Lab AI China—DeepSeek, Kimi K3, Alibaba—masih setia pakai chip Nvidia untuk model utama mereka karena ketergantungan software pada CUDA [3][5]. Hambatan terbesar bukan chip, tapi ekosistem CUDA: 15+ tahun pustaka matang dan komunitas global, sementara CANN Huawei masih perlu banyak penulisan ulang kode [1][2][6].
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Why do China's leading AI developers still rely on Nvidia chips to train their most advanced models, and what specific barriers — including. Article summary: China's leading AI developers — including those behind DeepSeek, Kimi K3, and Alibaba's models — remain heavily reliant on Nvidia chips for training their most advanced models, despite government pressure and export rest. Topic tags: general, education, news, general web. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fa
Meskipun pemerintah China terus mendorong kemandirian chip dan memberikan tekanan besar, para pengembang AI terkemuka China—termasuk tim di balik DeepSeek, Kimi K3, dan model Qwen milik Alibaba—masih sangat bergantung pada chip Nvidia untuk melatih model bahasa besar (LLM) tercanggih mereka . Hambatan utamanya bukanlah performa perangkat keras, melainkan ketergantungan pada ekosistem software: platform CUDA milik Nvidia sudah menjadi standar de facto dalam pengembangan AI, dan migrasi ke chip Ascend milik Huawei dengan toolkit CANN membutuhkan biaya rekayasa yang sangat tinggi
.
CUDA (Compute Unified Device Architecture) milik Nvidia memiliki keunggulan lebih dari 15 tahun dengan pustaka yang matang (cuDNN, TensorRT), alat debugging, dan komunitas developer global . Hampir semua framework AI utama—PyTorch, TensorFlow, JAX—sudah dioptimalkan untuk CUDA secara langsung
.
Sebaliknya, CANN (Compute Architecture for Neural Networks) milik Huawei, meskipun telah dijadikan open source pada Agustus 2025, masih jauh lebih belum matang dalam hal cakupan operator, optimasi, dan alat komunitas . Para developer melaporkan bahwa banyak kernel yang dioptimalkan untuk CUDA tidak memiliki padanan langsung di CANN, sehingga perlu ditulis ulang secara manual
.
Ini adalah siklus yang sulit diputus: semakin besar komunitas developer Nvidia dan semakin kaya pustaka kode yang sudah dioptimalkan, semakin sulit bagi alternatif untuk mendapatkan daya tarik .
Seorang peneliti AI di lembaga afiliasi Shanghai memperkirakan bahwa beralih dari Nvidia CUDA ke Huawei Ascend akan menambah setidaknya 50% dalam hal waktu dan biaya . Sumber industri mengonfirmasi angka ini sebagai batas bawah yang realistis
.
Ini mencakup:
Contoh paling jelas dari kesenjangan software ini datang dari DeepSeek, salah satu lab AI paling menonjol di China. DeepSeek dilaporkan membatalkan rencana untuk melatih model R2-nya di NPU Ascend milik Huawei, dengan alasan masalah performa dan toolchain yang belum terselesaikan . Ini adalah bukti nyata bahwa lab AI kelas atas menganggap alternatif domestik belum siap untuk beban kerja paling berat mereka.
Meskipun NPU Ascend 910C milik Huawei telah meningkat secara signifikan, para developer melaporkan bahwa performanya masih di bawah GPU generasi Hopper milik Nvidia untuk tugas pelatihan terdistribusi skala besar . Ascend 910C, yang dibuat di atas proses 7nm SMIC yang disempurnakan, memberikan sekitar sepertiga throughput BF16 dari B200 milik Nvidia . Ascend 950 milik Huawei yang akan datang diharapkan dapat mempersempit kesenjangan ini, dengan data Morgan Stanley menunjukkan kesenjangan performa antara chip China dan perangkat keras Nvidia yang sesuai ekspor telah menyempit secara signifikan
.
Secara paradoks, pembatasan ekspor AS tidak sepenuhnya memutus pasokan Nvidia ke China. AS menyetujui H200 untuk dijual ke China, dan Beijing kemudian memblokir penerimaannya—tetapi lab China sudah memiliki simpanan besar chip Nvidia . ByteDance, Alibaba, dan Tencent secara kolektif menghabiskan sekitar $16 miliar (Rp256 triliun) untuk menimbun sekitar 1,3 hingga 1,6 juta unit H20 sebagai antisipasi larangan
.
Instalasi yang sudah ada ini menciptakan inersia yang kuat: selama perangkat keras Nvidia yang ada masih berfungsi, biaya peralihan yang tinggi menunda perpindahan ke alternatif domestik .
China bukannya diam. Menanggapi hambatan ini:
Kemajuan nyata terjadi: pangsa pelatihan chip domestik dilaporkan tumbuh dari 8% pada awal 2025 menjadi 42% pada April 2026 . Namun, sebagian besar adopsi ini tampaknya terkonsentrasi pada beban kerja yang tidak terlalu kritis dan tugas inferensi, bukan pada pelatihan model perbatasan
.
Langkah Huawei membuka sumber kode CANN adalah langkah berarti menuju pembangunan ekosistem developer seperti yang dimiliki CUDA . Namun, sebagian besar analis sepakat bahwa kesenjangan ekosistem software—bukan spesifikasi perangkat keras mentah—akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk ditutup
. Dalam jangka pendek, lab AI terkemuka China akan terus melatih model di chip Nvidia sambil bereksperimen dengan deployment hybrid domestik untuk beban kerja yang tidak terlalu kritis, dan sementara rencana jaringan senilai Rp4.800 triliun dari Beijing bertujuan untuk mempercepat transisi
.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Lab AI China—DeepSeek, Kimi K3, Alibaba—masih setia pakai chip Nvidia untuk model utama mereka karena ketergantungan software pada CUDA [3][5].
Lab AI China—DeepSeek, Kimi K3, Alibaba—masih setia pakai chip Nvidia untuk model utama mereka karena ketergantungan software pada CUDA [3][5]. Hambatan terbesar bukan chip, tapi ekosistem CUDA: 15+ tahun pustaka matang dan komunitas global, sementara CANN Huawei masih perlu banyak penulisan ulang kode [1][2][6].
Produsen chip China targetkan tiga kali lipat produksi chip AI pada 2026, dan Beijing menyiapkan Rp4.800 triliun untuk jaringan komputasi AI nasional pada 2028 [2][8].