Klaim Sains Makin Tidak Inovatif Ternyata Akibat Bug dan Data Tak Lengkap
Studi tahun 2023 di Nature yang mengklaim inovasi sains menurun ternyata sebagian besar disebabkan oleh bug pada perangkat lunak visualisasi dan metadata referensi yang tidak lengkap di database Web of Science. Tim peneliti dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) dan KU Leuven menemukan bahwa 93% penurunan 'disruptivi...
Diterbitkan olehGambar dibuat dengan GPT Image 1.5
Studi tahun 2023 di Nature yang mengklaim inovasi sains menurun ternyata sebagian besar disebabkan oleh bug pada perangkat lunak visualisasi dan metadata referensi yang tidak lengkap di database Web of Science.
Tim peneliti dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) dan KU Leuven menemukan bahwa 93% penurunan 'disruptivitas' antara 1945 2010 adalah artefak basis data, bukan cerminan inovasi yang sesungguhnya.
Kritik terhadap studi tersebut baru terbit setelah 32 bulan tertunda di jurnal Nature, sementara klaim yang salah terus dikutip dalam kebijakan sains dan pemberitaan global.
Setelah bug diperbaiki dan data tidak lengkap difilter, penurunan disruptivitas menghilang atau bahkan menunjukkan sedikit peningkatan pada analisis tertentu.
What study by researchers from Vrije Universiteit Brussel and KU Leuven, published as a rebuttal in Nature in August 2025, found that a wideAI-generated editorial hero image for What study by researchers from Vrije Universiteit Brussel and KU Leuven, published as a rebuttal in Nature in August 2025, found that a wide.
AI Perintah
Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What study by researchers from Vrije Universiteit Brussel and KU Leuven, published as a rebuttal in Nature in August 2025, found that a wide. Article summary: The rebuttal study is Holst et al., "Dataset artefacts can partially drive the measured decline in disruption," published in Nature in August 2026 (DOI: 10.1038/s41586 026 10787 y) [4][5].. Topic tags: general web, workflow, code, regulation, benchmarks. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, click
openai.com
Sebuah studi kontroversial yang terbit di Nature pada tahun 2023 pernah menggemparkan dunia sains. Judulnya gamblang: inovasi ilmiah dan teknologi sedang menurun drastis selama puluhan tahun. Berita tentang 'kematian kreativitas' ini menyebar ke mana-mana, menginspirasi diskusi soal masa depan riset dan kebijakan pendanaan. Namun, sebuah bantahan baru yang terbit di jurnal yang sama, Nature, pada Agustus 2026 menunjukkan bahwa kesimpulan sensasional tersebut ternyata... salah besar.
Studi bantahan itu berjudul "Dataset artefacts can partially drive the measured decline in disruption" oleh dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) dan KU Leuven, Belgia . Mereka mengupas tuntas studi asli Park, Leahey, dan Funk dan menemukan dua masalah krusial.
Studio Global AI
Lanjutkan penelitian Anda
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Apa jawaban singkat untuk "Klaim Sains Makin Tidak Inovatif Ternyata Akibat Bug dan Data Tak Lengkap"?
Studi tahun 2023 di Nature yang mengklaim inovasi sains menurun ternyata sebagian besar disebabkan oleh bug pada perangkat lunak visualisasi dan metadata referensi yang tidak lengkap di database Web of Science.
Apa poin penting yang harus divalidasi terlebih dahulu?
Studi tahun 2023 di Nature yang mengklaim inovasi sains menurun ternyata sebagian besar disebabkan oleh bug pada perangkat lunak visualisasi dan metadata referensi yang tidak lengkap di database Web of Science. Tim peneliti dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) dan KU Leuven menemukan bahwa 93% penurunan 'disruptivitas' antara 1945 2010 adalah artefak basis data, bukan cerminan inovasi yang sesungguhnya.
Apa yang harus saya lakukan selanjutnya dalam latihan?
Kritik terhadap studi tersebut baru terbit setelah 32 bulan tertunda di jurnal Nature, sementara klaim yang salah terus dikutip dalam kebijakan sains dan pemberitaan global.
Klaim Sains Makin Tidak Inovatif Ternyata Akibat Bug dan Data Tak Lengkap
Studi tahun 2023 di Nature yang mengklaim inovasi sains menurun ternyata sebagian besar disebabkan oleh bug pada perangkat lunak visualisasi dan metadata referensi yang tidak lengkap di database Web of Science. Tim peneliti dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) dan KU Leuven menemukan bahwa 93% penurunan 'disruptivi...
Diterbitkan olehGambar dibuat dengan GPT Image 1.5
Studi tahun 2023 di Nature yang mengklaim inovasi sains menurun ternyata sebagian besar disebabkan oleh bug pada perangkat lunak visualisasi dan metadata referensi yang tidak lengkap di database Web of Science.
Tim peneliti dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) dan KU Leuven menemukan bahwa 93% penurunan 'disruptivitas' antara 1945 2010 adalah artefak basis data, bukan cerminan inovasi yang sesungguhnya.
Kritik terhadap studi tersebut baru terbit setelah 32 bulan tertunda di jurnal Nature, sementara klaim yang salah terus dikutip dalam kebijakan sains dan pemberitaan global.
Setelah bug diperbaiki dan data tidak lengkap difilter, penurunan disruptivitas menghilang atau bahkan menunjukkan sedikit peningkatan pada analisis tertentu.
What study by researchers from Vrije Universiteit Brussel and KU Leuven, published as a rebuttal in Nature in August 2025, found that a wideAI-generated editorial hero image for What study by researchers from Vrije Universiteit Brussel and KU Leuven, published as a rebuttal in Nature in August 2025, found that a wide.
AI Perintah
Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What study by researchers from Vrije Universiteit Brussel and KU Leuven, published as a rebuttal in Nature in August 2025, found that a wide. Article summary: The rebuttal study is Holst et al., "Dataset artefacts can partially drive the measured decline in disruption," published in Nature in August 2026 (DOI: 10.1038/s41586 026 10787 y) [4][5].. Topic tags: general web, workflow, code, regulation, benchmarks. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, click
openai.com
Sebuah studi kontroversial yang terbit di Nature pada tahun 2023 pernah menggemparkan dunia sains. Judulnya gamblang: inovasi ilmiah dan teknologi sedang menurun drastis selama puluhan tahun. Berita tentang 'kematian kreativitas' ini menyebar ke mana-mana, menginspirasi diskusi soal masa depan riset dan kebijakan pendanaan. Namun, sebuah bantahan baru yang terbit di jurnal yang sama, Nature, pada Agustus 2026 menunjukkan bahwa kesimpulan sensasional tersebut ternyata... salah besar.
Studi bantahan itu berjudul "Dataset artefacts can partially drive the measured decline in disruption" oleh dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) dan KU Leuven, Belgia . Mereka mengupas tuntas studi asli Park, Leahey, dan Funk dan menemukan dua masalah krusial.
Studio Global AI
Lanjutkan penelitian Anda
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Apa jawaban singkat untuk "Klaim Sains Makin Tidak Inovatif Ternyata Akibat Bug dan Data Tak Lengkap"?
Studi tahun 2023 di Nature yang mengklaim inovasi sains menurun ternyata sebagian besar disebabkan oleh bug pada perangkat lunak visualisasi dan metadata referensi yang tidak lengkap di database Web of Science.
Apa poin penting yang harus divalidasi terlebih dahulu?
Studi tahun 2023 di Nature yang mengklaim inovasi sains menurun ternyata sebagian besar disebabkan oleh bug pada perangkat lunak visualisasi dan metadata referensi yang tidak lengkap di database Web of Science. Tim peneliti dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) dan KU Leuven menemukan bahwa 93% penurunan 'disruptivitas' antara 1945 2010 adalah artefak basis data, bukan cerminan inovasi yang sesungguhnya.
Apa yang harus saya lakukan selanjutnya dalam latihan?
Kritik terhadap studi tersebut baru terbit setelah 32 bulan tertunda di jurnal Nature, sementara klaim yang salah terus dikutip dalam kebijakan sains dan pemberitaan global.
Vincent Holst, Andres Algaba, Floriano Tori, Sylvia Wenmackers, dan Vincent Ginis
Bukan Inovasi yang Menurun, Melainkan Data yang Bermasalah
Apa yang sebenarnya terjadi? Tim VUB dan KU Leuven mengidentifikasi dua sumber utama kesalahan :
Bug pada Perangkat Lunak Visualisasi: Ada kesalahan pada pustaka perangkat lunak yang digunakan peneliti asli untuk membuat grafik. Bug ini menyebabkan data dari makalah-makalah dengan skor 'disruptif' maksimal justru tidak muncul di histogram yang dipublikasikan. Ironisnya, data yang hilang inilah yang ternyata paling bermasalah.
Data Referensi yang Tidak Lengkap di Database Lama: Ini adalah kesalahan paling fatal. Basis data Web of Science untuk makalah-makalah lama (sekitar tahun 1945-1970-an) sering kali tidak memiliki metadata referensi yang lengkap. Banyak makalah lama yang tercatat memiliki nol referensi. Secara otomatis, algoritma yang mengukur 'disruptivitas' (disebut CD index) menganggap makalah tanpa referensi ini sebagai 'sangat disruptif'—karena dianggap tidak bergantung pada ilmu sebelumnya . Seiring waktu, kualitas basis data membaik, sehingga 'makalah disruptif palsu' ini makin jarang muncul. Inilah yang menciptakan ilusi penurunan disruptivitas.
Seberapa besar dampak kesalahan ini? Dalam kumpulan data terbesar yang dianalisis, "artefak data ini bertanggung jawab atas 93% dari penurunan yang dilaporkan antara tahun 1945 dan 2010" . Artinya, penurunan disruptivitas yang disebut-sebut nyaris seluruhnya adalah kesalahan teknis, bukan cerminan realitas sains.
Proses Koreksi yang Memakan Hampir 3 Tahun
Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan dari kasus ini adalah lambatnya proses koreksi ilmiah. Tim peneliti Belgia telah mengirimkan kritik mereka ke Nature pada Oktober 2023. Namun, butuh waktu 32 bulan (hampir 3 tahun) bagi jurnal tersebut untuk menerima dan menerbitkan bantahan ini .
Selama masa penundaan itu :
Nature terus menerbitkan tajuk rencana (editorial) dan artikel berita yang merujuk pada kesimpulan studi tahun 2023.
Studi yang keliru tersebut dikutip lebih dari 1.000 kali dan digunakan dalam setidaknya 16 dokumen kebijakan (policy documents) di berbagai negara.
Peneliti utama, Vincent Ginis, menyatakan frustrasi: "Sementara bug perangkat lunak diperbaiki oleh komunitas open-source dalam hitungan bulan, koreksi ilmiah resmi membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dan selama itu, kebijakan jurnal melarang kami berbicara kepada pers karena kritik kami masih dalam proses peninjauan."
Implikasi bagi Dunia Sains dan Kebijakan
Studi asli tahun 2023 telah memicu lebih dari 300 liputan berita di seluruh dunia dan memengaruhi narasi tentang 'perlambatan inovasi' . Para penulis bantahan dengan tegas menyatakan bahwa "metodologi dan kesimpulan dari studi tahun 2023 tidak memberikan dasar yang kuat untuk kebijakan sains."
Kasus ini menjadi pelajaran berharga. Ketika sebuah penemuan yang salah terus dipublikasikan dan dikutip selama bertahun-tahun, hal itu tidak hanya memengaruhi persepsi publik tetapi juga dapat mengubah arah pendanaan riset. Sebagai catatan, penulis asli (Park, Leahey, dan Funk) membantah temuan bantahan ini dan menyatakan bahwa penurunan disruptivitas tetap signifikan secara statistik dalam analisis mereka sendiri . Namun, tim VUB dan KU Leuven menegaskan bahwa ketika analisis dibatasi pada makalah yang memiliki setidaknya 10 referensi, justru ditemukan sedikit peningkatan dalam disruptivitas .
Kesimpulannya: sains melakukan koreksi, meskipun lambat. Dan kini, dunia tahu bahwa klaim 'sains semakin tidak inovatif' perlu dilihat dengan lebih kritis.
Vincent Holst, Andres Algaba, Floriano Tori, Sylvia Wenmackers, dan Vincent Ginis
Bukan Inovasi yang Menurun, Melainkan Data yang Bermasalah
Apa yang sebenarnya terjadi? Tim VUB dan KU Leuven mengidentifikasi dua sumber utama kesalahan :
Bug pada Perangkat Lunak Visualisasi: Ada kesalahan pada pustaka perangkat lunak yang digunakan peneliti asli untuk membuat grafik. Bug ini menyebabkan data dari makalah-makalah dengan skor 'disruptif' maksimal justru tidak muncul di histogram yang dipublikasikan. Ironisnya, data yang hilang inilah yang ternyata paling bermasalah.
Data Referensi yang Tidak Lengkap di Database Lama: Ini adalah kesalahan paling fatal. Basis data Web of Science untuk makalah-makalah lama (sekitar tahun 1945-1970-an) sering kali tidak memiliki metadata referensi yang lengkap. Banyak makalah lama yang tercatat memiliki nol referensi. Secara otomatis, algoritma yang mengukur 'disruptivitas' (disebut CD index) menganggap makalah tanpa referensi ini sebagai 'sangat disruptif'—karena dianggap tidak bergantung pada ilmu sebelumnya . Seiring waktu, kualitas basis data membaik, sehingga 'makalah disruptif palsu' ini makin jarang muncul. Inilah yang menciptakan ilusi penurunan disruptivitas.
Seberapa besar dampak kesalahan ini? Dalam kumpulan data terbesar yang dianalisis, "artefak data ini bertanggung jawab atas 93% dari penurunan yang dilaporkan antara tahun 1945 dan 2010" . Artinya, penurunan disruptivitas yang disebut-sebut nyaris seluruhnya adalah kesalahan teknis, bukan cerminan realitas sains.
Proses Koreksi yang Memakan Hampir 3 Tahun
Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan dari kasus ini adalah lambatnya proses koreksi ilmiah. Tim peneliti Belgia telah mengirimkan kritik mereka ke Nature pada Oktober 2023. Namun, butuh waktu 32 bulan (hampir 3 tahun) bagi jurnal tersebut untuk menerima dan menerbitkan bantahan ini .
Selama masa penundaan itu :
Nature terus menerbitkan tajuk rencana (editorial) dan artikel berita yang merujuk pada kesimpulan studi tahun 2023.
Studi yang keliru tersebut dikutip lebih dari 1.000 kali dan digunakan dalam setidaknya 16 dokumen kebijakan (policy documents) di berbagai negara.
Peneliti utama, Vincent Ginis, menyatakan frustrasi: "Sementara bug perangkat lunak diperbaiki oleh komunitas open-source dalam hitungan bulan, koreksi ilmiah resmi membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dan selama itu, kebijakan jurnal melarang kami berbicara kepada pers karena kritik kami masih dalam proses peninjauan."
Implikasi bagi Dunia Sains dan Kebijakan
Studi asli tahun 2023 telah memicu lebih dari 300 liputan berita di seluruh dunia dan memengaruhi narasi tentang 'perlambatan inovasi' . Para penulis bantahan dengan tegas menyatakan bahwa "metodologi dan kesimpulan dari studi tahun 2023 tidak memberikan dasar yang kuat untuk kebijakan sains."
Kasus ini menjadi pelajaran berharga. Ketika sebuah penemuan yang salah terus dipublikasikan dan dikutip selama bertahun-tahun, hal itu tidak hanya memengaruhi persepsi publik tetapi juga dapat mengubah arah pendanaan riset. Sebagai catatan, penulis asli (Park, Leahey, dan Funk) membantah temuan bantahan ini dan menyatakan bahwa penurunan disruptivitas tetap signifikan secara statistik dalam analisis mereka sendiri . Namun, tim VUB dan KU Leuven menegaskan bahwa ketika analisis dibatasi pada makalah yang memiliki setidaknya 10 referensi, justru ditemukan sedikit peningkatan dalam disruptivitas .
Kesimpulannya: sains melakukan koreksi, meskipun lambat. Dan kini, dunia tahu bahwa klaim 'sains semakin tidak inovatif' perlu dilihat dengan lebih kritis.