwa OpenAI dan Statsig mengambil langkah-langkah tidak lazim untuk menghalangi pelamar AS, termasuk:
Praktik-praktik ini secara efektif mengarahkan posisi permanen kepada pekerja yang sudah memiliki visa sementara, menghindari kewajiban hukum bahwa pemberi kerja harus terlebih dahulu menguji pasar tenaga kerja AS.
| Komponen | Jumlah |
|---|---|
| Penalti sipil ke pemerintah AS | $1,2 juta |
| Dana kompensasi (back-pay) untuk pekerja AS yang terdampak | Hingga $2 juta |
| Total nilai penyelesaian | $3,2 juta |
Kedua perusahaan tidak mengakui kesalahan sebagai bagian dari penyelesaian .
Berdasarkan penyelesaian ini, OpenAI dan Statsig setuju untuk :
Asisten Jaksa Agung Harmeet K. Dhillon menyatakan, "Adalah ilegal untuk mendiskriminasi pekerja AS dengan lebih memilih pemegang visa sementara untuk suatu pekerjaan" . Pengawasan ini bertujuan untuk memastikan perusahaan tidak mengulangi pola mengandalkan proses PERM untuk mengutamakan pemegang visa sementara di atas pekerja AS
.
Kasus ini sejalan dengan pola konsisten penegakan INA terhadap perusahaan teknologi besar. Denda terbesar dijatuhkan pada masa pemerintahan Biden, namun penegakan hukum terus berlanjut lintas pemerintahan.
DOJ mencapai penyelesaian rekor senilai $14,25 juta ($4,75 juta penalti sipil + $9,5 juta untuk pekerja terdampak) atas klaim bahwa Facebook sengaja menciptakan proses perekrutan terpisah dan tidak publik untuk pemegang visa sementara serta menolak mempertimbangkan pekerja AS untuk lebih dari 2.600 peran . Ini tetap menjadi penyelesaian diskriminasi perekrutan INA terbesar yang pernah diperoleh DOJ
.
DOJ menyelesaikan kasus dengan Microsoft atas klaim bahwa perusahaan mendiskriminasi non-warga AS selama proses perekrutan awal dengan menuntut dokumen imigrasi spesifik yang tidak perlu, termasuk meminta penduduk tetap sah untuk memberikan dokumen lebih banyak atau berbeda dari yang diizinkan hukum .
IER DOJ menangani beberapa kasus skala lebih kecil terhadap perusahaan teknologi dan jasa TI selama periode ini, namun penyelesaian diskriminasi INA besar terhadap raksasa teknologi mengalami akselerasi signifikan pada tahun 2021 dan seterusnya . Penting untuk dicatat, gugatan awal DOJ terhadap Facebook diajukan pada Desember 2020, pada masa pemerintahan Trump pertama .
Pada Februari 2026, DOJ memperoleh penyelesaian dengan Elegant Enterprise-Wide Solutions Inc. atas tuduhan bahwa perusahaan memasang iklan lowongan kerja yang dihasilkan oleh alat AI yang menyertakan pembatasan status kewarganegaraan yang tidak diizinkan hukum . Penyelesaian itu adalah yang kedelapan di bawah inisiatif AI IER
.
Penyelesaian OpenAI/Statsig (2026) adalah tindakan penegakan hukum diskriminasi perekrutan INA besar pertama terhadap perusahaan AI utama dan terjadi di bawah pemerintahan Trump kedua. Meskipun jumlahnya lebih kecil dibanding penyelesaian Facebook, kasus ini menetapkan preseden bahwa perlindungan anti-diskriminasi INA meluas ke praktik perekrutan berbasis PERM di industri AI . Kasus ini juga menandakan fokus penegakan hukum yang berkelanjutan pada praktik perekrutan perusahaan teknologi, terlepas dari rezim pemerintahan yang berkuasa.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Pada 3 Agustus 2026, DOJ memfinalisasi penyelesaian senilai $3,2 juta dengan OpenAI dan anak usahanya, Statsig, atas pelanggaran Immigration and Nationality Act (INA) karena mendiskriminasi pekerja warga AS [2][3].
Pada 3 Agustus 2026, DOJ memfinalisasi penyelesaian senilai $3,2 juta dengan OpenAI dan anak usahanya, Statsig, atas pelanggaran Immigration and Nationality Act (INA) karena mendiskriminasi pekerja warga AS [2][3]. Denda terdiri dari $1,2 juta penalti sipil dan hingga $2 juta dana kompensasi untuk pekerja AS yang dirugikan, ditambah pengawasan DOJ selama tiga tahun terhadap praktik perekrutan perusahaan [2][5][15].
Pelanggaran yang dituduhkan meliputi tidak memasang lowongan secara publik, mewajibkan lamaran dikirim melalui pos (kertas), dan memasang iklan larut malam untuk menghalangi pelamar warga AS [9][11].