Mantan Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov, dalam wawancara eksklusif dengan CBS News (16 Agustus 2026), mengungkapkan bahwa Ukraina akan mampu meluncurkan rudal balistik buatan dalam negeri ke Rusia dalam wak... Fedorov mengkritik strategi perang yang terlalu bergantung pada sistem pertahanan Patriot dan me...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What did ousted Ukrainian Defense Minister Mykhailo Fedorov reveal in his first U.S. interview since being fired about Ukraine's ballistic m. Article summary: I'll search for this recent interview and the associated. Topic tags: general, news, general web. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as factual evidence.
Dalam wawancara pertama dengan media Amerika setelah dipecat, mantan Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov mengungkapkan visi perang yang gamblang dan mengumumkan jadwal ambisius untuk rudal balistik Ukraina. Berbicara kepada CBS News dalam sebuah cerita yang diterbitkan pada 16 Agustus 2026 , Fedorov mengatakan Ukraina akan dapat menyerang Rusia dengan rudal balistik produksi dalam negeri dalam waktu tiga hingga enam bulan — yang berarti pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027
. Ia menyebut uji coba sukses pada bulan Juni oleh produsen pertahanan Ukraina Fire Point sebagai fondasi dari jadwal ini
.
Fedorov menggambarkan tantangan utama perang sebagai duel rudal asimetris: Rusia meluncurkan lebih banyak rudal dalam satu minggu daripada amunisi pencegat Patriot yang diterima Ukraina dalam beberapa bulan . Ia berargumen bahwa satu-satunya strategi yang viable adalah beralih dari intersepsi defensif berbasis Patriot murni ke serangan ofensif terhadap kru dan lokasi peluncur rudal Rusia, dengan mengatakan "mendekati peluncur rudal balistik seharusnya berarti kematian dalam 90% kasus"
.
Terkait pemecatannya sendiri, Fedorov menyatakan bahwa itu didorong oleh dorongannya untuk merombak sistem pengadaan militer yang tidak transparan . Ia secara terbuka mengakui adanya perpecahan yang dalam dengan Panglima Angkatan Bersenjata saat itu, Oleksandr Syrskyi, mengenai prioritas strategis — secara spesifik, fokus Fedorov pada perang drone, kemampuan serangan jarak jauh, dan reformasi pengadaan versus pendekatan komando garis depan Syrskyi yang lebih tradisional
.
Mengenai masa depannya, Fedorov membuka pintu untuk kembali. Ia mengatakan tetap berkomitmen pada inovasi pertahanan Ukraina dan pekerjaannya pada program drone dan rudal berlanjut dalam kapasitas tidak resmi .
Hanya enam hari setelah pemecatan Fedorov pada 15 Juli, Presiden Zelenskyy memberhentikan Panglima Angkatan Bersenjata Oleksandr Syrskyi pada 21 Juli 2026 . Pemecatan ini terjadi di tengah meluasnya protes publik atas pemecatan Fedorov — para demonstran di Kyiv juga menuntut pengunduran diri Syrskyi
. Zelenskyy menggantikan Syrskyi dengan Kolonel Jenderal Mykhailo Drapatyi dalam pergantian komando besar-besaran
. Kedua pemecatan itu secara luas dipandang saling terkait: keluarnya Fedorov memicu krisis politik yang memperlihatkan perpecahan antara inovasi pertahanan sipil dan kepemimpinan militer tradisional, yang pada akhirnya juga merenggut jabatan Syrskyi
.
BBC melaporkan bahwa Syrskyi, 60 tahun, dipandang oleh banyak pihak di Ukraina sebagai komandan sekolah Soviet yang enggan menerapkan perubahan radikal di angkatan darat . Ia digantikan oleh Drapatyi yang berusia 43 tahun, seorang jenderal populer yang tangguh di medan perang
. Pemecatan Syrskyi oleh Zelenskyy dipandang sebagai pembalikan besar: beberapa hari sebelumnya, ia berpihak pada Syrskyi dan memecat Fedorov, tetapi tekanan publik memaksa perubahan kedua yang lebih drastis
.
Pada malam 15 Agustus — hanya sehari sebelum wawancara Fedorov dengan CBS — Ukraina menyerang Progress Rocket and Space Center (TsSKB-Progress) di Samara, Rusia, satu-satunya pabrik peluncur Soyuz-2 di negara itu, menggunakan rudal jelajah FP-5 "Flamingo" baru yang diproduksi oleh produsen Ukraina, Fire Point . Staf Umum Ukraina mengkonfirmasi serangan itu, yang juga menghantam pangkalan udara Savasleyka
. Presiden Zelenskyy memuji operasi tersebut sebagai bagian dari serangkaian serangan jarak jauh yang sukses menargetkan infrastruktur aerospace, militer, dan energi Rusia
. Rudal Flamingo adalah rudal jelajah produksi dalam negeri yang baru, berbeda dari program rudal balistik yang dibahas Fedorov
.
Sebelum dan selama masa jabatannya sebagai menteri pertahanan selama enam bulan (Januari–Juli 2026), Fedorov dipuji karena secara dramatis memperluas kapasitas serangan jarak jauh Ukraina. Sebagai arsitek program perang drone Ukraina (dimulai ketika ia menjabat Menteri Transformasi Digital), ia mengawasi peningkatan operasi serangan jarak jauh — laporan menyebutkan bahwa ia membantu melipatgandakan volume serangan jarak jauh sepuluh kali lipat melalui produksi massal drone serang jarak jauh dan percepatan program rudal dalam negeri . Pada hari pemecatannya — 15 Juli — Fedorov mengungkapkan bahwa Ukraina telah melakukan uji coba sukses sistem rudal balistik baru, dengan akurasi yang ditingkatkan dan biaya yang berkurang 30%
. Ia juga mengamankan kontrak untuk rudal PAC-2 GEM-T, meminta pencegat PAC-3 melalui pembiayaan Eropa, dan menandatangani kontrak besar untuk rudal anti-drone yang lebih murah
.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Mantan Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov, dalam wawancara eksklusif dengan CBS News (16 Agustus 2026), mengungkapkan bahwa Ukraina akan mampu meluncurkan rudal balistik buatan dalam negeri ke Rusia dalam wak...
Mantan Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov, dalam wawancara eksklusif dengan CBS News (16 Agustus 2026), mengungkapkan bahwa Ukraina akan mampu meluncurkan rudal balistik buatan dalam negeri ke Rusia dalam wak... Fedorov mengkritik strategi perang yang terlalu bergantung pada sistem pertahanan Patriot dan menekankan perlunya serangan ofensif terhadap lokasi peluncur rudal Rusia.
Pemecatan Fedorov pada 15 Juli 2026 memicu protes besar di Kyiv yang berujung pada pemecatan Syrskyi enam hari kemudian (21 Juli 2026) dan pengangkatannya Jenderal Mykhailo Drapatyi sebagai panglima baru [3][5][6].