Seberapa besar dampak kesalahan ini? Dalam kumpulan data terbesar yang dianalisis, "artefak data ini bertanggung jawab atas 93% dari penurunan yang dilaporkan antara tahun 1945 dan 2010" . Artinya, penurunan disruptivitas yang disebut-sebut nyaris seluruhnya adalah kesalahan teknis, bukan cerminan realitas sains.
Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan dari kasus ini adalah lambatnya proses koreksi ilmiah. Tim peneliti Belgia telah mengirimkan kritik mereka ke Nature pada Oktober 2023. Namun, butuh waktu 32 bulan (hampir 3 tahun) bagi jurnal tersebut untuk menerima dan menerbitkan bantahan ini .
Studi asli tahun 2023 telah memicu lebih dari 300 liputan berita di seluruh dunia dan memengaruhi narasi tentang 'perlambatan inovasi' . Para penulis bantahan dengan tegas menyatakan bahwa "metodologi dan kesimpulan dari studi tahun 2023 tidak memberikan dasar yang kuat untuk kebijakan sains."
Kasus ini menjadi pelajaran berharga. Ketika sebuah penemuan yang salah terus dipublikasikan dan dikutip selama bertahun-tahun, hal itu tidak hanya memengaruhi persepsi publik tetapi juga dapat mengubah arah pendanaan riset. Sebagai catatan, penulis asli (Park, Leahey, dan Funk) membantah temuan bantahan ini dan menyatakan bahwa penurunan disruptivitas tetap signifikan secara statistik dalam analisis mereka sendiri . Namun, tim VUB dan KU Leuven menegaskan bahwa ketika analisis dibatasi pada makalah yang memiliki setidaknya 10 referensi, justru ditemukan sedikit peningkatan dalam disruptivitas
.
Kesimpulannya: sains melakukan koreksi, meskipun lambat. Dan kini, dunia tahu bahwa klaim 'sains semakin tidak inovatif' perlu dilihat dengan lebih kritis.