Tekanan tambahan datang dari larangan ekspor diesel Rusia pada Juli 2026 setelah serangan Ukraina menyebabkan kekurangan bahan bakar di dalam negeri Rusia . Ini memaksa pembeli diesel Rusian untuk mencari alternatif dari pemasok AS—sebuah guncangan pasokan kedua di atas krisis Hormuz.
Rantai sebab-akibatnya sangat jelas:
Peran AS berubah menjadi pemasok global pilihan terakhir. EIA melaporkan ekspor maritim produk minyak bumi AS mencapai 6,3 juta b/d pada Januari 2026 (naik 10% tahun-ke-tahun) , dan laju ini semakin meningkat drastis setelah Hormuz terganggu.
Ekspor bahan bakar AS yang memecahkan rekor justru menguras langsung stok dalam negeri:
Ketegangan antara peran AS sebagai pemasok global kritis dan tekanan harga/inventaris domestik menimbulkan pengawasan politik yang semakin ketat terhadap kemungkinan pembatasan ekspor .
China awalnya melarang ekspor diesel, bensin, dan avtur pada Maret 2026 untuk mengamankan pasokan domestik setelah perang Iran dimulai . Hal ini justru memperburuk kekurangan bahan bakar di Asia. Tetapi seiring menumpuknya stok domestik dan normalnya impor minyak mentah, Beijing mulai melonggarkan:
Pengaruhnya terhadap dinamika perdagangan global yang terfragmentasi:
Sebagai negara pengimpor bahan bakar, Indonesia berada di posisi yang terombang-ambing. Di satu sisi, kembalinya China ke pasar Asia bisa menjadi angin segar karena menambah pasokan di kawasan dan berpotensi menekan harga beli. Namun di sisi lain, tarik-menarik pasokan global yang kacau dan biaya angkut yang lebih tinggi akibat pengalihan rute dari Timur Tengah bisa membuat harga bahan bakar impor Indonesia tetap tinggi dalam jangka pendek hingga menengah. Situasi ini mengingatkan kembali betapa rentannya ketahanan energi nasional terhadap guncangan geopolitik di belahan dunia lain.
Konten ini dirangkum dari laporan EIA, Reuters, Bloomberg, Brookings Institution, dan sumber lainnya. Simpulan akhir tetap bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah dan kebijakan energi negara-negara besar.