Berikut adalah ulasan lengkap mengenai spekulasi merger AstraZeneca–Bristol Myers Squibb, bantahan resmi, dan detail di baliknya.
Pada 5 Agustus 2026, seorang sumber senior yang dekat dengan masalah tersebut memberi tahu Reuters bahwa tidak pernah ada diskusi merger antara AstraZeneca dan Bristol Myers Squibb. "Tidak ada kesepakatan" dan "tidak pernah ada kesepakatan yang akan dibuat," kata sumber itu dengan tegas, seraya menambahkan bahwa kedua perusahaan juga tidak sedang dalam pembicaraan saat ini . Bantahan langsung ini muncul tiga hari setelah Financial Times pertama kali memberitakan kabar tersebut.
Financial Times melaporkan pada 2 Agustus 2026, bahwa AstraZeneca dan Bristol Myers Squibb telah mengadakan diskusi awal dalam beberapa bulan terakhir mengenai penggabungan yang akan menciptakan salah satu perusahaan obat terbesar di dunia . Detail yang muncul:
Reaksi pasar sangat cepat dan bertolak belakang antara kedua saham :
Penjualan besar-besaran saham AstraZeneca cukup signifikan hingga membuatnya turun menjadi perusahaan terbesar ketiga di Inggris berdasarkan kapitalisasi pasar .
Para analis Wall Street secara luas menepis ide ini sebagai sesuatu yang tidak mungkin atau membingungkan:
Bahkan jika pembicaraan serius terjadi, para analis menandai adanya hambatan antimonopoli yang besar:
Setelah tiga hari spekulasi intens, seorang sumber dengan pengetahuan langsung dengan tegas membantah bahwa pembicaraan merger pernah terjadi antara AstraZeneca dan Bristol Myers Squibb . Laporan awal FT memicu penjualan besar-besaran saham AstraZeneca dan skeptisisme luas dari analis mengenai kelayakan antimonopoli, tumpang tindih produk, dan logika strategis — semuanya terbukti tidak relevan ketika kesepakatan itu dibantah mentah-mentah.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Sumber terpercaya membantah keras adanya negosiasi merger antara AstraZeneca dan Bristol Myers Squibb, menyebut 'tidak ada kesepakatan' dan 'tidak pernah ada kesepakatan'.
Sumber terpercaya membantah keras adanya negosiasi merger antara AstraZeneca dan Bristol Myers Squibb, menyebut 'tidak ada kesepakatan' dan 'tidak pernah ada kesepakatan'. Financial Times sebelumnya melaporkan kedua perusahaan telah melakukan diskusi awal untuk bergabung menjadi perusahaan farmasi senilai hampir $400 miliar (sekitar Rp6.400 triliun).
Saham AstraZeneca langsung anjlok hingga 9% karena investor khawatir akan risiko integrasi, sementara saham Bristol Myers Squibb justru naik karena dianggap sebagai target akuisisi.