Faktor paling signifikan adalah strategi open-source agresif dari laboratorium AI China. Perusahaan seperti Alibaba (dengan seri Qwen), DeepSeek, dan Zhipu AI secara rutin mempublikasikan kode sumber dan bobot model (weights) mereka. Ini memungkinkan pengembang untuk mengunduh, memodifikasi, dan menjalankan model di infrastruktur mereka sendiri tanpa biaya lisensi apa pun . Ini kontras dengan biaya lisensi model Barat yang seringkali sangat mahal .
Keunggulan biaya model China sangat mencengangkan. Biaya operasional model China bisa 8–15 kali lebih murah dibandingkan model AS setara , dan dalam beberapa skenario bahkan mencapai 60–100 kali lebih murah . Sebuah analisis industri tahun 2026 menemukan rata-rata penghematan biaya operasional hingga 87% dengan penurunan kualitas hanya sekitar 4% . Sementara itu, kesenjangan performa telah menyusut drastis. Laporan Stanford AI Index 2026 mencatat bahwa kesenjangan antara model terbaik AS dan China pada berbagai tolok ukur (benchmark) runtuh dari 31% pada tahun 2023 menjadi hanya sekitar 2,7% pada pertengahan 2026 . Model China kini mencapai 92–98% performa model terdepan dalam tugas-tugas kunci seperti coding, penalaran, dan matematika .
Inilah salah satu keunggulan paling konkret. Model China terbukti lebih unggul dalam menangani bahasa-bahasa Afrika yang beragam. Seperti yang dilaporkan The New York Times, ketika Ernest Mwebaze, seorang pengembang teknologi di Uganda, ingin menciptakan asisten AI untuk petani, ia menguji model dari Meta, Google, dan Alibaba . Model Alibaba-lah yang menang karena lebih unggul dalam mengelola banyak bahasa Uganda, biayanya efektif, dan bisa disesuaikan dengan data lokalnya . Hasilnya adalah "Sunflower," sebuah alat AI yang kini digunakan luas di Uganda untuk memberikan informasi cuaca dan pertanian dalam bahasa ibu petani . Foreign Policy bahkan menyebut model China "melek huruf dalam bahasa-bahasa Afrika" dengan cara yang tidak bisa dilakukan model Barat .
Perusahaan China seperti Huawei dan Alibaba juga membangun infrastruktur cloud di Afrika dan bermitra dengan pusat-pusat inovasi lokal, membuat penerapan AI menjadi praktis di lingkungan dengan sumber daya terbatas .
Fenomena di Afrika bukanlah cerita yang berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari strategi yang lebih besar dan memiliki implikasi global yang dalam.
Komisi Perdagangan Internasional AS (USCC) menyebut dinamika ini sebagai "Dua Lingkaran" (Two Loops). Strategi open-source China menciptakan lingkaran umpan balik yang kuat: adopsi luas di seluruh dunia—termasuk Afrika—memberi makan data, bakat, dan umpan balik kembali ke laboratorium China. Ini mempercepat peningkatan kualitas model mereka sambil semakin mengokohkan ekosistemnya .
Afrika memiliki populasi termuda di dunia, cadangan mineral penting untuk perangkat keras AI, dan pertumbuhan adopsi AI yang lebih cepat dari hampir semua wilayah lain . Benua ini bukan sekadar pasar, melainkan tempat uji coba yang akan menentukan standar, nilai, dan infrastruktur AI siapa yang akan mendominasi negara-negara berkembang (Global South).
Tren ini tidak terbatas di Afrika. CNBC melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan AS juga semakin beralih ke model China karena kesenjangan performa yang menyempit dan harga yang jauh lebih murah . Ini mengikis keunggulan tradisional AS yang bisa menentukan harga premium untuk kecanggihan teknologi.
Jika model China terus menguasai adopsi default di pasar negara berkembang, dunia bisa terbelah menjadi dua tingkat: tingkat premium pimpinan AS dan tingkat volume open-source pimpinan China. Lingkaran umpan balik China yang semakin kuat berpotensi menutup celah kecanggihan teknologi sepenuhnya dalam beberapa tahun ke depan . Satu hal yang jelas: perlombaan AI kini sedang dimainkan di Afrika, dan hasilnya akan bergema di seluruh dunia.