Pada 4 Agustus, harapan tersebut kembali dibayangi ketidakpastian pembicaraan AS–Iran. Sejumlah faktor fundamental yang mendukung harga minyak pun kembali menjadi perhatian pasar.
Setelah jeda singkat, militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap target-target di Iran pada akhir Juli. Hingga 4 Agustus, pasar menilai penyelesaian diplomatik masih sulit dicapai . Iran sebelumnya memperingatkan akan melakukan “serangan panjang dan menyakitkan” jika serangan kembali dilanjutkan .
Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar menaikkan premi risiko geopolitik, yaitu tambahan harga yang mencerminkan kekhawatiran terhadap kemungkinan terganggunya pasokan minyak.
Sejak 4 Maret 2026, pasukan Iran menyatakan Selat Hormuz “ditutup” dan mengancam maupun menyerang kapal yang berusaha melintas menggunakan drone, rudal balistik, serta kapal serang kecil .
Selat sempit di antara Iran dan Oman ini merupakan salah satu jalur energi terpenting di dunia. Dalam kondisi normal, sekitar 20% perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut . Namun, asuransi bagi kapal yang melintas kini tidak tersedia atau terlalu mahal, sementara awak kapal juga enggan mengambil risiko perjalanan .
Dampaknya, produksi minyak Timur Tengah telah berkurang lebih dari 11 juta barel per hari (bph) dibandingkan level sebelum konflik . Serangan terhadap kapal tanker dan aset energi juga menyulitkan pengiriman dari pesisir barat Arab Saudi, yang sebelumnya dipandang sebagai jalur alternatif penting .
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), pasar minyak global akan tetap mengalami kekurangan pasokan yang parah hingga kuartal III 2026 . Produksi minyak dunia diperkirakan turun 3,9 juta bph sepanjang 2026 . Produsen negara-negara Teluk juga menghadapi akumulasi kehilangan pasokan lebih dari 1 miliar barel .
Artinya, sekalipun pertempuran berakhir dalam waktu dekat, pasar belum tentu langsung kembali seimbang. Produksi yang terhenti, pemulihan infrastruktur, dan normalisasi lalu lintas kapal dapat membutuhkan waktu.
Administrasi Informasi Energi AS (EIA) memperingatkan bahwa persediaan minyak di negara-negara ekonomi terbesar dunia menuju titik terendah dalam beberapa dekade—level yang belum terlihat setidaknya sejak 2003 .
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol juga menyatakan bahwa cadangan minyak komersial terkuras dengan cepat dan hanya menyisakan pasokan untuk beberapa pekan . Goldman Sachs memperkirakan persediaan minyak global berkurang pada laju rekor, sekitar 11–12 juta bph pada April 2026 .
EIA memproyeksikan cadangan minyak negara-negara OECD turun menjadi sedikit di bawah 2,3 miliar barel pada Desember 2026 . Stok yang rendah mempersempit bantalan pasar. Jika terjadi gangguan pasokan baru, harga dapat bergerak lebih tajam karena cadangan yang tersedia untuk menutup kekurangan semakin terbatas.
Pelemahan dolar AS turut mendukung harga minyak pada 4 Agustus . Minyak diperdagangkan dalam dolar, sehingga dolar yang lebih lemah biasanya membuat komoditas ini relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut dapat membantu menopang permintaan dan harga.
OPEC+ mempertahankan kuota produksinya untuk membantu menjaga stabilitas harga di tengah volatilitas pasar yang ekstrem . Dengan pasokan tambahan yang tidak segera masuk ke pasar, kebijakan ini ikut membatasi ruang penurunan harga.
Gangguan tak terencana di sejumlah kilang Eropa Utara menambah keketatan pasokan produk olahan di tingkat regional. Kondisi ini dapat meningkatkan kebutuhan terhadap kargo pengganti dan secara tidak langsung menopang permintaan minyak mentah.
Brent sempat rata-rata berada di sekitar US$106 per barel pada Mei–Juni 2026 sebelum terkoreksi, menurut EIA . Proyeksi lembaga tersebut mengasumsikan lalu lintas melalui Selat Hormuz akan pulih secara bertahap dan produksi yang sempat dihentikan akan kembali, sehingga harga Brent turun menuju rata-rata US$89 per barel pada kuartal IV 2026 .
Namun, waktu pemulihan itu sangat tidak pasti. IEA memperkirakan pasar tetap kekurangan pasokan hingga kuartal III 2026. Surplus baru mungkin muncul pada kuartal IV atau setelahnya, dengan syarat tercapai gencatan senjata yang bertahan lama .
Dalam skenario penyelesaian konflik yang benar-benar kokoh, pasokan yang kembali ke pasar dapat memicu surplus besar pada 2027. IEA memperkirakan pasokan global dapat pulih kuat hingga 110,3 juta bph .
Produsen minyak dengan operasi di luar wilayah konflik—termasuk perusahaan shale AS, Laut Utara, Afrika Barat, dan kawasan Amerika—berpotensi menikmati margin yang sangat lebar ketika harga Brent tetap jauh di atas biaya impas produksi.
Di sisi lain, produsen Timur Tengah menghadapi penurunan produksi sekaligus hilangnya pendapatan. Serangan terhadap kapal tanker juga sangat menyulitkan kapasitas ekspor dari pesisir barat Arab Saudi .
Defisit pasokan yang berkepanjangan dan stok yang rendah membuat gangguan tambahan dapat mendorong Brent naik tajam. Kondisi ini mungkin meningkatkan keuntungan produsen yang tidak terdampak, tetapi juga memperbesar risiko penghancuran permintaan—situasi ketika harga yang terlalu tinggi membuat konsumen dan industri mengurangi penggunaan minyak .
Faktor paling penting bagi pasar minyak tetaplah perkembangan konflik AS–Iran. Jika tercapai gencatan senjata dan Selat Hormuz kembali dibuka, Brent kemungkinan turun tajam karena jutaan barel minyak per hari yang saat ini tertahan dapat kembali mengalir ke pasar.
Sebaliknya, eskalasi baru—terutama jika merusak infrastruktur energi Arab Saudi atau negara-negara Teluk lainnya—dapat mendorong harga Brent kembali jauh di atas US$100 per barel. Karena itu, pergerakan harga pada 4 Agustus lebih mencerminkan pasar yang masih sangat sensitif terhadap berita geopolitik, bukan berakhirnya gejolak minyak.