Klaim utama MPOB tentang sifat fisik Sawit EcoTherm:
MPOB mengklaim bahwa penggunaan Sawit EcoTherm dapat mengurangi konsumsi energi hingga 30–50% dibandingkan dengan sistem pendingin udara atau air konvensional . Nama "Sawit" sendiri diambil dari bahasa Melayu untuk pohon kelapa sawit
.
Sawit EcoTherm telah melalui uji coba di lingkungan operasional nyata, namun belum tersedia secara komersial. Harga jual pun belum diumumkan . Saat ini, MPOB sedang dalam proses finalisasi perjanjian lisensi dengan produsen dalam negeri untuk membawa cairan ini ke pasar
.
Pada Juli 2026, MPOB menerbitkan dokumen alih teknologi resmi (TT702) yang menyatakan bahwa teknologi ini secara formal ditawarkan untuk adopsi komersial . Dokumen tersebut mendeskripsikan Sawit EcoTherm sebagai "pendingin non-konduktif berbasis sawit" yang "menunjukkan kekuatan dielektrik tinggi, memastikan kontak langsung yang aman dengan komponen server kepadatan tinggi tanpa risiko korsleting"
.
Namun, sebelum adopsi massal bisa terjadi, teknologi ini masih membutuhkan lebih banyak proyek percontohan, validasi teknis oleh pihak ketiga independen, dan model penetapan harga yang jelas .
Pusat data mengonsumsi air dalam jumlah luar biasa besar, dan hampir semuanya digunakan untuk pendinginan. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), sektor pusat data global mengonsumsi sekitar 560 miliar liter air pada tahun 2024. IEA memproyeksikan angka ini akan lebih dari dua kali lipat menjadi 1,2 triliun liter pada tahun 2030 seiring dengan meningkatnya infrastruktur AI .
Untuk memberikan gambaran per fasilitas:
Secara global, 75% hingga 90% pusat data masih mengandalkan sistem pendingin berbasis air . Seiring beban kerja AI mendorong kebutuhan akan chip yang lebih bertenaga dan rak server yang lebih padat, angka-angka ini diprediksi akan melonjak tajam. MPOB memperkirakan bahwa pendinginan konvensional di sektor pusat data Malaysia yang berkembang pesat saja bisa membutuhkan hingga 876 juta liter air per hari, kira-kira setara dengan kebutuhan harian empat juta orang
.
Proposal ini menuai kritik signifikan dari berbagai pihak:
Ekspansi perkebunan sawit. Pegiat lingkungan memperingatkan bahwa jika Sawit EcoTherm diproduksi massal, hal itu bisa mendorong permintaan akan perkebunan sawit baru, yang pada gilirannya mempercepat deforestasi, konversi lahan gambut, dan hilangnya habitat di Malaysia dan Indonesia . South China Morning Post melaporkan bahwa proposal ini "telah menimbulkan kekhawatiran bahwa hal itu dapat menyebabkan perluasan perkebunan sawit dan menciptakan beban lingkungan"
.
Risiko keanekaragaman hayati. Perluasan budidaya kelapa sawit terkait erat dengan perusakan hutan hujan tropis dan habitat spesies yang terancam punah, terutama orangutan dan gajah sumatera .
Konflik penggunaan lahan. Malaysia saat ini sedang berupaya melindungi lahan pertanian subur dari alih fungsi untuk pembangunan pusat data. The Business Times melaporkan bahwa Malaysia bekerja sama dengan pemerintah negara bagian untuk melindungi lahan pertanian dari ekspansi industri, dengan sekitar 25.000 hektar lahan yang telah dialokasikan untuk perlindungan . Menambah permintaan minyak sawit untuk pendinginan bisa semakin mengintensifkan tekanan pada sumber daya lahan . Pemerintah Malaysia menargetkan 81 pusat data pada tahun 2035, dan beberapa perusahaan sawit sudah mulai mengalihkan lahan mereka untuk proyek pusat data dan panel surya .
Jejak karbon. Sekalipun ada klaim sumber daya berkelanjutan, produksi minyak sawit tetap memiliki utang karbon yang tinggi ketika hutan dibuka, yang berpotensi mengimbangi keuntungan efisiensi energi dari cairan pendingin itu sendiri .
Dampak siklus hidup yang belum diketahui. Penilaian siklus hidup (lifecycle assessment) independen terhadap Sawit EcoTherm — termasuk kemampuan terurai secara hayati, persyaratan pembuangan, dan dampak lingkungan bersih dibandingkan dengan alternatif sintetis — belum dipublikasikan secara terbuka .
Sawit EcoTherm menawarkan solusi pendinginan bebas air yang menjanjikan bagi industri pusat data yang menghadapi tekanan krisis air yang parah. Namun, teknologi ini masih dalam tahap pra-komersial, dan beban lingkungan dari produksi minyak sawit menimbulkan pertanyaan serius tentang apakah trade-off ini sepadan. Sampai data siklus hidup independen dipublikasikan dan kerangka sumber daya berkelanjutan yang jelas ditunjukkan, klaim bahwa pendingin minyak sawit lebih "hijau" dibandingkan alternatif lain akan tetap belum terbukti.
Koreksi (Agustus 2026): Versi sebelumnya dari artikel ini menyebutkan bahwa pusat data Google menggunakan 10,9 miliar galon air pada tahun 2025. Angka tersebut, yang berasal dari Laporan Lingkungan Google 2026, merujuk pada total konsumsi air global Google di seluruh operasi, bukan hanya pusat data . Angka konsumsi air pusat data IEA yang dikutip di atas tetap benar.