2. Selisih suku bunga AS-Jepang masih sangat lebar. Pada pertemuan 30-31 Juli, BOJ mempertahankan suku bunga acuannya di 1,00% , sementara suku bunga The Fed masih jauh di atas level tersebut. Dengan kata lain, selisih suku bunga kebijakan kedua negara masih berada di atas 4 poin persentase . Imbal hasil obligasi AS yang tinggi terus membuat carry trade yang didanai yen sangat menguntungkan, dan keunggulan imbal hasil ini "terus membebani yen" .
3. Hedge fund mulai berani lagi 'short' yen. Sebelum intervensi dilakukan, hedge fund berada dalam posisi short yen terbesar sejak 2007 . Intervensi bersama AS-Jepang memaksa mereka menutup posisi secara terpaksa dalam waktu singkat. Data menunjukkan hedge fund mengurangi posisi short yen hingga setengahnya hingga 4 Agustus . Namun, seiring meredanya volatilitas, "sejumlah investor mulai kembali ke carry trade yang didanai yen" . Hingga akhir Juli, hedge fund global masih memegang sekitar 124.575 kontrak short yen senilai $9,5 miliar .
4. Sikap hati-hati BOJ membuat yen tetap murah. BOJ memutuskan mempertahankan suku bunga di 1,00% melalui voting 8-1. Alasan mereka adalah ingin mengkaji apakah inflasi benar-benar bisa bertahan di level 2% . Meskipun pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga bulan September sebesar 76% (meningkat drastis dari 24% sebelum intervensi), ekspektasi ini ternyata belum cukup untuk membuat para pelaku carry trade bergeming . Jalur kenaikan suku bunga BOJ juga terhambat oleh tekanan politik untuk mendukung pasar obligasi .
5. Masih ada sekitar $500 miliar posisi carry trade yang beredar. Morgan Stanley memperkirakan bahwa posisi carry trade yang didanai yen di seluruh dunia masih mencapai sekitar $500 miliar. Jumlah ini sangat besar dan sudah mengakar di pasar global . Agar posisi ini benar-benar bisa dibongkar, diperlukan kenaikan suku bunga BOJ yang jauh di atas ekspektasi saat ini, atau penurunan tajam suku bunga AS. Namun, kedua skenario tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan terjadi.
Kesimpulannya, intervensi bersama AS-Jepang memang berhasil menghentikan laju pelemahan yen, tetapi tidak mampu menyentuh faktor utama yang menggerakkan carry trade, yaitu keunggulan imbal hasil atau selisih suku bunga yang sangat lebar. Seperti yang diungkapkan Goldman Sachs, keputusan Tokyo untuk melakukan intervensi lagi "sangat tergantung pada selisih suku bunga antara Jepang dan AS” — dan selisih tersebut saat ini masih sangat menguntungkan carry trade .
2. Selisih suku bunga AS-Jepang masih sangat lebar. Pada pertemuan 30-31 Juli, BOJ mempertahankan suku bunga acuannya di 1,00% , sementara suku bunga The Fed masih jauh di atas level tersebut. Dengan kata lain, selisih suku bunga kebijakan kedua negara masih berada di atas 4 poin persentase . Imbal hasil obligasi AS yang tinggi terus membuat carry trade yang didanai yen sangat menguntungkan, dan keunggulan imbal hasil ini "terus membebani yen" .
3. Hedge fund mulai berani lagi 'short' yen. Sebelum intervensi dilakukan, hedge fund berada dalam posisi short yen terbesar sejak 2007 . Intervensi bersama AS-Jepang memaksa mereka menutup posisi secara terpaksa dalam waktu singkat. Data menunjukkan hedge fund mengurangi posisi short yen hingga setengahnya hingga 4 Agustus . Namun, seiring meredanya volatilitas, "sejumlah investor mulai kembali ke carry trade yang didanai yen" . Hingga akhir Juli, hedge fund global masih memegang sekitar 124.575 kontrak short yen senilai $9,5 miliar .
4. Sikap hati-hati BOJ membuat yen tetap murah. BOJ memutuskan mempertahankan suku bunga di 1,00% melalui voting 8-1. Alasan mereka adalah ingin mengkaji apakah inflasi benar-benar bisa bertahan di level 2% . Meskipun pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga bulan September sebesar 76% (meningkat drastis dari 24% sebelum intervensi), ekspektasi ini ternyata belum cukup untuk membuat para pelaku carry trade bergeming . Jalur kenaikan suku bunga BOJ juga terhambat oleh tekanan politik untuk mendukung pasar obligasi .
5. Masih ada sekitar $500 miliar posisi carry trade yang beredar. Morgan Stanley memperkirakan bahwa posisi carry trade yang didanai yen di seluruh dunia masih mencapai sekitar $500 miliar. Jumlah ini sangat besar dan sudah mengakar di pasar global . Agar posisi ini benar-benar bisa dibongkar, diperlukan kenaikan suku bunga BOJ yang jauh di atas ekspektasi saat ini, atau penurunan tajam suku bunga AS. Namun, kedua skenario tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan terjadi.
Kesimpulannya, intervensi bersama AS-Jepang memang berhasil menghentikan laju pelemahan yen, tetapi tidak mampu menyentuh faktor utama yang menggerakkan carry trade, yaitu keunggulan imbal hasil atau selisih suku bunga yang sangat lebar. Seperti yang diungkapkan Goldman Sachs, keputusan Tokyo untuk melakukan intervensi lagi "sangat tergantung pada selisih suku bunga antara Jepang dan AS” — dan selisih tersebut saat ini masih sangat menguntungkan carry trade .