Afrika Ingin Membuat Panel Surya Sendiri. Ini Dia Mengapa Itu Lebih Sulit dari Kedengarannya.
Kapasitas perakitan panel surya domestik Afrika mencapai sekitar 2,3 GW di Maroko, Afrika Selatan, dan Nigeria — setara dengan hanya dua bulan impor dari Tiongkok yang mencapai 18,8 GW pada 2025. Tidak ada satu pun pabrik di Afrika yang memproduksi sel surya (solar cell) atau wafer dalam skala komersial; semua pabri...
Diterbitkan olehDiedit dengan DeepSeek-V4-FlashGambar dibuat dengan GPT Image 1.5
Kapasitas perakitan panel surya domestik Afrika mencapai sekitar 2,3 GW di Maroko, Afrika Selatan, dan Nigeria — setara dengan hanya dua bulan impor dari Tiongkok yang mencapai 18,8 GW pada 2025.
Tidak ada satu pun pabrik di Afrika yang memproduksi sel surya (solar cell) atau wafer dalam skala komersial; semua pabrik perakitan bergantung penuh pada komponen impor dari Tiongkok.
Impor panel surya Tiongkok ke Afrika melonjak 48% pada 2025 menjadi 18,8 GW, jauh melampaui pertumbuhan kapasitas produksi lokal.
Peluncuran Eskom Green di Afrika Selatan, yang menargetkan 32 GW kapasitas energi terbarukan pada 2040, diprediksi akan semakin memperbesar permintaan panel surya impor.
What are the key developments and challenges in Africa's push to expand domestic solar manufacturing capacity, including recent production iAfrica installed a record 4.5 GW of solar capacity in 2025, yet domestic manufacturing supplies only a fraction of that demand.
AI Perintah
Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What are the key developments and challenges in Africa's push to expand domestic solar manufacturing capacity, including recent production i. Article summary: Here is a comprehensive breakdown of the key developments and challenges.. Topic tags: general, education, news, general web, user generated. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as factual evid
openai.com
Pemerintah-pemerintah di Afrika semakin mempercepat rencana membangun kapasitas manufaktur panel surya dalam negeri. Ambisi industrialisasi ini didorong oleh kekhawatiran yang semakin besar akan ketergantungan pada impor dari Tiongkok. Namun, angka-angka yang ada menunjukkan kenyataan yang pahit: setelah bertahun-tahun investasi, benua ini hanya mampu merakit sebagian kecil dari panel yang dipasangnya, dan setiap pabrik di Afrika masih bergantung pada Tiongkok untuk komponen yang paling krusial.
Manufaktur dalam negeri tumbuh — dari basis yang sangat rendah
Ekonomi-ekonomi terbesar di benua ini telah membuat kemajuan yang nyata, meski sederhana, dalam perakitan panel.
Maroko menggandakan kapasitas manufaktur panel suryanya menjadi 1 GW per tahun.
Afrika Selatan kini memiliki kapasitas perakitan panel sekitar .
Studio Global AI
Lanjutkan penelitian Anda
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Apa jawaban singkat untuk "Afrika Ingin Membuat Panel Surya Sendiri. Ini Dia Mengapa Itu Lebih Sulit dari Kedengarannya."?
Kapasitas perakitan panel surya domestik Afrika mencapai sekitar 2,3 GW di Maroko, Afrika Selatan, dan Nigeria — setara dengan hanya dua bulan impor dari Tiongkok yang mencapai 18,8 GW pada 2025.
Apa poin penting yang harus divalidasi terlebih dahulu?
Kapasitas perakitan panel surya domestik Afrika mencapai sekitar 2,3 GW di Maroko, Afrika Selatan, dan Nigeria — setara dengan hanya dua bulan impor dari Tiongkok yang mencapai 18,8 GW pada 2025. Tidak ada satu pun pabrik di Afrika yang memproduksi sel surya (solar cell) atau wafer dalam skala komersial; semua pabrik perakitan bergantung penuh pada komponen impor dari Tiongkok.
Apa yang harus saya lakukan selanjutnya dalam latihan?
Impor panel surya Tiongkok ke Afrika melonjak 48% pada 2025 menjadi 18,8 GW, jauh melampaui pertumbuhan kapasitas produksi lokal.
Nigeria berhasil menarik investasi manufaktur energi terbarukan sebesar $425 juta pada tahun 2025, mendongkrak kapasitas produksi dalam negeri dari 120 MW menjadi ~300 MW — peningkatan sebesar 150% dalam dua tahun .
Ethiopia juga memiliki jalur perakitan yang mulai beroperasi, dan tiga pabrik manufaktur skala gigawatt sedang dalam pengembangan di seluruh benua .
Meski begitu, total kapasitas terpasang panel surya di Afrika — panel yang benar-benar terpasang di atap dan di lapangan — hanya mencapai 23,4 GW menurut Asosiasi Industri Surya Afrika (AFSIA), masih sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan benua ini . (Perkiraan AFSIA sendiri, yang menggunakan data ekspor Tiongkok, bahkan menyebut angka bisa mencapai 63,9 GW, yang mencerminkan sulitnya melacak instalasi di luar jaringan listrik .)
Kesenjangan dengan impor Tiongkok sangat mencolok
Impor panel surya dari Tiongkok jauh melampaui produksi lokal dengan selisih yang besar dan terus melebar.
Pada 2024, ekspor panel surya Tiongkok ke Afrika mencapai 11,36 GW, naik 43% dari tahun sebelumnya, dengan Afrika Selatan sebagai tujuan utama (3,81 GW) disusul Maroko (1,13 GW) .
Dalam 12 bulan hingga Juni 2025 saja, impor menembus angka 15 GW — peningkatan sebesar 60% .
Sepanjang tahun 2025, Tiongkok mengirimkan sekitar 18,8 GW panel surya ke Afrika, naik 48% dari tahun 2024, menurut Ember .
Secara kumulatif, dari 2017 hingga pertengahan 2026, Tiongkok telah mengekspor 58,1 GW panel surya ke benua ini .
Sebagai perbandingan, total kapasitas manufaktur panel domestik Afrika (~2,3 GW di seluruh negara) kira-kira hanya setara dengan dua bulan impor dari Tiongkok saat ini.
Masalah struktural: Tidak ada produksi sel surya skala komersial
Kesenjangan paling kritis adalah tidak ada satu pun negara Afrika yang memproduksi sel surya (solar cell) atau wafer dalam skala komersial. Jalur 'manufaktur' yang ada — di Maroko, Afrika Selatan, dan Nigeria — pada dasarnya adalah operasi perakitan modul yang mengimpor sel, bingkai, kaca, dan lembaran belakang dari Tiongkok.
Ini berarti:
Afrika hanya menangkap segmen rantai pasokan dengan nilai tambah paling rendah.
Kandungan lokal dalam panel yang dirakit masih sangat kecil.
Benua ini rentan terhadap fluktuasi harga, gangguan pasokan, dan perubahan kebijakan perdagangan dari Tiongkok.
Analis mencatat bahwa sel yang diproduksi di Tiongkok sangat murah sehingga keunggulan biaya di tahap perakitan pun menjadi sangat tipis .
Investasi energi Tiongkok: Bergeser dari pinjaman ke ekspor
Tiongkok tetap menjadi investor asing terbesar di sektor kelistrikan Afrika Sub-Sahara, dengan pembiayaan sektor energi melebihi $30 miliar selama periode 2010–2020 . Dari 2020 hingga 2024, investasi Tiongkok telah menghadirkan lebih dari 32 GW kapasitas pembangkit listrik di 30 negara — senilai lebih dari $33 miliar. Tenaga surya saja mencakup 57% dari total investasi energi terbarukan Tiongkok di Afrika dari tahun 2010 hingga 2021 .
Namun, modelnya mulai bergeser. Pinjaman energi Tiongkok melambat drastis — hanya satu pinjaman energi yang dikonfirmasi pada tahun 2024 (proyek transmisi di Angola) — karena Beijing beralih ke pasokan peralatan yang didorong oleh ekspor, bukan pembiayaan proyek .
Dorongan Afrika Selatan: Eskom Green dan target 32 GW
Afrika Selatan memposisikan diri sebagai kandidat utama untuk manufaktur panel surya skala besar dan juga sebagai tujuan investasi energi bersih utama.
Pada Juni 2026, Eskom meluncurkan Eskom Green, anak perusahaan energi terbarukan milik penuh yang disetujui untuk menggalang dana sendiri dan menjalin kemitraan publik-swasta . Anak perusahaan ini menargetkan 32 GW kapasitas energi terbarukan pada tahun 2040, termasuk tenaga surya, angin, dan penyimpanan baterai, dengan fase awal sebesar 5,6 GW pembangkit bebas karbon . Regulasi PFMA final telah diperoleh pada Juli 2026 .
Namun, para analis memperkirakan bahwa rencana ini akan menciptakan permintaan yang jauh lebih besar untuk peralatan surya Tiongkok daripada untuk produksi lokal, mengingat kapasitas manufaktur dalam negeri tidak dapat berkembang secepat itu .
Prospek: Dominasi Tiongkok akan bertahan tanpa perubahan kebijakan besar
Para analis industri secara luas sepakat bahwa dominasi Tiongkok di pasar tenaga surya Afrika akan bertahan di masa mendatang, kecuali ada kebijakan tarif, subsidi, atau terobosan dalam manufaktur hulu yang signifikan .
Pada tahun 2024, Tiongkok memproduksi 80% panel surya dunia, dan kelebihan kapasitas yang sangat besar menyebabkan harga panel terus turun .
Ekspor panel surya Tiongkok ke Afrika tumbuh lebih cepat daripada kapasitas lokal — rasio impor terhadap produksi lokal justru melebar, bukan menyempit.
Bahkan jika semua pabrik skala gigawatt yang direncanakan di Afrika jadi beroperasi, pasokannya hanya akan memenuhi sebagian kecil dari perkiraan permintaan, dan ketergantungan hulu pada sel dan wafer dari Tiongkok akan tetap ada .
Intinya: Dorongan manufaktur panel surya domestik Afrika adalah nyata dan semakin cepat, tetapi dimulai dari basis yang sangat kecil, terbatas pada perakitan panel bernilai rendah, dan terus terkalahkan oleh tsunami impor Tiongkok. Tanpa produksi sel skala besar, kebijakan perdagangan protektif, atau subsidi berkelanjutan, dominasi Tiongkok dalam rantai nilai tenaga surya Afrika diperkirakan akan berlanjut hingga dekade ini dan kemungkinan hingga tahun 2030-an .