Sebelum arahan Zelensky, Fedorov telah mengumumkan rencana mengontrak 25.000 UGV pada paruh pertama 2026—lebih dari dua kali jumlah yang diperoleh sepanjang 2025 . Sasaran jangka panjangnya adalah memindahkan 100% logistik di garis depan ke sistem robotik .
Ihor Shmyryov, kepala departemen UGV di Brave1—platform inovasi pertahanan Ukraina—memperkirakan jumlah akhir bahkan dapat melampaui target 50.000 unit . Pada pertengahan 2026, pesanan yang telah ditempatkan disebut sudah melebihi 22.000 unit .
UGV Ukraina terdiri atas kendaraan beroda maupun berantai, mulai dari pengangkut logistik hingga platform bersenjata. Pada pertengahan 2026, berbagai sistem tersebut telah menyelesaikan lebih dari 65.000 misi, sementara volume misi bulanan meningkat lebih dari dua kali lipat selama paruh pertama tahun itu .
Perannya juga semakin luas:
Salah satu tonggak pentingnya adalah pembentukan batalion khusus UGV yang disebut sebagai batalion kendaraan darat nirawak pertama di dunia . Dalam insiden lain, satu UGV yang dikendalikan dari jarak jauh dan dilengkapi senapan mesin mempertahankan sebuah persimpangan penting selama 45 hari di bawah serangan Rusia. Korps Angkatan Darat ke-3 Ukraina menyebutnya sebagai operasi pertahanan posisi yang sepenuhnya robotik untuk pertama kalinya .
Skala penggunaan di medan perang mendorong pertumbuhan pesat industri pertahanan dalam negeri. Hampir 300 perusahaan kini memproduksi sekitar 550 jenis UGV untuk kebutuhan logistik, evakuasi medis, penjinakan ranjau, dan pertempuran .
Trinity Robotics, salah satu produsen UGV Ukraina, berencana menggandakan produksi menjadi sekitar 2.200 unit pada 2026. Perusahaan itu juga tengah membahas kerja sama dengan mitra Prancis untuk membuka manufaktur di Prancis .
Produsen lain, Tencore, mengirim lebih dari 2.000 robot sepanjang 2025—jumlah yang disebut melampaui seluruh inventaris robotika darat yang telah dikerahkan Amerika Serikat . Hingga April 2026, Badan Pengadaan Pertahanan Ukraina telah menandatangani 19 kontrak senilai 268 juta dolar AS .
Namun, pertumbuhan jumlah model juga menimbulkan persoalan praktis. Operator Ukraina mengatakan kebutuhan mereka bukan semata-mata robot baru, melainkan lebih banyak teknisi, suku cadang, pemeliharaan, dan dukungan layanan untuk ratusan platform yang sudah digunakan .
Program “Build with Ukraine”, yang diluncurkan Zelensky pada 2025, menjadi kerangka bagi sejumlah kerja sama produksi pertahanan dengan perusahaan asing . Beberapa proyek yang menonjol antara lain:
Meski berkembang cepat, UGV bukan solusi tanpa batas. Brigadir Jenderal Andriy Biletskyi, komandan Korps Angkatan Darat ke-3 Ukraina, memperkirakan unit yang aktif mengintegrasikan UGV dapat mengurangi kebutuhan infanteri garis depan hingga 30% pada akhir 2026. Dalam jangka lebih panjang, angka itu menurutnya berpotensi mencapai 80%—tetapi infanteri tetap tidak tergantikan untuk tugas jarak dekat dan medan kompleks .
Analisis Modern War Institute di West Point menyebut Ukraina telah beralih dari eksperimen satu kali ke kemampuan UGV yang terhubung dalam jaringan dan beroperasi sebagai sebuah sistem. Namun, teknologi ini masih menghadapi kendala berupa medan yang sulit, gangguan perang elektronik, serta keterbatasan pengambilan keputusan otonom ketika berada di bawah tembakan .
Pasukan Rusia juga tetap dapat mengancam operasi robot melalui perang elektronik dan serangan drone. Karena itu, tujuan utama penggunaan UGV bukan berarti menghapus peran manusia dari perang, melainkan menjauhkan prajurit dari area paling mematikan dan menyerahkan tugas berisiko tinggi kepada mesin .
Sebuah studi dari Central Research Institute of the Armed Forces of Ukraine menyatakan bahwa penggunaan UGV telah menurunkan korban di pihak Ukraina sebesar 30% . Namun, angka tersebut perlu dibaca dalam konteks bahwa efektivitas robot sangat bergantung pada komunikasi, perawatan, kemampuan operator, dan kondisi medan.
Pengalaman Ukraina mendorong perubahan dalam pemikiran pertahanan global. Inovasi UGV yang lahir dari kebutuhan perang mulai dikatalogkan dan diselaraskan dengan standar NATO, sementara perusahaan asing membangun kemitraan produksi dengan industri Ukraina maupun di negara-negara mitra .
Model “Build with Ukraine” juga menunjukkan bentuk baru kerja sama industri pertahanan: pengalaman tempur dan pengembangan teknologi dilakukan di Ukraina, sedangkan produksi, pembiayaan, atau pemeliharaan dapat diperluas ke negara mitra .
Bagi militer yang menghadapi masalah demografi atau kesulitan rekrutmen, Ukraina menjadi studi kasus penting. Robot darat kini tidak hanya mengangkut barang di belakang garis depan, tetapi juga mendukung evakuasi, pekerjaan teknik, dan operasi pertahanan. Meski demikian, pelajaran terbesarnya mungkin bukan bahwa manusia akan segera digantikan, melainkan bahwa perang modern semakin mengandalkan kombinasi manusia, drone udara, UGV, jaringan komunikasi, dan kecerdasan buatan .