Alat buatan peneliti yang hanya sedikit lebih besar dari koin Rp500 ini ditancapkan ke port tersebut dan muat sempurna di bawah penutup debu yang sudah ada, sehingga tidak terlihat saat inspeksi biasa. Total waktu pemasangan kurang dari 60 detik .
Setelah terhubung, alat ini menggunakan teknik bernama 'Bus Driver'—mengirimkan sinyal dengan arus listrik yang lebih tinggi untuk menimpa dan menggantikan perintah asli yang dikirim antara FMC dan MCDU. Karena protokol ARINC 429 tidak memiliki enkripsi atau otentikasi, alat ini bisa mencegat, mengubah, dan menyuntikkan pesan tanpa terdeteksi . Alat ini juga dilengkapi modul Wi-Fi, sehingga penyerang bisa mengendalikannya dari jarak jauh melalui jaringan Wi-Fi di dalam pesawat
.
Alat 'Bus Driver' memberi penyerang beberapa kendali atas sistem avionik pesawat:
Peneliti memperingatkan bahwa kemampuan ini bisa menyebabkan:
Boeing menyatakan 'yakin bahwa lapisan perlindungan yang ada di pesawat, termasuk dalam desain sistem dan lingkungan operasional, memberikan mitigasi yang cukup untuk secara signifikan membatasi kemungkinan dan risiko serangan di dunia nyata' . Namun, peneliti melaporkan bahwa Boeing pertama kali diberi tahu tentang elemen penelitian ini lebih dari enam tahun lalu (sekitar tahun 2020), dan hingga saat ini belum mengungkapkan perbaikan teknis spesifik untuk mengatasi kerentanan ini
.
Peneliti mengusulkan perbaikan fisik jangka pendek dan solusi teknis jangka panjang:
Perbaikan fisik jangka pendek
Perbaikan perangkat lunak/perangkat keras jangka panjang
Meskipun demonstrasi ini tergolong serius, para peneliti menegaskan bahwa mereka sendiri masih terbang menggunakan Boeing 737. Mereka tidak menyerukan untuk menghentikan operasi pesawat, melainkan menganjurkan perencanaan industri jangka panjang untuk mengatasi serangan avionik berbasis akses fisik ini .