Serangan ini merupakan eskalasi terbaru dari kampanye terkoordinasi Houthi — yang didukung oleh Iran — untuk menekan Arab Saudi dengan menghantam infrastruktur energi dan pelabuhan di Laut Merah, sambil terus melawan pasukan pemerintah Yaman. Jika digabungkan dengan sikap keras Iran di Selat Hormuz, serangan ini mengancam untuk mengganggu aliran energi global melalui dua jalur laut paling kritis di dunia secara bersamaan .
Serangan di Pelabuhan Mokha sangat mematikan. Menurut sumber medis AFP di Mokha, sedikitnya 11 orang tewas dan 32 orang luka-luka, termasuk enam warga sipil . Dari korban tewas, delapan di antaranya adalah personel militer dan tiga lainnya warga sipil .
Pasukan Perlawanan Nasional (aliansi pemerintah Yaman) melaporkan jumlah korban yang lebih rendah, yaitu tujuh tewas (empat tentara dan tiga warga sipil) serta 15 luka-luka .
Infrastruktur pelabuhan mengalami kerusakan parah. Fayed al-Noman, Asisten Wakil Menteri Penerangan, mengatakan Houthi menembakkan rudal dan drone ke pelabuhan, merusak gedung dan dermaga secara serius, begitu juga barang-barang komersial dan pasokan makanan . Menteri Perhubungan Yaman, Mohsen al-Amri, menyebutnya sebagai "pemboman teroris" yang mengakibatkan kematian, cedera, dan kerusakan material yang signifikan .
Situasi semakin buruk ketika gelombang serangan Houthi kedua menghantam Mokha kurang dari 24 jam setelah serangan pertama. Pasukan pemerintah Yaman melaporkan bahwa pertahanan udara berhasil mencegat enam drone, sementara dua rudal balistik jatuh ke laut tanpa mengenai sasaran .
Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim bahwa serangan drone menghantam Kilang Aramco di Jazan, dan menyebutnya sebagai serangan yang "presisi" . Kementerian Energi Saudi mengonfirmasi bahwa kebakaran terjadi di fasilitas tersebut, namun berhasil dipadamkan tanpa menimbulkan korban jiwa . Kementerian tersebut tidak mengungkapkan penyebab kebakaran.
Ini adalah serangan besar kedua Houthi ke Jazan dalam hitungan minggu. Pada 25 Juli lalu, serangan menggunakan rudal balistik dan drone telah membakar kompleks kilang yang sama dan juga menyasar terminal ekspor Yanbu di utara . Serangan 25 Juli tersebut merusak kompleks Integrated Gasification Combined Cycle (IGCC) dan sebuah tank farm, memaksa Saudi Aramco menutup fasilitas berkapasitas 400.000 barel per hari itu . Perbaikan diperkirakan baru akan selesai pada 15 Agustus mendatang .
Kilang Jazan sendiri telah berfungsi sebagai hub ekspor bagi Arab Saudi untuk mengelabui blokade Iran yang sedang berlangsung di Selat Hormuz .
Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree, memberikan beberapa justifikasi untuk serangan ini:
Tanggapan Saudi terukur namun memiliki konsekuensi:
Serangan ini berada dalam konteks krisis yang jauh lebih besar yang mengancam untuk mengubah kembali peta energi Timur Tengah:
Dua titik rawan (chokepoint) di bawah tekanan
Konteks Perang AS-Israel melawan Iran
Houthi bertindak sebagai proksi yang sejalan dengan Iran, membuka "front kedua" melawan Arab Saudi dan mengganggu pasokan energi global yang terkoordinasi dengan strategi Iran di Teluk . Serangan ini merupakan serangan Houthi signifikan pertama di tanah Saudi sejak gencatan senjata 2022, menandai runtuhnya relatif tenang yang bertahan selama empat tahun .
Hambatan Diplomatik
Upaya untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran terus berlanjut tetapi menghadapi hambatan besar karena konflik meluas dari Teluk ke Laut Merah . Serangan ini telah menuai perhatian dari media dan pemerintah global karena mengancam arus bebas minyak dan perdagangan melalui dua jalur laut paling kritis di dunia.
Serangan 9 Agustus bukanlah insiden yang terisolasi. Ini adalah eskalasi terbaru dalam kampanye Houthi yang terkoordinasi — didukung oleh Iran — untuk menekan Arab Saudi dengan menghantam infrastruktur energinya dan pelabuhan Laut Merah sambil terus berperang melawan pasukan pemerintah Yaman. Jika dikombinasikan dengan sikap Iran di Selat Hormuz, serangan ini mengancam untuk mencekik aliran energi global melalui dua titik rawan utama Timur Tengah secara bersamaan. Runtuhnya gencatan senjata selama empat tahun dan terbentuknya pakta pertahanan baru menandakan bahwa kawasan ini memasuki fase konfrontasi yang lebih berbahaya.