Kedua, selisih suku bunga Jepang-AS tetap jomplang. BOJ mempertahankan suku bunga di 1% pada pertemuan 30–31 Juli . Meski ada pernyataan hawkish, suku bunga Jepang masih jauh di bawah AS, membuat carry trade — meminjam yen berbunga rendah untuk investasi di aset berbunga tinggi — tetap sangat menguntungkan. Seperti dikatakan seorang analis ke CNBC, fundamental yen masih "lemah" dan pemulihan berkelanjutan membutuhkan perubahan struktural kebijakan BOJ
.
Ketiga, pasar melihat intervensi sebagai aksi sekali jalan. Intervensi terkoordinasi memang bisa mengguncang pasar sementara, tapi tanpa diikuti pengetatan kebijakan, efeknya menguap . Pola ini sudah terbukti: tiga intervensi solo Jepang pada Q2 2026 juga gagal membalikkan tren pelemahan yen
.
Intervensi cuma beli waktu, bukan ubah tren. Reuters, CNBC, dan Russell Investments sepakat: aksi bersama itu "sinyal kuat" yang memberi waktu bagi BOJ, tapi "tidak cukup untuk menopang yen" tanpa kebijakan moneter yang lebih ketat dan fundamental ekonomi yang membaik .
Ada kontradiksi kebijakan di akar masalah. AS dan Jepang bersama-sama membeli yen untuk memperkuatnya, tapi pada saat yang sama BOJ membiarkan suku bunga di 1% — level yang membuat yen tetap menjadi salah satu mata uang pendanaan termurah di dunia. Intervensi ini melawan sinyal pasar yang justru dikirim oleh sikap suku bunga BOJ sendiri. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan secara terbuka mendorong BOJ menaikkan suku bunga, yang "hampir mengunci" bank sentral Jepang untuk bergerak pada September .
Cadangan terbatas, aturan IMF membelenggu Jepang. Kapasitas intervensi Jepang dibatasi oleh stok cadangan devisa dan pedoman IMF yang membatasi frekuensi intervensi agar status yen sebagai mata uang "mengambang bebas" tetap terjaga. Analis mencatat Jepang mungkin hanya punya ruang untuk dua kali intervensi tiga hari lagi hingga November berdasarkan aturan IMF .
AS punya alasan sendiri untuk tidak mengulangi aksi bersama. Analisis Reuters menemukan ambang batas untuk intervensi bersama AS-Jepang berikutnya sangat tinggi: AS harus menjual Treasury untuk mendanai pembelian yen, dan Washington punya prioritas sendiri dalam memerangi inflasi yang tidak mendorong pelemahan dolar .
Laporan inflasi Juli yang dirilis hari ini adalah katalis jangka pendek paling penting. Jika lebih rendah dari ekspektasi, ini akan memperkuat ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed, menekan dolar, dan berpotensi mengangkat yen . Sebaliknya, CPI yang panas akan membuat imbal hasil AS naik, melebarkan kembali selisih suku bunga, dan mendorong USD/JPY kembali ke 160 atau lebih
. Pasar saat ini sudah memperkirakan probabilitas sekitar 44% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada September setelah laporan pekerjaan Juli yang sangat lemah (-23k vs ekspektasi +80k), menciptakan risiko dua arah yang tidak biasa bagi dolar
.
BOJ mempertahankan suku bunga di 1% pada 31 Juli tapi untuk pertama kalinya memperingatkan bahwa inflasi inti bisa melampaui target, dengan diskusi kebijakan masa depan kini berfokus pada risiko kenaikan harga . Setidaknya tiga dari sembilan anggota dewan berpendapat BOJ "bisa" menaikkan suku bunga lebih cepat, dan ringkasan pertemuan Juli memperkuat kasus untuk kenaikan September
. Jajak pendapat Reuters menunjukkan mayoritas ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga pada Desember, mungkin pada Oktober
. Bank of America sekarang memperkirakan yen menguat ke 149 pada akhir tahun, mengutip intervensi bersama dan prospek kenaikan suku bunga BOJ
.
Ketergantungan Jepang pada impor energi berarti yen yang lemah mendorong biaya impor dan bahan bakar inflasi domestik — sebuah lingkaran umpan balik yang justru mendorong BOJ menuju pengetatan lebih cepat . Selisih suku bunga AS-Jepang tetap menjadi kekuatan struktural dominan. Sampai BOJ menaikkan suku bunga secara berarti atau The Fed memotong suku bunga secara tegas, kekuatan yen dari intervensi cenderung memudar
. Selain itu, yen yang lebih kuat akan mengurangi imbal hasil aset luar negeri yang tidak dilindung nilai, berpotensi memicu gelombang pelepasan carry trade lagi seperti Juli 2024, yang bisa memperkuat yen lebih lanjut jika terjadi
.
Kesimpulan: Intervensi bersama ini signifikan secara historis, tapi juga memperlihatkan kontradiksi fundamental: mencoba menopang mata uang sambil mempertahankan suku bunga yang sangat longgar. Lintasan jangka pendek yen kini tergantung pada data CPI AS hari ini dan pertemuan BOJ September. Tanpa kenaikan suku bunga BOJ yang kredibel, level 160 tetap menjadi jalur dengan resistensi paling ringan.