Namun, ketika pertempuran kembali pecah pada Juli, arah pasar berbalik dengan cepat. Amerika Serikat memberlakukan kembali blokade laut yang mencakup seluruh garis pantai, pelabuhan, dan terminal minyak Iran . Korps Garda Revolusi Iran kemudian menyatakan Selat Hormuz “sepenuhnya ditutup” .
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar seperlima minyak dunia. Lalu lintas kapal harian di jalur tersebut turun drastis, sehingga pasar segera memperhitungkan risiko pasokan yang lebih ketat .
Harga minyak mentah menjadi penggerak utama reli komoditas. Minyak Brent melonjak 9% dalam satu hari menjadi sekitar US$83 per barel pada 12 Juli setelah kabar mengenai blokade laut AS terhadap Iran .
Pada 20 Juli, Brent menembus US$90 per barel . Tiga hari kemudian, harganya mencapai sekitar US$96 per barel . Pada 24 Juli, Brent bahkan melampaui US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan, setelah konflik meluas ke Laut Merah .
Kenaikan tersebut bukan hanya mencerminkan berkurangnya arus minyak. Biaya pengiriman, premi asuransi, dan risiko kapal terjebak di kawasan konflik juga ikut meningkat.
Gangguan di Selat Hormuz kemudian diperburuk oleh ancaman dari kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran. Serangan terhadap kapal dan ancaman untuk menutup jalur minyak di Laut Merah membuka front kedua bagi perdagangan energi global .
Dengan dua jalur pelayaran strategis menghadapi risiko sekaligus, pasar menaikkan premi risiko untuk minyak dan produk turunannya. Kekhawatiran itu turut mendorong kenaikan harga bensin dan diesel.
Reli Juli paling terkonsentrasi pada sektor energi dan pertanian . Struktur harga energi yang berada dalam kondisi backwardation—ketika harga kontrak jangka pendek lebih tinggi daripada kontrak jangka panjang—memberikan imbal hasil besar pada sejumlah kontrak minyak mentah dan produk olahan .
Komoditas pertanian memperoleh dukungan tambahan dari pola cuaca super El Niño yang telah terkonfirmasi. Fenomena tersebut meningkatkan risiko gangguan pada pasokan biji-bijian dan komoditas lunak. Sementara itu, logam seperti baja melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun karena kekhawatiran terhadap rantai pasok .
Emas dan perak tetap mencatat kenaikan mingguan meskipun menghadapi sejumlah tekanan. Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan ekspektasi inflasi, sementara dolar AS yang menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang naik biasanya membebani logam mulia.
Selain itu, pasar juga memperkirakan kebijakan moneter Federal Reserve dapat menjadi lebih ketat. Namun, permintaan terhadap emas dan perak sebagai aset lindung nilai tetap bertahan di tengah ketidakpastian geopolitik yang ekstrem .
Indeks Dolar AS Bloomberg mencatat kinerja bulanan terbaiknya pada tahun tersebut di bulan Juni, dan mata uang AS tetap kuat pada Juli . Eskalasi konflik pada Juli membuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve meningkat tajam karena proyeksi inflasi kembali naik .
Kondisi ini menciptakan lingkungan yang rumit bagi obligasi dan aset yang sensitif terhadap suku bunga. Di satu sisi, investor mencari keamanan dolar. Di sisi lain, kenaikan suku bunga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan valuasi aset berisiko.
Pasar saham global bergerak beragam hingga cenderung melemah ketika lonjakan harga energi memunculkan kembali kekhawatiran stagflasi, yaitu situasi ketika inflasi tinggi berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melemah.
Harga minyak yang lebih mahal, imbal hasil obligasi yang meningkat, dan dolar AS yang menguat menjadi beban bagi indeks saham . Perusahaan yang sangat bergantung pada bahan bakar dan biaya pengiriman menghadapi tekanan margin, sementara konsumen berpotensi menanggung biaya energi yang lebih tinggi.
Analisis S&P Global Market Intelligence memperkirakan harga komoditas akan tetap berada di atas level sebelum konflik setidaknya hingga 2028, akibat kerusakan infrastruktur dan risiko geopolitik yang berkepanjangan .
Sebelumnya, Bank Dunia telah memproyeksikan harga energi naik 24% pada 2026, kenaikan tahunan terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 . Eskalasi pada Juli semakin memperkuat risiko tersebut.
UBS, Saxo Bank, dan Invesco juga menyoroti pola pasar yang sangat sensitif terhadap perkembangan diplomatik. Setiap sinyal negosiasi dapat segera diikuti eskalasi militer, membuat harga energi dan komoditas bergerak tajam dalam waktu singkat .
Bagi pasar global, persoalannya bukan sekadar apakah harga minyak akan naik atau turun pada hari tertentu. Risiko terbesar adalah sulitnya memprediksi kapan jalur pelayaran kembali normal, seberapa lama gangguan infrastruktur berlangsung, dan apakah tekanan energi akan berubah menjadi inflasi yang lebih persisten. Selama ketidakpastian itu belum mereda, komoditas kemungkinan tetap menjadi salah satu pusat perhatian utama investor.