
Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What led to the recent resurgence of yen carry trades despite the historic $87 billion joint U.S. Japan currency intervention in late July,. Article summary: The historic $87 billion joint U.S.. Topic tags: general web, regulation, marketing, startups, video. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as factual evidence.
Intervensi bersejarah AS-Jepang yang menghabiskan dana hingga $87 miliar (setara Rp1.400 triliun) pada 30-31 Juli 2026 hanya mampu memberikan kelegaan sementara. Kurang dari dua pekan kemudian, yen kehilangan hampir separuh dari penguatan yang diraihnya dan kini meluncur kembali menuju level ¥159-160 per dolar AS . Para pelaku pasar pun mulai membangun kembali strategi carry trade karena tidak satu pun faktor struktural pendukungnya yang berhasil diselesaikan.
1. Intervensi hanya mengobati gejala, bukan akar masalah. Aksi bersama AS-Jepang (yang pertama sejak 1998) ini sukses mendorong USD/JPY dari kisaran 164 ke level 155, namun sama sekali tidak mempersempit selisih suku bunga antara AS dan Jepang. Seperti diungkapkan seorang analis, intervensi ini "menghentikan pergerakan yang tidak tertib dan memaksa penurunan posisi short yen dalam waktu singkat, tanpa mengubah selisih suku bunga yang menjadi pendorong utamanya" . Tanpa perubahan pada selisih suku bunga, penguatan yen diperkirakan hanya bersifat sementara
.
2. Selisih suku bunga AS-Jepang masih sangat lebar. Pada pertemuan 30-31 Juli, BOJ mempertahankan suku bunga acuannya di 1,00% , sementara suku bunga The Fed masih jauh di atas level tersebut. Dengan kata lain, selisih suku bunga kebijakan kedua negara masih berada di atas 4 poin persentase
. Imbal hasil obligasi AS yang tinggi terus membuat carry trade yang didanai yen sangat menguntungkan, dan keunggulan imbal hasil ini "terus membebani yen"
.
3. Hedge fund mulai berani lagi 'short' yen. Sebelum intervensi dilakukan, hedge fund berada dalam posisi short yen terbesar sejak 2007 . Intervensi bersama AS-Jepang memaksa mereka menutup posisi secara terpaksa dalam waktu singkat. Data menunjukkan hedge fund mengurangi posisi short yen hingga setengahnya hingga 4 Agustus
. Namun, seiring meredanya volatilitas, "sejumlah investor mulai kembali ke carry trade yang didanai yen"
. Hingga akhir Juli, hedge fund global masih memegang sekitar 124.575 kontrak short yen senilai $9,5 miliar
.
4. Sikap hati-hati BOJ membuat yen tetap murah. BOJ memutuskan mempertahankan suku bunga di 1,00% melalui voting 8-1. Alasan mereka adalah ingin mengkaji apakah inflasi benar-benar bisa bertahan di level 2% . Meskipun pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga bulan September sebesar 76% (meningkat drastis dari 24% sebelum intervensi), ekspektasi ini ternyata belum cukup untuk membuat para pelaku carry trade bergeming
. Jalur kenaikan suku bunga BOJ juga terhambat oleh tekanan politik untuk mendukung pasar obligasi
.
5. Masih ada sekitar $500 miliar posisi carry trade yang beredar. Morgan Stanley memperkirakan bahwa posisi carry trade yang didanai yen di seluruh dunia masih mencapai sekitar $500 miliar. Jumlah ini sangat besar dan sudah mengakar di pasar global . Agar posisi ini benar-benar bisa dibongkar, diperlukan kenaikan suku bunga BOJ yang jauh di atas ekspektasi saat ini, atau penurunan tajam suku bunga AS. Namun, kedua skenario tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan terjadi.
Kesimpulannya, intervensi bersama AS-Jepang memang berhasil menghentikan laju pelemahan yen, tetapi tidak mampu menyentuh faktor utama yang menggerakkan carry trade, yaitu keunggulan imbal hasil atau selisih suku bunga yang sangat lebar. Seperti yang diungkapkan Goldman Sachs, keputusan Tokyo untuk melakukan intervensi lagi "sangat tergantung pada selisih suku bunga antara Jepang dan AS” — dan selisih tersebut saat ini masih sangat menguntungkan carry trade .
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Intervensi bersama AS Jepang pada 30 31 Juli 2026 gagal total. Hanya dalam waktu kurang dari dua pekan, yen telah kehilangan separuh dari penguatannya dan kembali merosot ke level ¥159 160 per dolar AS [1][6].
Intervensi bersama AS Jepang pada 30 31 Juli 2026 gagal total. Hanya dalam waktu kurang dari dua pekan, yen telah kehilangan separuh dari penguatannya dan kembali merosot ke level ¥159 160 per dolar AS [1][6]. Intervensi ini hanya mengobati gejala, bukan akar masalah. Aksi tersebut tidak mampu memperkecil selisih suku bunga AS Jepang yang masih sangat lebar, yakni di atas 4 poin persentase [4][5].
Para hedge fund sudah mulai berani membangun kembali posisi short yen. Di saat yang sama, Bank of Japan (BOJ) masih bersikap hati hati sehingga yen tetap menjadi alat pendanaan yang murah [3][15].