Krisis Selat Hormuz Memuncak: Serangan Drone, Blokade AS, dan RUU Kontroversial Iran
Selat Hormuz lumpuh: lalu lintas kapal anjlok drastis. Pada 6 Agustus hanya 2 kapal, dan 11 Agustus hanya 6 kapal yang melintas, bandingkan dengan normal sebelum perang sekitar 130 140 kapal per hari.
Diterbitkan olehDiedit dengan DeepSeek-V4-FlashGambar dibuat dengan GPT Image 1.5
Selat Hormuz lumpuh: lalu lintas kapal anjlok drastis. Pada 6 Agustus hanya 2 kapal, dan 11 Agustus hanya 6 kapal yang melintas, bandingkan dengan normal sebelum perang sekitar 130 140 kapal per hari.
AS memperketat blokade laut: Angkatan Laut AS telah mengalihkan 55 kapal komersial dari pelabuhan Iran per 10 Agustus, menonaktifkan 2 kapal, dan menaiki 2 kapal untuk memastikan kepatuhan.
Parlemen Iran menyetujui RUU balasan: RUU berjudul 'Strategic Measures to Ensure the Security and Sustainable Development of the Strait of Hormuz' melarang kapal AS, Israel, dan negara 'musuh' lainnya melintas, serta...
Harga minyak dan biaya pengapalan meroket: Minyak mentah Brent ditutup naik lebih dari USD 3 per barel pada 6 Agustus setelah berita RUU Iran.
What happened in the Strait of Hormuz as of mid-August 2026 regarding fresh drone attacks on commercial vessels, the resulting halt in transThe Strait of Hormuz, a 21-mile-wide maritime chokepoint between Iran and Oman, through which roughly 20% of the world's oil and LNG passed before the 2026 conflict. By mid-August 2026, daily transit had fallen to single digits.
AI Perintah
Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What happened in the Strait of Hormuz as of mid-August 2026 regarding fresh drone attacks on commercial vessels, the resulting halt in trans. Article summary: I'll search for the latest information on these developments.. Topic tags: general, government, news, general web. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as factual evidence.
openai.com
Pada pertengahan Agustus 2026, Selat Hormuz — jalur energi paling kritis di dunia yang biasanya menjadi lintasan seperlima pasokan minyak dan LNG global — telah berubah menjadi pusat kebuntuan militer-ekonomi yang semakin parah antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan drone baru terhadap kapal komersial, pemberlakuan kembali blokade laut AS, dan respons legislatif agresif Iran telah mendorong lalu lintas kapal ke titik terendah sepanjang sejarah, mendongkrak harga minyak, dan membuat para analis memperingatkan siklus eskalasi yang tak kunjung menemukan jalan keluar.
Serangan Drone Baru terhadap Kapal Komersial
Pekan 10–14 Agustus 2026 menyaksikan intensifikasi serangan drone dan rudal terhadap kapal-kapal di dan sekitar selat:
14 Agustus — Uni Emirat Arab secara terbuka menuduh Iran meluncurkan drone ke dua kapal tanker milik perusahaan minyak negara ADNOC saat mereka berlayar melalui Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan itu sebagai "tindakan pembajakan." Tidak ada korban jiwa. ADNOC mengonfirmasi bahwa 15 kapalnya telah diserang sejak konflik dimulai.
Studio Global AI
Lanjutkan penelitian Anda
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Apa jawaban singkat untuk "Krisis Selat Hormuz Memuncak: Serangan Drone, Blokade AS, dan RUU Kontroversial Iran"?
Selat Hormuz lumpuh: lalu lintas kapal anjlok drastis. Pada 6 Agustus hanya 2 kapal, dan 11 Agustus hanya 6 kapal yang melintas, bandingkan dengan normal sebelum perang sekitar 130 140 kapal per hari.
Apa poin penting yang harus divalidasi terlebih dahulu?
Selat Hormuz lumpuh: lalu lintas kapal anjlok drastis. Pada 6 Agustus hanya 2 kapal, dan 11 Agustus hanya 6 kapal yang melintas, bandingkan dengan normal sebelum perang sekitar 130 140 kapal per hari. AS memperketat blokade laut: Angkatan Laut AS telah mengalihkan 55 kapal komersial dari pelabuhan Iran per 10 Agustus, menonaktifkan 2 kapal, dan menaiki 2 kapal untuk memastikan kepatuhan.
Apa yang harus saya lakukan selanjutnya dalam latihan?
Parlemen Iran menyetujui RUU balasan: RUU berjudul 'Strategic Measures to Ensure the Security and Sustainable Development of the Strait of Hormuz' melarang kapal AS, Israel, dan negara 'musuh' lainnya melintas, serta...
Krisis Selat Hormuz Memuncak: Serangan Drone, Blokade AS, dan RUU Kontroversial Iran
Selat Hormuz lumpuh: lalu lintas kapal anjlok drastis. Pada 6 Agustus hanya 2 kapal, dan 11 Agustus hanya 6 kapal yang melintas, bandingkan dengan normal sebelum perang sekitar 130 140 kapal per hari.
Diterbitkan olehDiedit dengan DeepSeek-V4-FlashGambar dibuat dengan GPT Image 1.5
Selat Hormuz lumpuh: lalu lintas kapal anjlok drastis. Pada 6 Agustus hanya 2 kapal, dan 11 Agustus hanya 6 kapal yang melintas, bandingkan dengan normal sebelum perang sekitar 130 140 kapal per hari.
AS memperketat blokade laut: Angkatan Laut AS telah mengalihkan 55 kapal komersial dari pelabuhan Iran per 10 Agustus, menonaktifkan 2 kapal, dan menaiki 2 kapal untuk memastikan kepatuhan.
Parlemen Iran menyetujui RUU balasan: RUU berjudul 'Strategic Measures to Ensure the Security and Sustainable Development of the Strait of Hormuz' melarang kapal AS, Israel, dan negara 'musuh' lainnya melintas, serta...
Harga minyak dan biaya pengapalan meroket: Minyak mentah Brent ditutup naik lebih dari USD 3 per barel pada 6 Agustus setelah berita RUU Iran.
What happened in the Strait of Hormuz as of mid-August 2026 regarding fresh drone attacks on commercial vessels, the resulting halt in transThe Strait of Hormuz, a 21-mile-wide maritime chokepoint between Iran and Oman, through which roughly 20% of the world's oil and LNG passed before the 2026 conflict. By mid-August 2026, daily transit had fallen to single digits.
AI Perintah
Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What happened in the Strait of Hormuz as of mid-August 2026 regarding fresh drone attacks on commercial vessels, the resulting halt in trans. Article summary: I'll search for the latest information on these developments.. Topic tags: general, government, news, general web. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as factual evidence.
openai.com
Pada pertengahan Agustus 2026, Selat Hormuz — jalur energi paling kritis di dunia yang biasanya menjadi lintasan seperlima pasokan minyak dan LNG global — telah berubah menjadi pusat kebuntuan militer-ekonomi yang semakin parah antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan drone baru terhadap kapal komersial, pemberlakuan kembali blokade laut AS, dan respons legislatif agresif Iran telah mendorong lalu lintas kapal ke titik terendah sepanjang sejarah, mendongkrak harga minyak, dan membuat para analis memperingatkan siklus eskalasi yang tak kunjung menemukan jalan keluar.
Serangan Drone Baru terhadap Kapal Komersial
Pekan 10–14 Agustus 2026 menyaksikan intensifikasi serangan drone dan rudal terhadap kapal-kapal di dan sekitar selat:
14 Agustus — Uni Emirat Arab secara terbuka menuduh Iran meluncurkan drone ke dua kapal tanker milik perusahaan minyak negara ADNOC saat mereka berlayar melalui Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan itu sebagai "tindakan pembajakan." Tidak ada korban jiwa. ADNOC mengonfirmasi bahwa 15 kapalnya telah diserang sejak konflik dimulai.
Studio Global AI
Lanjutkan penelitian Anda
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Apa jawaban singkat untuk "Krisis Selat Hormuz Memuncak: Serangan Drone, Blokade AS, dan RUU Kontroversial Iran"?
Selat Hormuz lumpuh: lalu lintas kapal anjlok drastis. Pada 6 Agustus hanya 2 kapal, dan 11 Agustus hanya 6 kapal yang melintas, bandingkan dengan normal sebelum perang sekitar 130 140 kapal per hari.
Apa poin penting yang harus divalidasi terlebih dahulu?
Selat Hormuz lumpuh: lalu lintas kapal anjlok drastis. Pada 6 Agustus hanya 2 kapal, dan 11 Agustus hanya 6 kapal yang melintas, bandingkan dengan normal sebelum perang sekitar 130 140 kapal per hari. AS memperketat blokade laut: Angkatan Laut AS telah mengalihkan 55 kapal komersial dari pelabuhan Iran per 10 Agustus, menonaktifkan 2 kapal, dan menaiki 2 kapal untuk memastikan kepatuhan.
Apa yang harus saya lakukan selanjutnya dalam latihan?
Parlemen Iran menyetujui RUU balasan: RUU berjudul 'Strategic Measures to Ensure the Security and Sustainable Development of the Strait of Hormuz' melarang kapal AS, Israel, dan negara 'musuh' lainnya melintas, serta...
5 Agustus — Seorang nakhoda kapal tanker melaporkan mendengar dua ledakan sekitar sembilan mil laut tenggara Kumzar, Oman, menurut United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Awak dan kapal dilaporkan selamat.
1 Agustus — Pertahanan udara Kuwait mencegat sejumlah drone Iran yang menargetkan Kuwait dalam jumlah yang tidak disebutkan; Iran tidak mengklaim atau mengomentari serangan itu.
4 Agustus — Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengklaim serangan drone pada "target sensitif" di Bandara Regional Najran di Arab Saudi selatan.
6 Agustus — Ledakan dilaporkan di Pulau Qeshm, Iran, di mana pasukan Iran terlibat dengan apa yang mereka gambarkan sebagai "target musuh" di dekat pintu masuk selat.
Runtuhnya Lalu Lintas Kapal
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz telah turun menjadi sebagian kecil dari norma sebelum krisis. Poin data utama per pertengahan Agustus:
Menurut Lloyd's List Intelligence, terdapat 78 transit selama 3–9 Agustus, turun dari 95 pada pekan sebelumnya — dibandingkan dengan volume mingguan normal yang secara historis melebihi 900.
Pada 6 Agustus, hanya dua kapal yang melintasi selat.
Pada 11 Agustus, lalu lintas turun menjadi enam kapal, dibandingkan dengan rata-rata 10 hari sekitar 11 kapal.
Pada 12 Agustus, jumlah kapal mencapai titik terendah dalam satu pekan yaitu delapan, dengan pemilik kapal secara aktif menghindari jalur air tersebut.
CNN melaporkan bahwa dalam 166 hari sejak perang dimulai (akhir Februari 2026), hanya 3.350 kapal yang telah melintasi selat — sekitar 20% dari lalu lintas sebelum perang.
Selat ini secara efektif tetap tertutup sejak Iran mendeklarasikan blokade pada 28 Februari 2026, dengan hanya jeda singkat setelah Nota Kesepahaman (MOU) Juni antara Trump dan Presiden Iran Pezeshkian.
Blokade Ekonomi AS terhadap Iran
AS telah meningkatkan tekanan ekonomi melalui blokade laut yang secara langsung menargetkan perdagangan laut Iran:
Presiden Trump memberlakukan kembali blokade laut AS terhadap Iran pada Juli 2026, mengumumkan bahwa AS akan mengenakan biaya 20% untuk semua kargo yang dikirim melalui Selat Hormuz.
Nota Kesepahaman 17 Juni antara Trump dan Pezeshkian untuk sementara menghapus blokade, tetapi AS memberlakukannya kembali setelah menuduh Iran tidak memenuhi komitmennya.
Pada 10 Agustus, militer AS telah mengalihkan 55 kapal komersial menjauh dari pelabuhan Iran berdasarkan blokade, naik dari 35 pada 2 Agustus. Komando Pusat AS mengatakan pasukan Amerika juga telah menonaktifkan dua kapal dan menaiki dua kapal untuk memastikan kepatuhan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Angkatan Laut dapat mempertahankan blokade tanpa batas waktu dengan memutar kapal masuk dan keluar dari kawasan.
Pejabat pemerintahan Trump mengklaim tekanan ekonomi mendorong Iran menuju kebangkrutan dan pada akhirnya akan memaksa kesepakatan.
Respons Legislatif Balasan Iran
Iran telah merespons dengan tuntutan legislatif dan diplomatik yang oleh para analis digambarkan sebagai maksimalis:
Pada 6 Agustus 2026, sebuah komite parlemen Iran mulai meninjau rancangan undang-undang — dijuluki "RUU Aksi Strategis" atau "Langkah-Langkah Strategis untuk Memastikan Keamanan dan Pembangunan Berkelanjutan Selat Hormuz" — yang akan melarang kapal AS, Israel, dan kapal "musuh" lainnya melintasi selat.
Undang-undang yang diusulkan akan mengenakan denda hingga 20% dari nilai kargo untuk pelanggaran. Beberapa laporan juga menyebutkan biaya hingga 7% dari nilai kargo untuk kapal komersial dari negara lain.
Pada 10 Agustus 2026, Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran menyetujui RUU tersebut, memajukannya menuju pemungutan suara parlemen penuh.
Iran juga mengeluarkan persyaratan komprehensif untuk membuka kembali selat, termasuk: pencabutan blokade laut dan sanksi AS, penarikan semua pasukan militer AS dari kawasan, pembayaran reparasi perang, dan pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Peringatan Eskalasi Militer dan Risiko Pasokan Minyak
Para analis dan perusahaan intelijen pelayaran memperingatkan bahwa kombinasi serangan drone, blokade AS, dan dorongan legislatif Iran telah menciptakan siklus eskalasi tanpa jalan keluar yang jelas:
Lloyd's List mencatat bahwa lalu lintas non-Iran tetap "jauh dari volume normal" dan ekspektasi untuk pembukaan kembali dalam waktu dekat semakin memudar.
The Guardian melaporkan bahwa pada bulan Juli, Iran telah mengancam akan menghentikan semua ekspor energi Timur Tengah jika blokade AS berlanjut.
Catatan: Pernyataan spesifik dari Badan Energi Internasional (IEA) tentang penipisan pasokan minyak global tidak tercantum dalam sumber yang tersedia. Namun, dampak pasar sudah jelas: minyak mentah Brent ditutup naik lebih dari USD 3 per barel pada 6 Agustus setelah berita RUU Iran.
Pasar prediksi pada 14 Agustus menetapkan probabilitas kembalinya lalu lintas normal di bawah 1%.
Dampak Ekonomi yang Lebih Luas pada Biaya Pengapalan dan Harga Minyak
Gangguan telah mengalir melalui pasar energi dan pengapalan global:
Harga minyak naik tajam: Minyak mentah Brent ditutup naik lebih dari USD 3 per barel pada 6 Agustus setelah berita RUU Iran.
Volume lalu lintas pelayaran tetap tertekan, dengan pemilik kapal secara aktif menghindari jalur air dan berlayar dengan transponder dimatikan untuk menyembunyikan pergerakan.
Krisis telah memaksa kapal untuk mengambil rute alternatif yang lebih panjang di sekitar Semenanjung Arab, mendorong kenaikan biaya pengapalan, premi asuransi, dan waktu tempuh — meskipun data tarif angkutan spesifik tidak tercantum dalam sumber yang tersedia.
Data IMF PortWatch dari 9 Agustus menunjukkan transit komersial melalui Selat hanya 1% dari volume sebelum krisis: satu kapal dibandingkan dengan tipikal 73 kapal per hari.
Intinya
Pada pertengahan Agustus 2026, Selat Hormuz tetap menjadi titik tersumbat maritim paling berbahaya dan paling terganggu di dunia. Tanpa terobosan diplomatik yang terlihat, serangan drone yang terus berlanjut, blokade AS yang mengeras, dan Iran yang memajukan undang-undang untuk secara selektif memblokir kapal, risiko terhadap pasokan energi global, biaya pengapalan, dan stabilitas regional sangat parah dan terus meningkat.
reuters.comGulf shipping traffic via Strait of Hormuz falls to six vessels
5 Agustus — Seorang nakhoda kapal tanker melaporkan mendengar dua ledakan sekitar sembilan mil laut tenggara Kumzar, Oman, menurut United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Awak dan kapal dilaporkan selamat.
1 Agustus — Pertahanan udara Kuwait mencegat sejumlah drone Iran yang menargetkan Kuwait dalam jumlah yang tidak disebutkan; Iran tidak mengklaim atau mengomentari serangan itu.
4 Agustus — Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengklaim serangan drone pada "target sensitif" di Bandara Regional Najran di Arab Saudi selatan.
6 Agustus — Ledakan dilaporkan di Pulau Qeshm, Iran, di mana pasukan Iran terlibat dengan apa yang mereka gambarkan sebagai "target musuh" di dekat pintu masuk selat.
Runtuhnya Lalu Lintas Kapal
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz telah turun menjadi sebagian kecil dari norma sebelum krisis. Poin data utama per pertengahan Agustus:
Menurut Lloyd's List Intelligence, terdapat 78 transit selama 3–9 Agustus, turun dari 95 pada pekan sebelumnya — dibandingkan dengan volume mingguan normal yang secara historis melebihi 900.
Pada 6 Agustus, hanya dua kapal yang melintasi selat.
Pada 11 Agustus, lalu lintas turun menjadi enam kapal, dibandingkan dengan rata-rata 10 hari sekitar 11 kapal.
Pada 12 Agustus, jumlah kapal mencapai titik terendah dalam satu pekan yaitu delapan, dengan pemilik kapal secara aktif menghindari jalur air tersebut.
CNN melaporkan bahwa dalam 166 hari sejak perang dimulai (akhir Februari 2026), hanya 3.350 kapal yang telah melintasi selat — sekitar 20% dari lalu lintas sebelum perang.
Selat ini secara efektif tetap tertutup sejak Iran mendeklarasikan blokade pada 28 Februari 2026, dengan hanya jeda singkat setelah Nota Kesepahaman (MOU) Juni antara Trump dan Presiden Iran Pezeshkian.
Blokade Ekonomi AS terhadap Iran
AS telah meningkatkan tekanan ekonomi melalui blokade laut yang secara langsung menargetkan perdagangan laut Iran:
Presiden Trump memberlakukan kembali blokade laut AS terhadap Iran pada Juli 2026, mengumumkan bahwa AS akan mengenakan biaya 20% untuk semua kargo yang dikirim melalui Selat Hormuz.
Nota Kesepahaman 17 Juni antara Trump dan Pezeshkian untuk sementara menghapus blokade, tetapi AS memberlakukannya kembali setelah menuduh Iran tidak memenuhi komitmennya.
Pada 10 Agustus, militer AS telah mengalihkan 55 kapal komersial menjauh dari pelabuhan Iran berdasarkan blokade, naik dari 35 pada 2 Agustus. Komando Pusat AS mengatakan pasukan Amerika juga telah menonaktifkan dua kapal dan menaiki dua kapal untuk memastikan kepatuhan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Angkatan Laut dapat mempertahankan blokade tanpa batas waktu dengan memutar kapal masuk dan keluar dari kawasan.
Pejabat pemerintahan Trump mengklaim tekanan ekonomi mendorong Iran menuju kebangkrutan dan pada akhirnya akan memaksa kesepakatan.
Respons Legislatif Balasan Iran
Iran telah merespons dengan tuntutan legislatif dan diplomatik yang oleh para analis digambarkan sebagai maksimalis:
Pada 6 Agustus 2026, sebuah komite parlemen Iran mulai meninjau rancangan undang-undang — dijuluki "RUU Aksi Strategis" atau "Langkah-Langkah Strategis untuk Memastikan Keamanan dan Pembangunan Berkelanjutan Selat Hormuz" — yang akan melarang kapal AS, Israel, dan kapal "musuh" lainnya melintasi selat.
Undang-undang yang diusulkan akan mengenakan denda hingga 20% dari nilai kargo untuk pelanggaran. Beberapa laporan juga menyebutkan biaya hingga 7% dari nilai kargo untuk kapal komersial dari negara lain.
Pada 10 Agustus 2026, Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran menyetujui RUU tersebut, memajukannya menuju pemungutan suara parlemen penuh.
Iran juga mengeluarkan persyaratan komprehensif untuk membuka kembali selat, termasuk: pencabutan blokade laut dan sanksi AS, penarikan semua pasukan militer AS dari kawasan, pembayaran reparasi perang, dan pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Peringatan Eskalasi Militer dan Risiko Pasokan Minyak
Para analis dan perusahaan intelijen pelayaran memperingatkan bahwa kombinasi serangan drone, blokade AS, dan dorongan legislatif Iran telah menciptakan siklus eskalasi tanpa jalan keluar yang jelas:
Lloyd's List mencatat bahwa lalu lintas non-Iran tetap "jauh dari volume normal" dan ekspektasi untuk pembukaan kembali dalam waktu dekat semakin memudar.
The Guardian melaporkan bahwa pada bulan Juli, Iran telah mengancam akan menghentikan semua ekspor energi Timur Tengah jika blokade AS berlanjut.
Catatan: Pernyataan spesifik dari Badan Energi Internasional (IEA) tentang penipisan pasokan minyak global tidak tercantum dalam sumber yang tersedia. Namun, dampak pasar sudah jelas: minyak mentah Brent ditutup naik lebih dari USD 3 per barel pada 6 Agustus setelah berita RUU Iran.
Pasar prediksi pada 14 Agustus menetapkan probabilitas kembalinya lalu lintas normal di bawah 1%.
Dampak Ekonomi yang Lebih Luas pada Biaya Pengapalan dan Harga Minyak
Gangguan telah mengalir melalui pasar energi dan pengapalan global:
Harga minyak naik tajam: Minyak mentah Brent ditutup naik lebih dari USD 3 per barel pada 6 Agustus setelah berita RUU Iran.
Volume lalu lintas pelayaran tetap tertekan, dengan pemilik kapal secara aktif menghindari jalur air dan berlayar dengan transponder dimatikan untuk menyembunyikan pergerakan.
Krisis telah memaksa kapal untuk mengambil rute alternatif yang lebih panjang di sekitar Semenanjung Arab, mendorong kenaikan biaya pengapalan, premi asuransi, dan waktu tempuh — meskipun data tarif angkutan spesifik tidak tercantum dalam sumber yang tersedia.
Data IMF PortWatch dari 9 Agustus menunjukkan transit komersial melalui Selat hanya 1% dari volume sebelum krisis: satu kapal dibandingkan dengan tipikal 73 kapal per hari.
Intinya
Pada pertengahan Agustus 2026, Selat Hormuz tetap menjadi titik tersumbat maritim paling berbahaya dan paling terganggu di dunia. Tanpa terobosan diplomatik yang terlihat, serangan drone yang terus berlanjut, blokade AS yang mengeras, dan Iran yang memajukan undang-undang untuk secara selektif memblokir kapal, risiko terhadap pasokan energi global, biaya pengapalan, dan stabilitas regional sangat parah dan terus meningkat.
reuters.comGulf shipping traffic via Strait of Hormuz falls to six vessels