Keesokan paginya, 12 Agustus, Korea Utara menembakkan rudal balistik dari daerah pesisir timur Wonsan ke arah Laut Timur (Laut Jepang) . Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mendeteksi peluncuran tersebut sekitar pukul 6:00 pagi waktu setempat
. Rudal itu terbang sekitar 700 kilometer (435 mil) sebelum mendarat di luar zona ekonomi eksklusif Jepang
. Data Jepang menunjukkan ketinggian maksimum sekitar 90 kilometer
.
Otoritas Korea Selatan dan Jepang mengonfirmasi bahwa ini adalah uji coba rudal balistik ke-11 Korea Utara yang dicurigai pada tahun 2026 . Ini adalah uji coba kedua dalam waktu kurang dari seminggu, menyusul peluncuran dari daerah Wonsan yang sama pada 6 Agustus
.
Uji coba rudal pada 12 Agustus secara luas dipandang sebagai protes yang disengaja menjelang latihan militer bersama tahunan Ulchi Freedom Shield antara Korea Selatan dan Amerika Serikat, yang diumumkan akan dimulai pada 17 Agustus . Korea Utara secara rutin mengutuk latihan ini sebagai latihan invasi
.
Pada 9 Agustus, Presiden Zelensky meningkatkan peringatannya tentang komitmen pasukan Korea Utara, dengan menyatakan di media sosial bahwa "keputusan telah dibuat untuk mengerahkan 30.000 hingga 50.000 orang Korea Utara di wilayah Rusia" . Ini merupakan peningkatan signifikan dari perkiraannya pada Juli yang menyebutkan 30.000 tentara tambahan . Zelensky mencatat bahwa kehadiran Korea Utara telah meningkat secara bertahap: "Awalnya, kami berbicara tentang ratusan, lalu ribuan, dan sekarang keputusan telah dibuat untuk 30.000 hingga 50.000" .
Zelensky tidak merinci bagaimana Kyiv memperoleh informasi ini . Perkiraan ini akan jauh melampaui sekitar 11.000 hingga 14.000 tentara Korea Utara yang sudah dikerahkan ke wilayah Kursk, Rusia, sejak 2024 berdasarkan pakta pertahanan bersama .
Beberapa laporan dari akhir Juli hingga awal Agustus 2026 mengutip pernyataan Zelensky bahwa Pyongyang telah meraup sekitar $22 miliar dari ekspor militer ke Rusia, termasuk rudal, peluru artileri, dan tentara . Pendapatan ini memberikan Kim Jong Un sejumlah besar mata uang asing, transfer teknologi canggih, dan data senjata yang teruji di medan perang untuk pasukannya
.
Pada 5 Agustus, Badan Intelijen Pertahanan Ukraina (HUR) melaporkan bahwa sebuah unit rudal Korea Utara telah mulai dikerahkan ke Oblast Voronezh, Rusia, sekitar 150 kilometer dari perbatasan Ukraina . Andrii Cherniak, juru bicara HUR, mengatakan kepada Reuters bahwa unit tersebut terdiri dari sekitar 90 personel Korea Utara, dilengkapi dengan enam peluncur rudal (transporter-erector-launchers) dan persenjataan hingga 120 rudal balistik jarak pendek KN-23 dan KN-24 . Pyongyang telah mengirimkan batch baru sebanyak 40 rudal ini, dengan unit tersebut beroperasi sebagai bagian dari Brigade Rudal Garda ke-112 Rusia .
Para analis mencatat bahwa pengerahan ini—yang pertama dari jenisnya—akan memungkinkan kru Korea Utara mendapatkan pengalaman operasional sementara Rusia dapat menyerang lebih dalam ke Ukraina dengan persenjataan yang lebih besar .
Beberapa media Barat dan Ukraina melaporkan bahwa pejabat China mengetahui dan memantau dengan saksama transfer militer Korea Utara yang terus meningkat ke Rusia, termasuk pengerahan rudal dan pasukan, tetapi tidak secara terbuka campur tangan untuk menghentikannya . Analis independen mencatat bahwa Beijing menghadapi dilema strategis: China diuntungkan karena Pyongyang menyita perhatian AS, tetapi berisiko terseret ke dalam konflik yang lebih luas
.
Komentar analis selama periode ini menggambarkan pendekatan Kim Jong Un sebagai "strategic delinquency" atau kenakalan strategis—dengan sengaja menyeimbangkan antara Rusia dan China . Dengan memasok rudal dan tentara ke Rusia, Kim mendapatkan mata uang asing, transfer teknologi canggih, dan data senjata yang teruji di medan perang, sambil memberi sinyal kepada Beijing bahwa Pyongyang memiliki pelindung kuat lainnya. China, yang tidak nyaman dengan ketidakstabilan ini tetapi tidak mau memutuskan hubungan dengan kedua sekutunya, memiliki pengaruh terbatas atas perilaku Kim
.
Pejabat Ukraina dan analis Barat mencatat bahwa keberhasilan serangan rudal balistik Rusia—termasuk rudal yang dipasok Korea Utara—dimungkinkan oleh kekurangan parah interceptor Patriot dan sistem pertahanan udara canggih lainnya di Ukraina . Zelensky secara khusus meminta Korea Selatan untuk memberikan dukungan pertahanan udara selama periode ini
. Tanpa interceptor yang memadai, rudal balistik KN-23/24 yang lebih lambat pun dapat menembus pertahanan dan menyebabkan korban massal
.
Peristiwa 11–12 Agustus 2026 menunjukkan bahwa peran Korea Utara dalam perang Rusia-Ukraina telah bergerak melampaui pemasok senjata menjadi partisipan militer aktif. Dengan unit rudal di tanah Rusia, ribuan pasukan tambahan yang berpotensi dalam perjalanan, dan senjata yang teruji di medan perang ditembakkan ke kota-kota Ukraina, strategi Pyongyang untuk memanfaatkan perang demi pendapatan, pengalaman, dan pengaruh geopolitik telah memasuki fase baru yang lebih berbahaya.