Ada dua pemicu utama di balik reli tersebut.
Pertama, Microsoft mengalahkan ekspektasi di berbagai indikator utama. Pendapatan kuartal IV mencapai sekitar US$90 miliar, naik 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba per saham berbasis GAAP mencapai US$4,81, di atas konsensus analis sekitar US$4,24. Laba operasional tercatat US$40,6 miliar, sedangkan laba bersih meningkat 31% menjadi US$35,8 miliar .
Kedua, hasil tersebut membantu meyakinkan investor bahwa belanja besar-besaran untuk pusat data, chip, dan infrastruktur AI tidak akan menguras kemampuan Microsoft menghasilkan uang. Sebelum laporan dirilis, pasar khawatir pembangunan kapasitas komputasi akan tumbuh lebih cepat daripada arus kas perusahaan. Namun, proyeksi Azure yang kuat dan arus kas yang tetap solid meredakan kekhawatiran itu .
Sebelum laporan kinerja tersebut, saham Microsoft sempat turun hampir 30% dari level tertinggi sekitar US$555 pada Oktober 2025. Pada akhir pekan setelah laporan, sahamnya ditutup di US$464,72 dan mencatat kenaikan sekitar 21,8% dalam sepekan .
Salah satu angka terpenting dalam laporan Microsoft adalah commercial remaining performance obligation (RPO). Secara sederhana, RPO adalah nilai pendapatan dari kontrak yang sudah ditandatangani pelanggan tetapi belum diakui karena layanan atau produk belum sepenuhnya diberikan.
Nilai RPO Microsoft melonjak 84% secara tahunan menjadi US$678 miliar—kira-kira dua kali lipat pendapatan tahunan perusahaan . Sekitar US$203 miliar, atau kurang lebih 30% dari total tersebut, diperkirakan akan diakui sebagai pendapatan dalam 12 bulan ke depan .
Chief Financial Officer Microsoft Amy Hood mengatakan bahwa, jika OpenAI dikeluarkan dari perhitungan, RPO komersial masih tumbuh 25%. Berdasarkan angka tersebut, sejumlah analisis memperkirakan OpenAI menyumbang sekitar 32% dari total backlog, meski Microsoft tidak mengungkapkan nilai kontrak OpenAI secara langsung .
RPO juga bertambah lebih dari US$50 miliar dibandingkan kuartal sebelumnya. Manajemen mengatakan pertumbuhan berurutan itu terutama berasal dari pelanggan selain pengembang model AI besar. Detail ini penting karena mengurangi kekhawatiran bahwa prospek pendapatan Microsoft terlalu bergantung pada satu mitra, termasuk OpenAI .
Pendapatan Azure dan layanan cloud terkait tumbuh 43% pada kuartal tersebut. Untuk kuartal berjalan, Microsoft memperkirakan pertumbuhan sekitar 45% berdasarkan kurs konstan, lebih tinggi daripada konsensus analis sekitar 40,9% .
Untuk pertama kalinya, pendapatan Azure melampaui US$100 miliar dalam satu tahun fiskal . Secara keseluruhan, pendapatan Microsoft Cloud mencapai US$59,3 miliar pada kuartal IV, naik 27% secara tahunan .
Pertumbuhan juga terlihat pada produk AI yang digunakan pelanggan bisnis. Microsoft 365 Copilot, asisten AI untuk pekerjaan, kini memiliki lebih dari 30 juta kursi berbayar, naik dari lebih dari 20 juta pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, GitHub Copilot telah mencapai 50 juta pengguna .
Microsoft membelanjakan US$41 miliar untuk belanja modal pada kuartal IV, termasuk pembangunan pusat data. Angka itu naik 69,4% dibandingkan setahun sebelumnya . Untuk tahun fiskal 2026, total belanja tersebut mencapai US$145,3 miliar .
Perusahaan juga mengumumkan perubahan cara mencatat sewa jangka panjang untuk pusat data. Masa manfaat pusat data dan gedung kantor kini dihitung selama 25 tahun, bukan 15 tahun. Perubahan ini membuat lebih banyak komitmen sewa masa depan diklasifikasikan sebagai sewa operasional, yang tidak masuk dalam angka belanja modal yang dilaporkan .
Akibat perubahan akuntansi itu, proyeksi belanja modal yang dilaporkan untuk tahun kalender 2026 turun menjadi sekitar US$175 miliar, dari sebelumnya sekitar US$190 miliar. Namun, Microsoft menegaskan bahwa rencana investasi sebenarnya tidak berubah. Penurunan US$15 miliar tersebut merupakan dampak pencatatan, bukan pemangkasan belanja infrastruktur AI .
Untuk kuartal I fiskal 2027, Microsoft memperkirakan belanja modal yang dilaporkan sekitar US$50 miliar—di bawah perkiraan analis sebesar US$56,02 miliar, tetapi tetap menunjukkan skala investasi yang sangat besar .
Laporan Microsoft muncul di tengah pekan yang memperlihatkan perbedaan tajam di antara perusahaan teknologi berkapitalisasi besar, yang kerap disebut kelompok Magnificent Seven.
Microsoft dan Amazon mendapat respons positif—masing-masing naik sekitar 8% dan 10%—karena berhasil menghubungkan belanja modal AI yang tinggi dengan pertumbuhan cloud dan permintaan yang terlihat jelas .
Sebaliknya, saham Meta turun 9,64% dan Alphabet, perusahaan induk Google, merosot 15% setelah investor menilai biaya infrastruktur mereka belum diimbangi percepatan pendapatan yang memadai . Alphabet melaporkan arus kas bebas negatif untuk pertama kalinya, sementara Meta mengungkapkan penurunan 91% dalam kemampuan menghasilkan kas dibandingkan tahun sebelumnya .
Pesan pasar dari rangkaian laporan ini cukup jelas: belanja AI yang besar saja belum cukup. Investor ingin melihat bukti bahwa investasi tersebut menghasilkan pendapatan, kontrak pelanggan, dan arus kas. Dalam kasus Microsoft, backlog US$678 miliar, pertumbuhan Azure 43%, serta proyeksi yang kuat memberi pasar alasan untuk percaya bahwa investasi AI perusahaan mulai berubah menjadi permintaan komersial yang nyata.