Berdasarkan data Frontex, inilah rincian deteksi di setiap jalur utama:
Lonjakan di jalur Mediterania Barat tidak bisa dilepaskan dari krisis Ceuta pada 30-31 Juli 2026 . Dalam dua hari, diperkirakan 50.000 hingga 80.000 migran -- didominasi pemuda -- menyeberang dari Maroko ke enklave Spanyol, Ceuta, baik melalui darat maupun laut
. Setidaknya 57 orang tewas dalam peristiwa ini
.
Pemerintah Spanyol menyatakan bahwa jaringan penyelundup manusia (smuggling networks) memanfaatkan putusan pengadilan Spanyol pada Juli 2026 terkait penolakan pengusiran di perbatasan . Mereka menyebarkan rumor di media sosial yang melebih-lebihkan kemudahan masuk ke Eropa, sehingga menciptakan efek "stampede" atau gerakan massal yang tak terkendali .
Frontex pun mengakui bahwa data penurunan 37% ini belum mencerminkan "peristiwa luar biasa" di Ceuta . Lonjakan di Ceuta inilah yang secara langsung mendorong kenaikan 37% di jalur Mediterania Barat
.
Paradoksnya, meskipun angka pelintas ilegal turun drastis, krisis Ceuta telah menjadi senjata politik ampuh bagi partai-partai sayap kanan dan kanan jauh di Eropa .
Uni Eropa dan Spanyol secara langsung menunjuk disinformasi sebagai biang kerok krisis Ceuta . Pemerintah Spanyol menyatakan bahwa para penyelundup sengaja menyebarkan kabar bohong di media sosial bahwa perbatasan sedang terbuka lebar .
Sebagai respons, UE telah mengambil beberapa langkah: