Peneliti di Okinawa Institute of Science and Technology (OIST) menggunakan tikus dalam kondisi hibernasi buatan dan menemukan bahwa lebih dari separuh sinapsis di otak bisa lenyap, namun memori yang sudah terbentuk se... Temuan ini membalikkan asumsi lama yang menganggap sinapsis individu yang kuat adalah fondasi ut...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How do long-term memories persist in the brain even after more than half of its synaptic connections are eliminated, as demonstrated in a mo. Article summary: Here is a concise answer drawn from the newly published *Science* study (Lin et al., 2026) by OIST and collaborators, as reported by OIST, Live Science, and News-Medical [5][6][10].. Topic tags: general, government, academic, general web, user generated. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, click
Bayangkan ini: lebih dari separuh sambungan saraf (sinapsis) di otak Anda tiba-tiba menghilang. Memori Anda seharusnya ikut lenyap, bukan? Ternyata tidak, menurut studi mengejutkan yang diterbitkan di jurnal Science .
Peneliti dari Okinawa Institute of Science and Technology (OIST) bersama kolaboratornya menciptakan kondisi hibernasi buatan pada tikus. Akibatnya, aktivitas di area otak bernama hipokampus turun hingga ~70%, dan lebih dari setengah duri dendritik (sinapsis) mereka terhapus . Saat tikus-tikus itu "bangun", mereka masih mengingat tugas-tugas yang sudah dipelajari, seperti rasa takut terkondisi dan navigasi ruang. Representasi spasial di hipokampus mereka pulih dengan sangat akurat
.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah penemuan yang mengguncang asumsi dasar tentang cara kerja memori.
Selama beberapa dekade, teori dominan tentang penyimpanan memori jangka panjang dibangun di atas konsep long-term potentiation (LTP—penguatan sinapsis jangka panjang). Idenya sederhana: belajar memperkuat sinapsis individu, yang memperbesar duri dendritik. Sinapsis besar dan kokoh ini dianggap sebagai basis fisik dari ingatan—semakin kuat koneksinya, semakin tahan lama ingatannya .
Selama hibernasi alami, banyak dari duri dendritik besar itu dipangkas. Menurut pandangan lama, tikus-tikus itu seharusnya bangun dengan amnesia parah. Tapi kenyataannya tidak.
"Sebelumnya, diyakini bahwa memperkuat sinapsis itu penting untuk mengingat, dan bahwa duri dendritik yang lebih besar dan lebih kuat sangat penting untuk retensi memori jangka panjang," kata Kazumasa Tanaka, salah satu penulis studi dan kepala Memory Research Unit di OIST . "Tetapi penelitian ini mengungkapkan bahwa tidak semua sinapsis sama pentingnya—pola penataan sinapsis engram-lah yang paling penting."
Jadi, apa yang selamat dari pemangkasan besar-besaran itu? Faktor kritisnya adalah organisasi topologis sinapsis dalam engram memori—jejak fisik suatu ingatan di otak.
Kluster sinapsis spesifik yang saling terhubung, membentuk "arsitektur jaringan yang lebih luas," tetap terlindungi selama proses eliminasi massal. Konfigurasi struktural yang dipertahankan ini bertindak sebagai "jejak memori inti," yang memungkinkan otak membangun kembali sirkuit fungsional saat bangun .
"Arsitektur topologis dari jaringan yang lebih luas ini tampaknya lebih penting daripada koneksi individu yang kokoh," jelas Tanaka .
Anggap saja seperti sebuah kota. Jika sinapsis individu yang kuat adalah gedung pencakar langit, maka arsitektur engram adalah tata letak jalanannya. Anda bisa merobohkan gedung-gedung individual, tetapi selama tata letak dasarnya masih ada, kota itu bisa dibangun kembali. Tikus yang kehilangan "gedung pencakar langit"-nya tetapi masih memiliki "tata letak jalan" kembali ke kehidupan fungsional tanpa kehilangan ingatan.
Tim peneliti, yang dipimpin oleh Yu-Ju Lin, menggunakan model tikus dengan hibernasi buatan. Dengan mengaktifkan neuron Q di hipotalamus, mereka menginduksi hipotermia berkepanjangan dan penekanan metabolisme—kondisi yang meniru hibernasi alami .
Melalui pencitraan struktur otak, mereka melacak apa yang terjadi di tingkat sinapsis selama kondisi mirip hibernasi:
Koneksi multi-sinapsis yang dipertahankan inilah yang membentuk arsitektur kluster yang menyatukan ingatan.
Studi OIST ini bergabung dengan semakin banyak penelitian yang menantang gagasan bahwa stabilitas sinapsis sama dengan stabilitas memori. Sebuah studi tahun 2014 pada Aplysia (siput laut) menunjukkan bahwa ingatan jangka panjang bisa bertahan bahkan setelah ekspresi sinaptiknya dihapus . Studi tahun 2020 di Science menunjukkan bahwa mikroglia menghilangkan sinapsis selama proses lupa yang normal . Dan studi terbaru tahun 2025 di Science menemukan bahwa akuisisi memori terkait dengan multi-synaptic boutons tanpa aktivasi simultan dari neuron yang terhubung, menantang model Hebbian .
Bersama-sama, temuan ini mengarah pada pandangan yang lebih kompleks dan berbasis jaringan tentang memori. Ingatan mungkin tidak disimpan di sinapsis individu sama sekali, melainkan dalam pola konektivitas di seluruh kluster sinapsis—sebuah arsitektur yang bisa bertahan dari perubahan besar.
Jika kunci retensi memori adalah arsitektur sinapsis, bukan kekuatan sinapsis individu, ini memiliki implikasi besar untuk mengobati kehilangan ingatan.
Kondisi seperti penyakit Alzheimer, stroke, dan cedera otak traumatis semuanya melibatkan hilangnya sinapsis secara luas. Jika terapi bisa menargetkan pelestarian atau pemulihan pola kluster tingkat tinggi ini—alih-alih mencoba memperkuat sinapsis individu—maka terapi itu mungkin lebih efektif dalam mempertahankan fungsi memori.
Menariknya, penelitian sebelumnya dari kelompok lain menemukan bahwa satu urutan torpor (mati suri) dan bangun pada tikus dapat meningkatkan LTP hipokampus dan mengembalikan kinerja memori pada model tikus penyakit Alzheimer . Ini menunjukkan bahwa kondisi mirip hibernasi otak mungkin bahkan memiliki efek terapeutik pada gangguan memori .
Otak jauh lebih tangguh dari yang kita bayangkan. Ingatan jangka panjang tidak bergantung pada kumpulan sinapsis individu yang kebal, tetapi pada pola konektivitas yang tangguh—cetak biru struktural yang bisa memandu rekonstruksi bahkan setelah sebagian besar koneksi hilang.
Atau seperti yang dikatakan Tanaka: "Arsitektur topologis dari jaringan yang lebih luas itulah yang benar-benar penting" .
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Peneliti di Okinawa Institute of Science and Technology (OIST) menggunakan tikus dalam kondisi hibernasi buatan dan menemukan bahwa lebih dari separuh sinapsis di otak bisa lenyap, namun memori yang sudah terbentuk se...
Peneliti di Okinawa Institute of Science and Technology (OIST) menggunakan tikus dalam kondisi hibernasi buatan dan menemukan bahwa lebih dari separuh sinapsis di otak bisa lenyap, namun memori yang sudah terbentuk se... Temuan ini membalikkan asumsi lama yang menganggap sinapsis individu yang kuat adalah fondasi utama ingatan jangka panjang.
Kluster sinapsis yang terhubung dalam pola tertentu membentuk semacam cetak biru struktural.