Imbal hasil obligasi tenor dua tahun biasanya paling sensitif terhadap ekspektasi suku bunga kebijakan BOJ. Pada 7 Agustus, imbal hasil tersebut naik 4,5 basis poin dalam satu sesi hingga mencapai 1,605% . Pemicu langsungnya adalah yen yang kembali melemah. Kondisi ini mendorong pasar memperkirakan BOJ perlu menaikkan suku bunga lebih cepat—bahkan pada pertemuan September—untuk membantu menopang yen dan membatasi inflasi yang berasal dari barang-barang impor .
Kenaikan tersebut merupakan bagian dari tren yang telah berlangsung beberapa tahun. Imbal hasil JGB dua tahun naik dari level di bawah 0,1% pada 2022, seiring dengan langkah normalisasi BOJ, termasuk berakhirnya pengendalian kurva imbal hasil pada 2023, penghentian suku bunga negatif pada Maret 2024, dan kenaikan suku bunga menjadi 1% pada Juni 2026 .
Pasar kini semakin yakin bahwa inflasi dapat bertahan di atas target BOJ sebesar 2%. Jika tekanan harga dan pertumbuhan upah terus menguat, bank sentral Jepang mungkin harus mempercepat pengetatan kebijakan.
Pada 31 Juli 2026 waktu Amerika Serikat, Kementerian Keuangan Jepang melakukan intervensi dengan membeli yen dan menjual dolar melalui koordinasi dengan Departemen Keuangan AS. Langkah ini disebut sebagai intervensi bersama pertama sejak 1998 . Korea Selatan juga melakukan intervensi secara bersamaan .
Intervensi tersebut terjadi pada hari yang sama ketika BOJ mengakhiri pertemuan kebijakan 30–31 Juli . BOJ mempertahankan suku bunga di 1%, tetapi untuk pertama kalinya memperingatkan bahwa inflasi yang mendasari dapat melampaui target 2%. Bank sentral juga mengubah panduan ke depan dengan menekankan risiko kenaikan harga, sebuah sinyal bahwa kenaikan suku bunga pada September tetap terbuka .
Bagi pelaku pasar, dua perkembangan ini membentuk kombinasi yang kuat:
Yen sempat bangkit dari posisi terlemah dalam sekitar empat dekade dan mencatat kenaikan harian terbesar terhadap dolar dalam hampir dua tahun . Namun, keberlanjutan dampak intervensi tersebut masih belum terbukti. Jika tekanan jual terhadap yen kembali muncul, ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ juga dapat menguat lagi.
JPMorgan menaikkan perkiraan kenaikan suku bunga BOJ hingga 2027 dari dua kali menjadi tiga kali. Bank tersebut memproyeksikan suku bunga kebijakan BOJ mencapai 2% pada akhir 2027 .
Meski demikian, Oktober 2026 masih menjadi skenario dasar JPMorgan. Bank itu mengakui adanya "risiko kenaikan yang signifikan" terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada September setelah intervensi yen dan pernyataan hawkish BOJ pada Juli .
Dengan kata lain, pasar tidak hanya memperdebatkan apakah BOJ akan menaikkan suku bunga, tetapi juga seberapa cepat siklus pengetatan itu berlangsung.
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga memperkirakan suku bunga kebijakan BOJ mencapai 2% pada akhir 2027. Menurut OECD, suku bunga 1% masih berada di dekat batas bawah kisaran netral bagi perekonomian ketika inflasi berada di sekitar 2% .
Dana Moneter Internasional (IMF) secara konsisten mendukung kelanjutan normalisasi kebijakan BOJ. Pada Agustus 2026, Dan Katz, pejabat nomor dua IMF, menyebut Jepang sedang mengalami "transformasi jangka panjang yang sangat signifikan". Menurutnya, pemulihan ekonomi dan reformasi struktural memberi ruang bagi BOJ untuk melanjutkan normalisasi setelah puluhan tahun menerapkan kebijakan moneter yang sangat longgar .
Sebelumnya, IMF juga mendorong BOJ untuk terus menaikkan suku bunga meski perang di Iran dan gejolak harga energi menambah risiko terhadap perekonomian Jepang. IMF menilai risiko terhadap prospek ekonomi relatif seimbang dan mendukung penarikan dukungan moneter secara bertahap .
Proyeksi dasar IMF memperkirakan suku bunga kebijakan naik menjadi sekitar 1,2% pada akhir 2026 dan menuju tingkat netral sekitar 1,5% pada 2027 .
Pertemuan BOJ pada 17–18 September kini menjadi titik fokus pasar. Beberapa dinamika utama yang diperhatikan adalah:
Informasi yang tersedia belum menyebutkan tiga anggota dewan BOJ yang dijadwalkan menyampaikan pidato sebelum keputusan 17–18 September, termasuk tanggal masing-masing pidato.
BOJ biasanya menerapkan periode blackout sekitar satu minggu sebelum rapat kebijakan. Anggota dewan dapat menyampaikan pandangan pada beberapa minggu sebelumnya, tetapi jadwal resmi yang spesifik belum tercantum dalam sumber yang tersedia. Karena itu, nama-nama tersebut tidak dapat dipastikan berdasarkan bukti yang ada.
Untuk saat ini, arah besarnya cukup jelas: era suku bunga ultra-rendah Jepang telah berakhir, sementara kecepatan normalisasi kebijakan kembali menjadi fokus utama pasar.
Pelemahan yen, risiko inflasi, intervensi valuta asing bersama, dan panduan BOJ yang lebih hawkish telah membuat kenaikan suku bunga September menjadi kemungkinan nyata. Namun, sebagian besar perkiraan masih menempatkan Oktober sebagai waktu yang lebih mungkin. Keputusan BOJ nantinya akan sangat bergantung pada pergerakan yen, harga energi, upah, dan apakah tekanan inflasi benar-benar bertahan di atas target 2%.