Sementara itu, situasi di Laut Merah sangat kontras. Blokade yang diumumkan Houthi pada 21 Juli 2026 telah mengubah total cara kerja pelabuhan Yanbu :
Operasi 'gelap' ini telah menghancurkan konsistensi data yang bisa diandalkan oleh IEA, OPEC, dan para trader minyak dunia. Perbedaan data untuk pekan pertama Agustus 2026 sangat mencolok:
| Sumber Data | Estimasi Ekspor Yanbu | Perubahan dari Pekan Sebelumnya |
|---|---|---|
| Vortexa | 2,38 juta bph | Turun dari 2,71 juta bph |
| Kpler | 1,78 juta bph | Turun drastis dari 4,04 juta bph |
| AXSMarine | Penurunan signifikan | Muatan tampak turun minimal 30% |
Seperti dicatat Reuters, perbedaan ini menciptakan "titik buta" yang parah dalam data pasokan minyak global . Vortexa tampaknya lebih mampu menangkap aktivitas gelap, sementara Kpler dan AXSMarine menunjukkan penurunan yang lebih curam
.
Ketika Iran menutup Selat Hormuz pada Maret 2026, Saudi mengaktifkan Pipa Timur-Barat (Petroline) sebagai jalur alternatif :
Namun, blokade Houthi kini menjepit jalur tersebut. Saudi bahkan diisukan akan menambah kapasitas pipa sebesar 2 juta bph dan mencari rute lain melalui pipa Sumed di Mesir serta Terusan Suez .
Kondisi ini menunjukkan Arab Saudi sedang melakukan strategi lindung nilai yang rumit:
Intinya: Pasar minyak global kini menghadapi 'titik buta' yang serius. Volume ekspor sebenarnya dari Arab Saudi—eksportir minyak terbesar dunia—tidak bisa lagi diukur dengan pasti. Ini adalah krisis transparansi dengan konsekuensi besar bagi harga minyak dan kebijakan energi global.