Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) Juli yang dirilis pada Rabu (12/8) menunjukkan inflasi utama melandai ke 3,4% year-on-year (dari 3,5% di Juni) dan inflasi inti (core CPI) melambat ke 2,5% . Harga bensin di AS turun untuk bulan kedua berturut-turut, turut menekan angka inflasi
.
Para trader memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed di September turun drastis, dari 55% seminggu sebelumnya menjadi sekitar 40% . Pasar kini berekspektasi The Fed akan mempertahankan suku bunga di level saat ini pada pertemuan September
. Kekhawatiran kenaikan suku bunga yang berkurang meredakan tekanan terhadap dolar AS dan meningkatkan selera risiko terhadap aset pasar berkembang, yang biasanya diuntungkan saat The Fed menjeda pengetatan suku bunga
.
Korea Selatan: Indeks Kospi telah menguat sekitar 90% sepanjang tahun ini, menjadikannya pasar utama dengan kinerja terbaik di dunia pada 2026 . Investor asing sempat menarik $6,2 miliar dari saham Korea pada awal Agustus, namun arus ini berbalik tajam pada pertengahan pekan seiring sentimen AI yang berbalik positif
.
Taiwan: Saham Taiwan menarik arus masuk asing sebesar $1,7 miliar pada pekan lalu, mengakhiri enam pekan beruntun aksi jual . Investor global lebih menyukai Taiwan dibandingkan Korea karena prospek laba yang lebih stabil
. Indeks MSCI EM Asia IT melonjak lebih dari 13% dalam satu sesi di akhir Juli—kenaikan satu hari terbesar dalam lebih dari 17 tahun
.
Won Korea Selatan naik ke level terkuat dalam 10 bulan karena para eksportir mengonversi pendapatan dolar mereka ke mata uang lokal, memperkuat arus masuk ke pasar saham . Won telah menguat sekitar 8,8% dalam sebulan—kenaikan tertajam sejak krisis keuangan global
. Dolar Taiwan juga menguat, didukung oleh permintaan berkelanjutan terhadap saham teknologi AI
.
Investor berbalik bullish terhadap Won untuk pertama kalinya dalam lebih dari 10 bulan dan mengurangi posisi short terhadap sebagian besar mata uang Asia lainnya, karena harga minyak yang lebih murah meredakan kekhawatiran inflasi impor . Namun, putaran umpan balik mata uang-saham ini rapuh: kebangkitan ketegangan Timur Tengah atau penguatan dolar AS bisa dengan cepat membalikkan arus ini
.
Minyak masih menjadi hambatan utama. Selat Hormuz tetap mengalami gangguan parah, dan Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan pengiriman akan tetap terhambat setidaknya hingga Agustus, dengan beberapa produsen Timur Tengah tidak dapat memulihkan produksi sepenuhnya hingga akhir 2027 .
Harga minyak Brent menyentuh level tertinggi dalam sepekan pada awal pekan ini karena negosiasi damai AS-Iran menemui jalan buntu. Iran bersikeras Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali tuntutannya dipenuhi .
Harga minyak yang lebih tinggi bertindak sebagai pajak bagi negara-negara berkembang pengimpor minyak (sebagian besar Asia), memicu inflasi dan menekan bank sentral . Pada hari Selasa, aset pasar berkembang justru turun—memutus kenaikan mata uang selama empat hari—tepat karena memudarnya harapan kesepakatan AS-Iran mendorong harga minyak naik dan sentimen risiko turun
.
Volatilitas sangat ekstrem. Setelah Kospi naik rekor 17,9% dalam sehari pada 31 Juli, keesokan harinya indeks tersebut jatuh 5,1% . Perdagangan saham AI bisa berayun liar kapan saja jika ada indikasi kekecewaan pada laba teknologi atau berita geopolitik
.
The Fed belum selesai. Indeks PCE inti (indikator favorit The Fed) masih berjalan di atas 3%, dan para analis mengingatkan bahwa satu laporan CPI yang baik tidak berarti siklus pengetatan telah berakhir .
Minyak dan geopolitik Timur Tengah menghadirkan risiko penurunan yang asimetris. Jika situasi Selat Hormuz memburuk, harga Brent bisa kembali mendekati $100, menghancurkan mata uang dan pasar saham EM secara bersamaan .
Reli ini juga sempit—hanya terkonsentrasi di segelintir saham chip berkapitalisasi besar. Rotasi yang lebih luas belum terkonfirmasi, membuat indeks EM rentan terhadap aksi ambil untung jika sentimen AI mendingin .
Kesimpulan: Lonjakan pekan ini adalah reli AI yang kuat namun rapuh, dipercepat oleh data inflasi AS yang positif. Skenario bullish bergantung pada belanja modal AI yang berkelanjutan dan sikap The Fed yang sabar. Skenario bearish—kenaikan harga minyak akibat gangguan Timur Tengah, sikap The Fed yang kembali hawkish, atau kekecewaan laba AI—masih sangat mungkin terjadi.